oleh

Peringatan 04 Desember dan Amanah terahir Wali Tgk Hasan M.di Tiro

 

 

Bener Meriah Baranewsaceh.co |  Selamatkan Hutan Aceh !, Itulah kalimat terakhir sebagai amanah dari deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) TGk. Hasan M. di Tiro. Tindak lanjut dari amanah tersebut, anggota DPRK Bener Meriah dari Partai Aceh Yuzmuha, kepada media ini mengatakan, akan menerapkan Green Economy serta akan menghibahkan 10.000 (Sepuluh ribu) Pohon Produktif. Yuzmuha juga menyampaikan bahwa tanggal 4 Desember, adalah hari yang paling bersejarah bagi para mantan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Jumat 04 Desember 2020.

Disebutkannya dalam buku The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan Di Tiro, deklarator GAM itu menukilkan bahwa deklarasi kemerdekaan Aceh harus dilakukan pada tanggal 4 Desember, karena alasan simbolis dan historis.

Pada tanggal tersebut setiap tahun diperingati sebagai hari kelahiran organisasi GAM yang diproklamirkan Dr Teungku Hasan Muhammad Di Tiro
Deklarasi GAM itu diumumkan Hasan Tiro kepada dunia di Bukit Tjokkan, pada tanggal 4 Desember 1976.

Mengenang amanah terahir wali di secarik kertas pada tanggal 15 juli 2009 yang berisikan amanah bagi rakyat Aceh yang begitu penting Tak lama dari situ wali sudah sering sakit dan kemudian Tanggal 3 Juni 2010 yang kala itu jatuh pada hari Kamis, menjadi hari terakhir kebersamaan Dr Tgk Muhammad Hasan Di Tiro dengan rakyat Aceh.

Di secarik kertas tersebut bertuliskan Peuseulamat uteun Aceh, sabab uteuen njan nakeuh salah saboh pusaka keuneubah endatu njang akan tapulang keu aneuk tjutjo geutanjoe di masa ukeu.”

(selamatkan hutan Aceh, karena hutan itu merupakan salah satu pusaka nenek moyang yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kelak).”

Kerusakan yang dibuat sekarang akan diwariskan kepada generasi mendatang. Merekalah yang kelak menanggung akibat dari kerusakannya, begitu juga sebaliknya maka menyelamatkan hutan adalah kewajiban bagi seluruh rakyat aceh yang akan kita wariskan kepada anak cucu mereka kelak di masa yang akan datang.

Pada saat itu Melihat antusiasnya almarhum Tgk. Hasan Tiro berbicara tentang penyelamatan hutan, perdana menteri malik Mahmud,dr. Zaini Abdullah, Ustadz Muzakkir, dan Syarif Usman pun, menyarankan kepada Tgk. Hasan Tiro untuk menulis secarik amanah bagi rakyat Aceh, mengenai arti penting menjaga hutan. “Mengenai pembangunan Aceh, Wali berpesan agar pembangunan Aceh ke depan harus berbasis pada konservasi dan penyelamatan hutan,”

Pada saat itu surat amanah tersebut diserahkan oleh almarhum paduka yang mulia Tgk. Hasan Tiro melalui Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL), Fauzan Azima sekaligus panglima GAM wilayah linge yang selama ini telah banyak mendidik dan mengajari saya ilmu mulai dari Gerilya hingga menjadi politisi ,Surat tersebut diteruskan kepada sejumlah pihak, termasuk Jubir Partai Aceh, Tgk Adnan Beuransyah, dan Sekretarian Aceh Green.

Atas amanah terahir almarhum wali tgk hasan tiro dengan Isu lingkungan hari ini, seperti perubahan iklim, kini dianggap sebagai tantangan kemanusiaan terbesar yang mengancam kemajuan pembangunan dan peradaban hari ini, inilah yang menjadikan kita merasa berkewajiban terhadap semua harta yang kita miliki yang akan kita wariskan kepada generasi penerus anak dan cucu kita dimasa yang akan datang.

Disisi Kompleksitas tersebut mencerminkan kesadaran saya pribadi mengenai keterkaitan yang kuat antara lingkungan dan seluruh aspek kehidupan, dan pada ujungnya eksistensi umat manusia di atas Bumi. Kompleksitas tersebut pula menuntut penanganan yang disertai perspektif dan keahlian yang komprehensif, partisipasi semua pihak, dan keterpaduan dari semua unsur untuk melindungi hutan yang kita miliki

Yuzmuha mendukung penuh pelestarian hutan dan lingkungan hidup di Aceh di sisi lain Kelestarian lingkungan tersebut, harus memberi manfaat bagi masyarakat yang berada di Aceh selama ini, menurutnya, ada pemahaman yang berbeda, seakan-akan kalau sudah konservasi atau lindung, tidak boleh memanfaatkan.

Yuzmuha menjelaskan ada banyak masalah dalam pengelolaan hutan di Aceh selama ini di antaranya adalah konflik kewenangan antara Pemerintah Aceh dengan pemerintah pusat di Jakarta.

Selain itu hilangnya tutupan dan menurunnya kualitas hutan, akses masyarakat yang masih minim, konflik lahan, dan kurangnya manfaat yang diterima oleh Aceh dalam pengelolaan hutan.

Oleh karena itu ia berharap kepada ketua DPRA dahlan dan ketua Fraksi PA sebagai perwakilan kami di DPRA perbaikan tata kelola kehutanan harus menggabungkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya di sisi lain tata ruang Aceh harus mempertimbangkan kekhususan dan keistimewaan Aceh.

Selain itu juga ia berharap harus ada penyelaraskan wilayah perkampungan dan perkotaan, pesisir, pegunungan dan kepulauan, serta menciptakan masyarakat Aceh yang sejahtera.

Karena itu hutan bagian kewenangan provinsi maka Revisi terhadap Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Aceh harus melalui proses pengkajian yang cermat, menyelesaikan masalah, serta mempertimbangkan kebutuhan Aceh yang berkelanjutan seperti yang telah di amahkan oleh paduka yang mulia almarhum wali tgk muhammad hasan di tiro,tambahnya

Dengan isu global warning keseimbangan alam,dan cuaca semakin exstrim saya bersama istri dan anak sudah berinisiatif sisihkan sebahagian gaji dan penghasilan kebun untuk menanam pohon produktif seperti alfukat dll mulai dari persemaian benih,pengisian Polybac,penanaman dan dan perwatan hingga siap tanam dan saya selalu memberitahu kepada anak2 bahwa menanam pohon adalah masa depan yang lebih berkelanjutan.

sebahagian dari pohon2 itu akan di tanam pada tempat anak sekolah yaitu SDIT Almanar kenawat dan SPMIT Azzahra Tkn pohon yang di tanam disana adalah jenis buah alfukat nanti kalau sudah berbuah pasti bisa membantu sedikit bantuan untuk anak yatim dan kurang mampu pohon tersebut juga sumbangkan karbon.

Alhamdulillah hari ini sudah ada10000 pohon produktif jenis tanaman alfukat yang akan disumbangkan dan varietas ini kami namai gayo montain I, insya allah pada tahun 2021 sudah kita lepas varietasnya bersama pertanian dan lembaga sertifikasi sumatera utara benih pohon ini berasal dari pokok induk peninggalan kakek kami mungkin sudah berumur 120 tahun dan benih ini akan kita hibahkan kepada sebahagian kecil masyarakat.

baik masyarakat yang ada di tepi hutan untuk menyulam tumbangan yang sudah gundul juga dapat memberi hasil kepada masyarakat,pedesaan mungkin akan di tanam di sepanjang jalan produksi dan kabupaten dan di kawasan perkotaan sekalipun.

Ia menambahkan walaupun jumlah tersebut tidak begitu signifikan dan dapat menyelesaikan persoalan hari ini akan tetapi ini bagian dari upaya dan semagat untuk melindungi alam kita dengan gerakan menanam pohon demi ekonomi yang hijau dan berkelanjutan dan mewujudkan amanah Alm tgk hasan tiro.

Green economy sudah kami mulai bersama keluarga istri dan anak pada akhirnya akan menjadi isu-isu dari daerah maju semata dan negara-miskin atau berkembang yang tidak ikutan malah dituduh atau dianggap merusak lingkungan,” jelasnya.

Lingkungan PBB (UNEP; United Nations Environment Programme) dalam laporannya berjudul Towards Green Economy menyebutkan, ekonomi hijau adalah ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Ekonomi hijau ingin menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam. Sehingga dalam kalimat sederhana dapat diartikan sebagai perekonomian yang rendah karbon (tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan), hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial.

Sehingga ekonomi hijau memiliki pengertian yang jauh lebih luas dari ekonomi yang “lain”. Yang membuat ekonomi hijau ini berbeda dengan ekonomi lainnya adalah sumber daya alam yang dipakai dianggap sebagai kewajiban untuk membangun kembali lingkungan dan menghasilkan bagi masyarakat; tutupnya. (Redaksi).

News Feed