oleh

Perang Total Model Era Milenial

-HEADLINE, OPINI-1.395 views

(Bagian ketiga)

Atas dasar rasa dan logika serta aksl sehat serupa itu maka sistem tata kelola negara dan bangsa Indonesia yang masih tetap mengabaikan peranan masyarakat adat dan keraton, patut diperbaiki, karena tidak saja telah memperlemah ketahanan serta pertahanan budaya bangsa, tapi juga ikut membuat ketahanan serta pertahanan ekonomi dan politik bangsa dan negara Indonesia dalam arti luas untuk ikut serta membangun jsdi terbonsay seperti tanaman penghias taman.

Dosa sejarah yang harus ditanggung oleh generasi milineal sekarang adalah karena telah membiarkan kondisi yang makin mremburuk terus terjadi hari ini akibat kelalaian generasi masa lalu yang terus berkelanjutan sampai sekarang. Akibatnya, anak-anak bangsa ysng ada seperti tidak hidup di negerinya sendiri

Kondisi yang memprihatinkan ini terus berlanjut tanpa pernah ada yang mau serius menghentikan. Karenanya potensi besar yang kita miliki dari masyarakat adat dan keraton yang selama ini tidak difungsikan sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, patut dan layak diberi peranan agar dapat memberi manfaat sesuai dengan potensi dan kemampuan serta bobot dari kapasitasnya yang telah teruji oleh sejarah.

Memang beban psikolohis yang terkesan dari keberadaan masyarakat adat dan keraton selama ini terlanjur distigma negatif dan kolot bahkan feodal, toh simbol sejarah kebesarannya justru dijadikan semacam ikon oleh sejumlah perguruan tinggi kita yang memiliki kualitas akademik yang cukup dapat dipercaya bobot intelektualitasnya. Mulai dari Gajah Mada University (di Ngayigyakarta Hadiningrat), Pajajaran ( Bandung), Udayana (Bali) dan Universitas Diponegoro (Semarang) hingga Sriwijaya (Palembang) dan Hasanuddin dan Tuddulako (Makassar) atau Empu Tantular (di Jakarta), cukuplah meyakinkan bila sejarah masa silam negeri kita sesungguhnya memiliki banyak keunggulan yang tak cuma sebatas fisik, tapi juga berupa metafisik yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Masa jaya dalam bidang politik kekuasaan misalnya sudah dibuktikan oleh sejarah bersama masa kejayaan rempah-rempah yang melimpah.

Agaknya terlalu naib bila cakrawala pandang intelektual kita tidak mampu melihat kebesaran sejarah masa silam yang telah dicatat oleh sejarah. Masa puncak dari keunggulan para leluhur kita pun bukan mitos bila pernah menjadi penguasa laut ysng termasyhur ketangguhan dan keunggulannya ysng disertai oleh kemampuannya dalam teknologi kapal layar yang khas dengan tradisinya yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di muka bumi ini. Terutama dalam strategi berperang, menata sistem pemerintahan hingga negeri leluhur kita berjuluk toto tentrem loh jinawi. Begitu pun sosok keperkasaannya di laut dengan perahu layar kayu yang Phinisi telah memukau kekaguman dunia sampai gari ini.

Lalu masalahnya, mengapa semua itu cenderung dilupakan, hingga keterpurukan semakin menjadi-jadi karena ikut hanyut dalam arus budaya asing yang memang tak memiliki akar budaya dan tradisi agratis dan maritim. Ironisnya, Angkatan Laut kita pun setelah semua negeri bergabung dalam Negara Kesatuan Relublik Indonesia laut kita pun jadi berada dibawah kekuasaan pelaut asing. Lalu masih adakah simbolika dari sejarah masa lalu para lekuhur kita itu masih meninggalkan trauma budaya yang tidak lagi meniliki nilainya yang positif ?

Banten, 12 Juni 2019

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed