oleh

Pensiun Bukanlah Segalanya Mantan Camat Bukit Kamaruddin Kembangkan Tanaman Jagung di Tembolon

Bener Meriah,  Baranewsaceh.co –  Setelah mengabdikan diri lebih kurang selama 36 tahun sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Kamaruddin.BA mantan Camat bukit dan Camat Syiah Utama, kini mulai beralih profesi sebagai petani murni di Kampung Tembolon kacamatan Syiah Utama.

Sosok penggemar musik ini, akhirnya memilih kembali ke tempat di mana dia tumbuh dan di besarkan. “Tembolon sebuah kampung tua yang berada di lintas jalan Samar Kilang Kecamatan Syiah Utama Kabupaten Bener Meriah.

“Sejak dulu saya hobi bertani, tapi karena keterikatan saya sebagai Aparatur sipil negara, semua terpaksa di urungkan. Kini setelah memasuki masa pensiun, apa yang menjadi keinginan saya dulu, kembali saya wujudkan. Bertani, ungkapnya. saat di kunjungi di Kampung Tembolon. Minggu (17/11).

Diatas lahan seluas 2 hektar, yang merupakan bekas areal sawah diera tahun 60 an. Lahan tersebut kini telah di olah dan di tanami Jagung hibrida jenis Vioner dalam posisi menjelang panen. Lalu bagaimana sebenarnya prospek bercocok tanam jagung.

Berdasarkan penuturannya. “Alasan utama Ia menanam jagung, karena menurut Kamaruddin, bercocok tanam jagung memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan. Sebenarnya Ia enggan untuk di publis oleh media ini, akan tetapi karena apa yang dia lakukan adalah sebuah trobosan baru bagi masyarakat Bener Meriah, maka mau tidak mau Kamaruddin juga mengamin ni ketika wartawan media ini mewawancarainya.

Berdasarkan uji coba yang telah di lakukannya diatas lahan seluas 5 rante bisa menghasilkan 4 ton jagung kering siap pipil, nah..anda tinggal menghitung dalam satu hektar ada 16 rante. Diperkirakan dalam satu hektar jagung dapat menghasilkan 14 ton gabah kering, siap pipil. Kamaruddin juga menjelaskan bahwa, proses pemipilan jagung sudah tidak lagi manual karena sudah tersedia mesinnya.

Cuma pada saat proses penanaman Jagung kita butuh tenaga kerja secara bergotong royong. Hal ini di maksud agar pertumbuhan tanaman Jagung serentak dan merata. Selain itu biaya kerja juga bisa di tekan, disamping menggalakkan kembali tradisi budaya orang Gayo yaitu ” Beluh sara loloten, Moen sara tamunen” intinya budaya gotong royong.

Disisi lain Kamaruddin juga mengatakan di sini masih lahan baru, tentu belum membutuhkan pupuk yang banyak. Kita hanya mengeluarkan biaya dalam hal pengadaan bibit. Selain itu adanya mesin pemipil jagung, setidaknya telah mempermudah cara kerja dan mengurangi biaya produksi.

Sebenarnya sewaktu saya menjabat sebagai camat Syiah Utama, saya sudah mengarahkan masyarakat di sini untuk bercocok tanam jagong. Alhamdulillah para junior saya juga memiliki program yang sama. Hasilnya boleh di bilang kampung Tembolan sekarang adalah kampung Jagongnya Bener Meriah.

Kamaruddin juga menuturkan terkait harga Jagung di pasar berkisar antara Rp 3500 (Tiga ribu limaratus) hingga Rp.4500; (Empat ribu lima ratus rupiah). Sedangkan dalam satu hektar lahan Jagung, bisa menghasilkan 14 ton jagung kering siap pipil. Namun itupun tergantung jenis bibit yang di tanam. Untuk daerah berhawa panas seperti di Tembolon, sepertinya bibit Jagung jenis Vioner sangat cocok.

Secara kalkulasi dalam rentang waktu 4 bulan, petani Jagung sudah bisa menghasilkan Rp 49.000.000 (Empat puluh sembilan juta rupiah) dengan dasar harga pasar Rp 3500 rupiah.

Kamaruddin juga menyampaikan tentang banyaknya keluhan masyarakat terkait adanya hama babi hutan. Hal ini dapat di maklumi karena daerah Tembolon masih di kelilingi hutan. Tetapi Kamaruddin kembali menimpali, bahwa hal tersebut akibat tidak adanya pola tanam yang serentak. “Semakin banyak petani yang menanam Jagung maka akan semakin kecil pula peluang adanya gangguan hama”. Jelasnya.

Kamaruddin juga berharap kepada pemkab Bener Meriah, khususnya bagi daerah daerah yang berhawa panas agar di galakkan bercocok tanam Jagung jenis hebrida. Selain prospek ekonominya menjanjikan, disisi lain masyarakat juga bisa diarahkan ke alternatif lain selain kopi dan palawija lainnya. Pungkasnya. (DN).

News Feed