oleh

Pembelajaran Project Based Learning Dengan Tema ” Menjadi Toke Cilik” Untuk Menumbuhkan Kemandirian Siswa Pada Materi Aritmetika Sosial

 

 

Oleh: Siti Murniyati, S.Pd, M.Pd
Guru Matematika SMP N 1 Peudawa Aceh Timur

Keberhasilan sebuah proses pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh seorang guru saja, perlu keterlibatan siswa juga di dalamnya. Sebagus dan sebaik apapun metode yang digunakan oleh guru, tapi kalau guru tidak mampu memahami apa yang diinginkan muridnya dalam proses pembelajaran, tentunya metode pembelajaran itu tidak akan berhasil dan tujuan pembelajaran pun tidak akan tercapai.

Prinsip IA (Inkuiri Apresiatif) atau BAGJA dan ajaran filosofi Ki Hadjar Dewantara tentang merdeka belajar dan percaya bahwa setiap murid memiliki potensi dan mampu untuk melakukannya. Tentu dalam hal ini, guru mengerti serta memahami bahwa murid memiliki potensi yang sama tingginya. Maka dari itu tugas guru adalah memfasilitasi dan menjadi jembatan bagi murid untuk menunjukkan potensi dan bakat terbaiknya.

Project Based Learning (PjBL) adalah suatu metode atau pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks, seperti memberi kebebasan pada peserta didik untuk bereksplorasi merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secara kolaboratif, dan pada akhirnya menghasilkan suatu hasil produk.
Model pembelajaran ini mengenalkan peserta didik untuk bekerja secara mandiri maupun berkelompok dari masalah nyata dalam kehidupan sehari- hari. Melalui kemandirian dan kecakapan hidup yang dimiliki anak tidak akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dan beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ditemuinya. Dengan kata lain kemandirian dapat membentuk kepribadian anak menjadi pribadi yang tidak mudah berputus asa dan pantang menyerah serta bertanggung jawab.

Aritmetika sosial adalah salah satu materi kelas VII yang berkaitan dengan jual beli, untung rugi, diskon,pajak, dan bunga tabungan sangat cocok dipelajari menggunakan PjBL karena siswa akan lebih mudah memahami materi jika melakukan dan menerapkan sendiri konsep pada materi ke dalam bentuk proyek.
Adapun tujuan dari aksi nyata ini adalah sebagai berikut: (1) Menumbuhkan sikap kemandirian siswa; (2) Meningkatkan kreatifitas dan keaktifan peserta didik dalam berkreasi.; (3) Meningkatkan kolaborasi antar peserta didik. Sedangkan yang menjadi tolak ukur dalam aksi nyata ini adalah (1) peserta didik memiliki kebebasan dalam berkreasi dan mengekpresikan diri saat melakukan kegiatan kecakapan hidup; (2) Guru dan peserta didik dapat berkolaborasi dalam mewujudkan kemandirian peserta didik.

Lini masa tindakan aksi nyata ini adalah (1) Mengajukan rencana kepada kepala sekolah tentang rencana pembelajaran PjBL dengan tema “menjadi Toke Cilik”; (2) Berkolaborasi dengan rekan sejawat dalam melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada siswa melalui model PjBL; (3) Melaksanakan evaluasi dan refleksi pada kegiatan aksi nyata.

Kegiatan aksi nyata ini tentunya membutuhkan dukungan dari bebrapa pihak. Adapun dukungan yang dibutuhkan antara lain: (1) Dukungan dari Kepala Sekolah; (2) Rekan Guru; (3) Peserta didik; (4) Wali Murid/komite sekolah; dan (5) Sarana dan prasarana.

Hasil Aksi Nyata
Pelaksanaan aksi nyata ini mendapatkan hasil yang sangat baik, dan sangat bermanfaat bagi peserta didik. Kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada kemandirian sangat bermanfaat bagi peserta didik, diantaranya sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problem hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara. Jika hal itu dapat dicapai, maka faktor ketergantungan terhadap lapangan pekerjaan yang sudah ada dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional akan meningkat secara bertahap dan anak-anak berpeluang sukses di masa depan.
Keberhasilan dan kegagalan
Setiap kegiatan yang dilakukan tentunya tidak terlepas dari kata keberhasilan dan kegagalan.

Berdasarkan kegiatan yang dilakukan pada aksi nyata modul 1.3 “Visi Guru Penggerak”, keberhasilan yang diperoleh yaitu peserta didik dapat berkembang sesuai usianya, memperoleh pembelajaran yang menyenangkan, lebih mandiri dan berpeluang sukses di masa depan.
Sedangkan kegagalan yang terjadi selama pelaksanaan aksi nyata ini adalah siswa kurang percaya diri dalam mempromosikan produk yang telah dibuat sehingga hasil penjualan lebih rendah dari pada modal.

Rencana perbaikan dan pengembangan di masa yang akan datang yaitu dengan melaksanakan kegiatan perbaikan dan solusi untuk meminimalisir kekurangan tersebut diantaranya adalah berusaha semaksimal mungkin agar semua kelas dapat menerapkan pendidikan berorientasi kecakapan hidup agar peserta didik lebih mandiri.

Selain itu, meningkatkan kolaborasi dengan rekan sejawat agar kegiatan yang dilakukan dapat bersinergi dengan mata pelajaran yang lain serta lebih menyenangkan dan tidak memberatkan siswa, serta memberikan pemahaman kepada rekan sejawat bahwa kegiatan ini akan sangat bermanfaat untuk peserta didik kedepannya dan mampu melahirkan generasi yang mandiri sesuai dengan profil pelajar Pancasila.

“Jarak antara cita-cita dan kenyataan adalah aksi nyata”

News Feed