oleh

Penghasilan Juru Parkir Di Kantor Cabang Bank Danamon Kota Langsa

 

 

LANGSA, BARANEWSACEH.CO | Untuk memenuhi kebutuhan pokok dan sekunder setiap orang, manusia melakukan sebuah usaha seperti bekerja. Di dunia ini terdapat berbagai macam profesi pekerjaan. Ada yang bekerja sebagai pemilik perusahaan, dokter, perawat, abdi negara, pegawai kantoran, pedangang, wartawan, buruh, petani, tukang becak, tukang bangunan, tukang sapu jalanan sampai ke tukang parkir. Semua itu dilakukan untuk memenuhi aspek finansial(keuangan) yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di kehidupan perkotaan, juru parkir menjadi salah satu pekerjaan yang mudah ditemui di pusat keramaian. Mereka berada Di setiap kantor atau perusahaan ataupun di tempat-tempat wisata, mereka bekerja dari pagi hingga malam demi kenyamanan dari pada pengunjung tempat di mana mereka bekerja pada saat itu. Dari mulai mengarahkan kemana pengunjung akan memarkir kendaraannya, menjaga kendaraan tersebut, sampai pengunjung selesai dan menganbil kendaraannya kembali. Walaupun dengan upah yang tak seberapa mereka tidak pantang menyerah dengan keadaan demi terpenuhinya aspek finansial dalam rumah tangga.

Berdasarkan hal tersebut, kami tertarik ingin mewawancarai tukang parkir tersebut. Dikarenakan banyak tempat wisata atau kantoran yang libur selama bulan Ramadan, sehingga sedikit pula kami mendapati tukang parkir di jalan yang kai lewati. Hingga sampai lah kami di tengah kota tepatnya di Jl. Teuku Umar. Wawancara kali ini kami lakukan dengan seorang juru parkir wanita yang bertugas di depan kantor cabang bank danamon langsa, dengan ibu yang bernama ibu Nursaina (41 tahun) yang kerab di sapa dengan ibu Ina. Ibu Ina sudah berkerja selama kurang lebih sepuluh tahun lama nya, dengan penghasilan yang tak seberapa beliau berhasil menghidupi tiga orang anak bersama suami nya yang berkerja sebagai seorang nelayan, satu diantara tiga anak nya sudah lulus sekolah sedangkan dua orang lagi masih duduk di bangku sekolah dasar. Ibu Ina dulu nya tinggal di rumah potong, tapi sekarang sudah tinggal di timbang langsa. Beliau pulang-pergi menggunakan motor milik pribadi meskipun masih kreditan.

Bekerja setiap harinya sebagai tukang parkir beliau mampu menghasilkan uang paling  banyak Rp.100.000/hari, itu sebelum pandemi Covid-19 ini. Sedangkan selama masa pandemi, bu ina mengatakan “ibu cuma dapat paling banyak Rp.50.000-Rp.60.000/hari itu juga belum di potong untuk setoran sebanyak Rp.25.000-Rp.35.000/hari. Jadi sisanya ya hanya tinggal Rp.35.000 saja untuk beli beras, sayur-mayur, kalau ikan sudah dibawa pulang sama suami, ya walaupun cuma ikan-ikan kecil.” Tuturnya. Ketika ditanyai apakah cukup dengan pendapatan yang terbilang sedikit tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehati-hari? beliau menjawab “ya cukup ga cukup di cukup-cukupin, hehe” tegasnya sembari tersenyum. Dari beliau kita belajar arti syukur yang sebenarnya, mampu bahagia walau dalam ketidakcukupan.

 

Selain ibu ina yang berkerja pada shift malam di kantor cabang bank danamon langsa ada petugas juru parkir lainnya ,yang berkerja pada shift pagi hingga siang. Beliau bernama Supariem (52 tahun) yang kerap di panggil (iem. Berbeda dengan ibu ina, ibu iem ini bisa  kita katakan sebagai tulang punggung keluarga, beliau yang menghidupi 2 orang anaknya yang sudah beranjak dewasa, sedangkan suaminya bukan lah seorang pekerja tetap. Ibu iem sudah menjadi juru parkir sejak tahun 2001 hingga sekarang, kurang lebih sudah 20 tahun lamanya. Beliau tinggal di Alur dua, Kota Langsa. Ketika ditanyai terkait berapa pendapatan ibu dalam seharinya? Ibu itu menjawab “ ya ga menentu, kadang kalau lagi rame ya dapet sehari itu di atas Rp.50.000 itu pun di hari senin- jum’at, kalau sabtu sampai minggu sepi karna ga ramai pendatang jadi penghasilannya di bawah Rp.50.000 paling ya dapat Rp.30.000/hari.”

Jadi, dari hasil wawancara dengan dua wanita pekerja keras yang berprofesi sebagai tukang parkir, dapat di tarik kesimpulan bahwa Covid-19 ini sangat berpengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat, khususnya bagi juru parkir yang sangat bergantung kehidupannya hanya pada perkerjaan tersebut. Banyak keluhan yang keluar dari mulut masyarakat, begitu pun dengan tukang parkir. Mereka mengeluhkan tentang pemasukan yang akhir-akhir ini menurun karena Covid-19 yang mengikis hampir setengah dari pendapatan yang biasa bisa didapat. Di mana hasil pendapatannya mereka harus dipotong biaya setoran yang harus di berikan kepada dinas perhubungan (Dishub) Kota Langsa setiap hari nya dan dimasukkan ke kas daerah melalui dinas perhubungan.

Selain keluhan dari pihak tukang parkir, banyak keluhan dari para pengunjung yang mengatakan “ Cuma ditinggal sebentar tapi tetap harus bayar upah parkir Rp.3000.” Tutur ulfa, salah satu pengunjung. Selain itu juga mukanya pas mintain uang juga cemberut begitu.” Sambungnya menggambarkan wajah si Juru parkir ketika meminta uang upah.

Selain itu, kita juga dapat mengambil pelajaran kesabaran, kegigihan, dan juga syukur akan pemberian dari kedua wanita kuat di atas. Walau tidak sedikit pula tukang parkir yang sikapnya masih kurang bagus terhadap pengunjung, namun semua hal itu tidak dapat menghilangkan rasa bangga terhadap kegigihan mereka dalam mencari rezeki untuk menghidupi keluarga.

Penulis:

 Wahyuni Mukhsinah (Prodi Ekonomi Syariah); Salsabila Anasti (Prodi Pendidikan Matematika); dan Adrikal Muna (Prodi Manajemen Zakat Dan Wakaf)

News Feed