oleh

Pentingnya Perhatian Pemerintah Terhadap Pembangunan Pertanian Pada Musim Kering Di Aceh

 

Pemerintah merupakan lembaga negara yang bertugas menyelenggarakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) kepada warga negara/ masyarakatnya demi mencapai taraf hidup yang terus meningkat sampai kepada kesejahteraan lahir dan batin. Salah satu strategi pencapainnya yakni dengan fokus perhatian kepada pembangunan bidang pertanian yang menjadi lokus dominan profesi/ pekerjaan  masyarakat di aceh.

Perubahan iklim (global warming) merupakan kejadian alam dalam skala besar dari sisi perubahan suhu dan kelembaban udara yang berakibat kepada terganggunya kehidupan tanaman yang diusahakan oleh petani kita khusus nya tanaman pangan komoditi padi. Kejadian ini akan menimbulkan effek ganda negative/ merugikan, seperti tanaman mati karena kekurangan air dan serangan hama dan penyakit yang lebih besar dan bervariasi.

Hal tersebut penting diamati dan dilaporkan oleh setiap penyuluh pertanian sesuai dengan wilayah kerja (wilker) mereka masing- masing sebagai masukan kepada pengambil kebijakan baik di daerah maupun pusat. Dengan adanya laporan yang valid dan komprehensif akan menjadi input/ masukan untuk dijadikan sebuah program kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat tani yang mengalami kegagalan panen/ puso saat terjadi kekeringan ekstrim didaerahnya.

Hasil pengamatan yang dilakukan oleh teman- teman di BPP Kuta Cot Glie aceh besar terhadap 31 desa/ gampong mulai dari desa bak sukon sampai dengan lam kleng dari luas total 2765 Ha areal persawahan terdata dampak kekeringan per 16 januari 2020  (masa tanam rendengan 2019 – 2020) adalah sebagai berikut:

  1. Dampak kekeringan ringan 316 Ha
  2. Dampak kekeringan sedang 202 Ha
  3. Dampak kekeringan berat 221 Ha
  4. Puso 526 Ha dan
  5. Waspada 554 Ha ( kering belum menunjukkan intensitas)

Dari laporan tersebut ada 1265 Ha (hasil penjumlahan mulai dari dampak kekeringan ringan sampai dengan puso) yang menjadi perhatian kita semua untuk mengembalikan semangat petani dan petugas pertanian disana (penyuluh, mantra tani, POPT) mengingat besarnya kerugian yang dialami oleh masyarakat tani di sana.

Adapun harapan koordinator bpp cot glie ( Zihful AlMihri, A.Md) yaitu adanya perhatian pemerintah (daerah dan pusat) untuk memberdayakan kembali petani disana pada saat musim tanam jika kondisi lahan sudah normal kembali, seperti pengadaan bibit tanaman yang sesuai dengan kondisi pertanaman (basah/ kering dan sawah/ ladang), pupuk, obat-obatan, alat/ mesin pertanian, jaringan irigasi dan insentif khusus bagi petugas lapangan yang menangani program kegiatan tersebut. Jika hal ini bisa terlaksana tentu saja akan menimbulkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh aparatur yang ada di BPP cot glie dan dampak percaya diri mereka dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang selama ini menjadi beban kerja dan kinerja nya.

Tentu saja kejadian seperti ini yang terjadi di kecamatan cot glie juga dialami oleh daerah lainnya yang ada di aceh juga mengharapkan perhatian yang sama demi melaksanakan fungsi kita selaku aparatur negara yaitu:

  • Pelayanan yang adil bagi semua warga negara/ masyarakat
  • Pemberdayaan yang mandiri bagi semua warga negara/ masyarakat
  • Pembangunan yang sejahtera bagi semua warga negara/ masyarakat

Pelaksanaan fungsi aparatur secara baik dan benar harapannya akan terwujud ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan di aceh hendaknya. Aamiin Ya Rabbal’Alamin.

 

News Feed