oleh

Pelaksanaan Diklat Penyuluhan Pertanian Yang Berbasis Syariah Menuju Aceh Yang Bermartabat, Mandiri, Serta Daulat Pangan

 

Pada tanggal 15 Oktober 2019 tepat nya di aula unit diklat pertanian saree (aceh besar ) telah di buka diklat penyuluhan pertanian berbasis syari’ah sebanyak dua angkatan serta diklat teknis budidaya kedele sebanyak satu angkatan. Adapun yang hadir dalam pembukaan tersebut diantaranya yaitu: kepala dinas pertanian dan perkebunan aceh, kepala seksi penyuluhan dan pengembangan SDM pertanian aceh, koordinator unit diklat pertanian saree, widyaiswara dan peserta diklat ( penyuluh pertanian) yang langsung di buka oleh Bapak A. Hanan, SP., MM (kadistanbun aceh).

Dalam pembukaan diklat tersebut oleh kepala dinas menyampaikan beberapa hal yang menjadi perhatian kita semua dan membuka ruang tanya jawab dengan peserta, diantaranya adalah:

  • Bagi peserta yang belum hadir ke balai diklat sampai dengan sorenya dan tidak ada konfirmasi serta yang telah hadir namun tidak disiplin di mohon kepada panitia diklat untuk diberikan sangsi dan jika perlu jangan diberikan sertifikat dengan harapan kedepannya tidak terulang kembali;
  • Bagi widyaiswara untuk terus meningkatkan kapasitas dan kompetensinya mengikuti perkembangan teknologi dan informasi bidang pertanian yang begitu cepat dan mudah sehingga jangan sampai terjadi dalam pelaksanaan diklat oleh peserta bahwasanya diklat itu- itu saja sehingga akan berdampak kepada kurangnya percaya diri penyuluh pertanian saat melakukan penyuluhan kepada petani/ pelaku usaha tani;
  • Khusus untuk kegiatan penanaman kedele diharapkan kepada penyuluh untuk dapat memberikan pembinaan dan motivasi kepada petani agar mau dan menanam sesuai dengan harapan pemerintah. Masalah yang dihadapi oleh petani kedele adalah produksi rendah, harga murah/ sewaktu- waktu tidak ada yang mau membeli atau menampung, terbatasnya pengolahan kedele hanya untuk pembuatan tahu tidak untuk tempe dengan alasan berat yang sama dibandingkan kedele impor namun satuan petak tempe yang didapat berbeda jauh (lebih untung tempe dengan kedele impor);
  • Kepada penyuluh pertanian oleh kepala dinas mengharapkan untuk bisa bekerja lebih lama, lebih keras, cerdas dan tuntas mengingat banyak nya komoditas pertanian yang menjadi tanggung jawab kelola yakni sebanyak 657 komoditi. Jika tanggung jawab ini semata- mata dibebankan kepada dinas pertanian provinsi aceh saja tentu mustahil untuk dapat dilaksanakan, namun kerja sama dengan seluruh penyuluh pertanian yang ada di kabupaten/ kota akan mudah untuk dilakukan tentunya. Juga kepada penyuluh pertanian khususnya wkpp sentra kopi untuk dapat lebih intensif memberikan pemahaman tentang dampak penyemprotan herbisida pada tanaman kopi, akibat penolakan oleh warga negara eropa sebagai konsumen kopi Arabica karena mengandung licosat.
  • Peserta atas nama M. Nurdin dari BPP langkahan aceh utara menyampaikan tentang terjadinya penurunan luas baku sawah yang cukup memprihatinkan, yakni dari 1420 Ha sawah dengan pengukuran ulang pada juli 2019 tinggal 664 Ha sementara LTT dituntut bertambah dan kondisi irigasi yang perlu diperbaiki, ketiadaan traktor pengolahan tanah, kelangkaan pupuk. Pak kadis menjawab pertanyaan tersebut yakni berdasarkan data BPS luas baku sawah aceh yang bisa ditanami padi adalah 293 ribu hektar, Namun data kementrian agraria tata ruang badan pertanahan nasional (ATR BPN) hanya 193 ribu hektar, namun berdasarkan SK tahun 2018 mereka mengaku keliru sehingga perlu dilakukan pengukuran ulang dengan singkronisasi data ukur ulang oleh ATR BPN bersama dinas pertanian, penyuluh pertanian di masing- masing wkpp dengan membuat berita acara dilapangan sehingga tidak terjadi lagi break down (penghentian) dalam kegiatan pertanian dan harapannya hasil pengukuran ulang menggambarkan kondisi real dilapangan. Dampak berkurangnya luas baku lahan kepada kecilnya kuota pupuk bersubsidi (hanya 36% yang bersubsidi dan 64% tanpa subsidi), distribusi aliran air irigasi, kuota traktor pengolah tanah dan bantuan lainnya.

 

  • Bapak Supriadi dari aron, aceh timur mengutarakan tentang masih adanya ego sektoral dilapangan, masih ada yang mengatakan kalau penyuluh tidak bekerja, penyuluh merasa bagai tong sampah artinya saat ada prestasi itu milik orang lain bukan hasil kerja keras penyuluh dan sebaiknya untuk benih kedele di buat oleh kelompok penangkar karena benih yang bagus ialah benih yang segar. Pak kadis berharap kepada penyuluh pertanian yang ada di aceh timur untuk bisa menerima semua ini dengan lapang dada karena dari sisi nomenklatur berbeda dengan daerah lain. Masa dormansi benih kurang dari 96% maka wajib di uji ulang dan jika benih yang dibagikan adalah benih berlabel yang sudah mati jangan di terima.

 

  • Ibu Mira Handayani dari aceh besar berharap kepada unit diklat pertanian aceh untuk dapat melaksanakan diklat tentang informasi teknologi (IT) dan diklat menulis menuju penyuluh pertanian milenial karena media sosial (medsos) lebih cepat dibandingkan media cetak dan perhatian khusus untuk menjadikan BPP sebagai model. Adapun tanggapan bapak kadis adalah supaya dilakukan evaluasi BPP yang bisa dijadikan model sebagai motivasi dan BPP yang berhasil mengelola demplot dan demfarm dengan baik serta disiapkan anggaran khusus untuk penyuluh pertanian yang rajin menulis serta di muat di media online (cyber extention) dan media cetak (haba tani).

 

  • oleh Ibu Hayatul Siregar dari aceh singkil menyatakan bahwa ada 108 Ha cetak sawah baru namun pada musim hujan selalu banjir dan jalan usaha tani belum layak. Pak kadis memberikan solusi dengan memberikan nomor kontak person atas nama Bapak Rizal Fahlevi untuk perbaikan jaringan irigasi yang rusak serta dengan membuat proposal yang diajukan kepada dinas pekerjaan umum (PU) tembusan dinas peretanian.

 

  • Pak Randi Syahputra dari aceh tenggara mengutarakan tentang masalah tidak terinputnya data e-RDKK karena ada 32 kios pengecer yang tidak terdaftar namanya dan bantuan sering terlambat datang. Jawaban Pak Kadis adalah beliau telah menanyakan langsung kepada yang bertanggungjawab atas input data e-RDKK hasilnya sudah terinput dan untuk bantuan pengadaan benih yang menjadi tanggungjawab PPK provinsi telah berpindah langsung ke PPK kabupaten jadi sudah lebih mudah dan cepat.

Dengan adanya pertanyaan oleh penyuluh pertanian dan tanggapan yang diberikan oleh Bapak Kadis Pertanian telah menjadi sebuah informasi penting yang menjawab banyak masalah yang terjadi selama ini.

Kebesaran hati dan kesediaan seorang kepala dinas seperti yang telah dicontohkan oleh Bapak A. Hanan, SP., MM menjadi motivasi dan dorongan besar kepada semua yang hadir saat pembukaan diklat tersebut. Ini terlihat saat peserta di dalam kelas saat menerima materi yang disampaikan oleh nara sumber/ widyaiswara, yakni partisipasi aktif yang lebih dibandingkan angkatan sebelumnya.

Tujuan penyuluhan berbasis syariah secara substansi adalah lebih kepada membetulkan niat (ikhlas) dan membetulkan cara melakukan yang lebih tepat (efektif) dan sesuai (efisien). Dengan niat ikhlas dan cara yang benar akan menjadikan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) kita untuk dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt dan publik.

Praktek lapang (field trep) dilakukan di kebun kurma Barbate aceh besar, di sana peserta mendapatkan banyak hal, diantaranya: waqaf tanah dan kebun kurma oleh yang mewaqafkan dengan tujuan ekonomi syari’ah kepada umat islam yang berhak (fakir, miskin, ibnu sabil, fisabilillah dan lain sabagainya), koperasi yang berorientasi dan dijalankan secara syari’ah, teknik budidaya pohon kurma dengan harapan bisa merubah kondisi tanah kritis menjadi tanah yang subur. Kesempatan ini juga membuka peluang investasi kepada penyuluh (paket besar sampai dengan paket minimalis) atau menjadi pendorong kepada pengambil kebijakan ditempat tugas masing- masing sepulang mereka kedaerahnya untuk mengadakan pilot proyek perkebunan kurma.

Dengan materi diklat yang telah dikembangkan dan pemateri yang telah disesuaikan dengan kompetensi dan kapasitas serta tempat praktek lapang yang cocok dan tepat akan melahirkan penyuluh- penyuluh pertanian yang handal dan tangguh. Sehingga aceh yang bermartabat, mandiri dan kedaulatan pangan bisa di capai. Aamiin Ya Rabbal’alamin.

 

Mukhlis, S.Pt., M.Ec.Dev. Widyaiswara Muda pada Unit Diklat Pertanian dan Perkebunan Aceh.

Jalan Banda Aceh- Medan Km.71 Hp 0812- 1004-3133

News Feed