oleh

Pendidikan Tidak Sesuai Dengan Akhlak

Musni Setiawan T, Mahasiswa UIN Ar-raniry Banda Aceh, Fakultas/Jurusan : FISIP/Ilmu Politik

 

Penulis : Musni Setiawan T, Mahasiswa UIN Ar-raniry Banda Aceh, Fakultas/Jurusan : FISIP/Ilmu Politik

Kontroversial Sukmawati : Bandingkan Nabi Muhammad dengan Soekarno

Musni Setiawan T-

Sukmawati Soekarnoputri, salah satu putri Presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno, dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas kasus dugaan penistaan agama. Dalam hati saya bertanya, kenapa kata-kata sukmawati selalu kontroversial dengan umat islam dan apa tujuan  Dia ?

Bukan hanya kali ini saja kata-kata Sukmawati yang sangat kontroversial, 1 tahun yang lalu tepatnya dalam acara 29 tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. Sukmawati membacakan puisi “Ibu Indonesia” karyanya sendiri. Dimana isi dari puisi tersebut mengandung kata-kata yang sangat kontroversial, seperti membandingkan sari konde dengan cadar dan suara kidung dengan alunan adzan.

Kita tahu benar bahwa kata-kata Sukmawati ini sangat membuat orang marah, khususnya umat islam yang merasa tersinggung. Karena, tidak pantas Sukmawati membanding-bandingkan alunan adzan dengan suara kidung. Adzan adalah merupakan panggilan untuk beribadah, tidak bisa dibandingkan dengan hal lain.

Jika kita melihat dari latar belakang profil Sukmawati Soekarnoputri. Dia salah satu putri dari Bapak Proklamator RI, merupakan adik dari megawati Soekarnoputri. Jenjang pendidikannya dimulai dari Sekolah Rakyat (SR), Akedemi Tari, dan Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional (HI), FISIP, UBK. Pendidikan dan status yang dimiliki Sukmawati sangat terpandang dan seharusnya patut kita contoh. Tapi itu semua tidak sesuai dengan akhlak baik dan pemikiran yang dia lakukan.

Saat ini banyak sekali terjadi tindakan-tindakan yang memalukan di Negeri ini seperti kasus korupsi, penistaan agama, pelecehan seksual, dll. Namun, anehnya para pelaku tindakan kejahatan tersebut adalah orang-orang pintar yang bergelar sarjana dari berbagai lulusan Universitas yang ternama. Melihat fenomena-fenomena yang terjadi di saat ini, sepertinya ada yang salah dengan pola pendidikan formal di Indonesia dan semestinya harus dikaji ulang.

Pola pendidikan formal saat ini hanya mengajarkan ilmu-ilmu dunia sehingga banyak menghasilkan orang-orang pintar tetapi sayangnya mereka tidak terdidik dan memiliki budi pekerti yang lemah. Akibatnya orang-orang pintar tersebut mala menjadi orang yang bejat, maling dan penindak kaum yang lemah. Padahal seharusnya merekalah yang menjadi penolong dan pemimpin yang baik agar dapat diikuti dan di contoh orang banyak.

Masih ada pertanyaan lain tentang kasus ini, yang membuat saya berfikir. Bagaimana bisa seorang putri dari Proklamator dan Presiden Pertama RI. Membuat kata-kata yang sangat kontroversial, membandingkan seorang Nabi besar Muhammad SAW. dengan Ir Soekarno.

Bukankah kita tahu bahwa Nabi besar Muhammad SAW. adalah Nabi yang di utus Allah SWT. Untuk membawa umat islam dari zaman jahiliyah menuju zaman yang berakhlak dan berilmu pengetahuan. Saya rasa jika tidak ada Nabi Muhammad SAW. Kita semua termasuk Soekarno tidak akan merasakan agama islam dan keadaan sekarang ini.

Jadi, bagaimana sekarang ? untuk tidak terulangnya lagi masalah penistaan agama ini. Perlu adanya hukuman yang harus membuat orang itu jera dan tidak akan mengulagi kesalahan yang dia lakukan. Jangan hanya hukuman sekedar meminta maaf kepada seluruh kelompok yang tersinggung, jika hanya itu hukumannya maka orang yang melakukan penistaan agama tidak akan takut. (red)

News Feed