oleh

Pemberian ASI Kewajiban Seorang Ibu

Ketua TP-PKK Aceh, Dr.Ir.Dyah Erti Idawati, MT membuka Webinar “Kelas Edukasi Menyusui” dengan tema Inisiasi Menyusu Dini dan Rawat Gabung, di Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh, Banda Aceh, Sabtu (12/6/2021).

BANDA ACEH, BARANEWS ACEH  – Ketua Tim Penggerak PKK Aceh Dyah Erti Idawati menegaskan, pemberian air susu ibu (ASI) menjadi kewajiban bagi seorang ibu. Sebab, selain berguna dalam menjaga tumbuh kembang anak dengan baik, juga mampu berperan untuk menjaga kesehatan bagi sang ibu.

Penegasan itu, disampaikan saat membuka Webinar “Kelas Edukasi Menyusui” dengan Tema: Inisiasi Menyusu Dini dan Rawat Gabung, di Rumah Dinas Wakil Gubernur, Sabtu (12/6/2021). “Dalam firman Allah Al-Qur’an juga telah dijelaskan kewajiban bagi seorang ibu untuk menyusui bayinya sampai anak berusia 2 tahun, yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 233. “Para ibu hendaknya menyusui anak-anaknya selama 2 tahun penuh, bagi mereka yang ingin menyusui secara sempurna,” jelas Dyah.

Dyah mengatakan, pentingnya memberikan ASI hingga usia bayi mencapai dua tahun seperti yang disebutkan dalam agama Islam itu, telah didukung kuat dengan data riset ilmiah yang menyatakan akan pentingnya seorang ibu menyusui anak.

Pemberian ASI minimal satu jam setelah bayi lahir itu mampu mengurangi rasio kematian pada bayi. Sebab, kolostrum, yaitu tetes ASI pertama ibu sangat kaya akan nutrisi dan penting bagi asupan awal bayi. Pemberian ASI sejak dini juga sangat baik untuk mencegah gangguan produksi ASI bagi ibunya.

Dyah mengatakan, agar proses pemberian ASI dini dapat dilaksanakan, maka harus menerapkan pola Rawat Gabung yaitu merawat bayi dan ibu dalam ruangan yang sama. Pola itu menganjurkan bayi yang baru lahir harus didekatkan langsung dengan ibunya. Artinya, Ibu dan bayi harus dirawat dalam ruangan yang sama, untuk menguatkan ikatan emosional di antara keduanya. “Selama ini kerap terjadi, setelah melahirkan, biasanya si ibu dan bayi dirawat di ruangan terpisah, sehingga hal ini membuat si ibu susah menyusui bayinya. Bisa jadi ini salah satu penyebab tingginya stunting, jadi pemisahan seperti ini tidak lagi dianjurkan,” ujarnya.

Untuk mendukung itu, pemerintah Indonesia melalu Menteri Kesehatan telah mengeluarkan Keputusan Nomor 230 tahun 2010 tentang Rawat Gabung untuk Ibu dan bayi. Dengan penerapan Rawat Gabung ini, momen kebersamaan ibu dan bayi dapat terus diupayakan melalui ASI, sehingga aspek gizi, imunitas, psikologis, dan kecerdasan bayi akan lebih meningkat.

Dyah berharap, melalui paparan narasumber dalam webinar kelas edukasi menyusui itu akan memberikan pencerahan dan ilmu bermanfaat bagi ibu dan calon ibu, sehingga setiap bayi yang lahir di Aceh akan tumbuh sehat, dan kelak menjadi SDM yang tangguh.

Ketua Aceh Peduli ASI, dr. Aslinar mengatakan kegiatan itu bertujuan untuk mendorong para ibu-ibu untuk terus memberikan ASI bagi bagi bayinya. Sebab kandungan ASI yang terdiri dari perpaduan protein, vitamin dan mineral itu sangat dibutuhkan bayi untuk mendukung tumbuh kembang bayi.

Karena itu, ia berterima kasih atas dukungan dari berbagai pihak yang telah mendukung kegiatan ini seprti Dinas Kesehatan Aceh, UNICEF Perwakilan Aceh, Yayasan Darah Untuk Aceh, Flower Aceh, PKBI Aceh, dan jajaran TP PKK Aceh, dengan harapan dapat mengurangi resiko kematian bayi di Aceh. (RED)

News Feed