oleh

Perilaku Berisiko HIV Positif Akibat Narkoba Suntikan

 

Oleh : Subhan Tomi,  Masyarakat Peduli Kesehatan

BARANEWS | Penanggulangan HIV/AIDS merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Kementerian Kesehatan No. 21/2013 tentang HIV AIDS. Disebutkan pemerintah menetapkan pencapaiaian target Three Zero pada tahun 2030 untuk pengendalian epidemi HIV / AIDS di Indonesia yang meliputi:

  1. Zero infeksi HIV baru
  2. Zero kematian karena AIDS pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)
  3. Zero diskriminasi

Ketiga target ini dapat dicapai dengan memantau status pengobatan antiretroviral (ARV) pada ODHA melalui pemeriksaan viral load.

Viral load merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk melihat efektivitas terapi ARV pada ODHA. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun merekomendasikan pemeriksaan viral load HIV (VL HIV) sebagai metode untuk memonitor efektivitas pengobatan.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, estimasi ODHA pada tahun 2020 adalah sebanyak 543.075 yang tersebar di seluruh Indonesia.

Siapa saja yang berisiko tertular HIV?

Semua orang berisiko tertular HIV terutama karena adanya perilaku berisiko seperti :

  • Pria risiko tinggi yaitu pria yang berpotensi membeli seks komersial
  • Lelaki seks lelaki dan waria
  • Wanita Pekerja Seks
  • Pengguna Napza suntik secara bersama
  • Bayi dan anak–anak yang lahir dari orangtua dengan HIV

Perilaku Berisiko HIV Positif Akibat Narkoba Suntikan

 

Secara umum penggunaan narkoba suntik adalah penyalahgunaan narkotika yang cara mengkonsumsinya dengan cara memasukkan ke dalam tubuh melalui alat bantu jarum suntik.

Penasun atau pengguna narkoba suntik sering disebut juga dengan IDU (Injecting Drug User) berarti individu pengguna obat-obatan terlarang (narkotika) yang digunakan dengan cara disuntikkan menggunakan alat suntik ke dalam aliran darah.

Narkotika yang sering dipakai adalah jenis narkotika  heroin yang pada kadar lebih rendah dikenal dengan sebutan putaw. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2019 tentang perubahan penggolongan narkotika, heroin termasuk ke dalam narkotika golongan I. Ini artinya heroin hanya dapat digunakan untuk kepentingan riset atau pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan untuk terapi.

Pengguna Napza suntik (penasun) memainkan peranan yang penting dalam penyebaran HIV di Indonesia. Kelompok ini bukan saja memiliki risiko tinggi terinfeksi karena perilaku berbagi jarum suntiknya, tetapi juga memiliki risiko akibat hubungan seksual berganti pasangan dan tidak menggunakan kondom.

Sebenarnya masalah hubungan antara narkotika dan HIV-AIDS sudah dikenal di Amerika sejak awal epidemi AIDS. Negara adidaya itu sudah concern bahwa memakai narkotika suntikan merupakan prilaku berisiko terinfeksi HIV yang juga diakibatkan hubungan seksual secara bebas.

Dilaporkan pada 1 januari 2016 tercatat ada 183.359 orang dengan AIDS di Amerika yang tertular melalui jarum suntik tidak steril. Termasuk diantaranya pecandu (161.891), pasangan seks (18.710) dan anak-anak mereka (3.758). Angka tersebut 36 % dari total kasus AIDS di Amerika.

Berdasarkan data Kemenkes RI akhir tahun 2017, faktor penularan virus, disusul oleh pengguna narkoba suntik (penasun), sebesar 10,5 %. Lainnya adalah homoseksual, biseks, perinatal, transfusi, dan tidak diketahui/teridentifikasi.

Epidemi HIV di Indonesia saat ini terkonsentrasi pada populasi kunci (key affected population). Terdapat 2 (dua) jalur penularan terpenting (1) hubungan seks heteroseksual tanpa pelindung, utamanya dikalangan mereka yang memiliki banyak pasangan seks, dan (2) prilaku penggunaan jarum suntik dikalangan pecandu narkotika.

Dampak dari prilaku penggunaan narkoba ialah penularan HIV. Di Indonesia, narkoba suntik masih menjadi salah-satu moda penularan HIV yang diperhatikan. Untuk menunggalanginya, Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI merancang Program Pengurangan Dampak Buruk Komprehensif dan Terpadu yang memadukan berbagai komponen intervensi mulai dari layanan alat suntik steril, hingga terapi ARV dan terapi koinfeksi TB + Hepatitis.

Untuk itu Pemerintah mengeluarkan Permenkes no 55/2015 dalam menangani dual epidemi HIV-Narkoba. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Seperti yang kita ketahui, tubuh manusia memiliki sel darah putih (limfosit) yang berguna sebagai pertahanan tubuh dari serangan virus maupun bakteri.

Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa (47% dari estimasi ODHA jumlah orang dengan HIV AIDS tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa) dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757).

Menjadi tanggungjawab kita bersama saat ini menjadi garda terdepan didalam perang melawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dimana jenisnya cara penyebaran nya terus bertambah serta tidak terjadi diskriminasi terhadap ODHA dan penasun sehingga mereka memiliki motivasi untuk hidup lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

News Feed