oleh

Partai Aceh Harus Bermuhasabah

Foto Ilustrasi Kampanye Partai Aceh (Istimewa)

 

BANDA ACEH, BARANEWSACEH.CO | Dapat dikatakan bahwa adanya Momerendum of Understanding antara Pemerintahan Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka telah membawa angin segar sekaligus badai bagi masyarakat Aceh. Di satu sisi, rakyat Aceh akan mendapatkan peluang yang lebih besar untuk menyuarakan aspirasinya dengan adanya partai lokal. Namun di sisi lain, nuansa politik yang homogen justru akan menjadi bumerang bagi masyarakat jika tidak diiringi pembenahan serius di level internal partai. Pengalaman yang didapatkan Partai Aceh pada pemilu legislatif 2014 cukuplah menjadi pelajaran berharga bahwa masyarakat Aceh tidak lah buta politik sama sekali dan secara cerdas terus mengawasi seluk beluk, gerak gerik, dan tingkah polah partai yang mereka pilih. Partai Aceh harus belajar menerima dengan hati yang lapang bahwa loyalitas masyarakat pendukungnya ternyata adalah sesuatu hal yang sangat fluid dan dinamis, hampir berjalan paralel dengan performa partai yang mereka dukung.
Di negara-negara maju, margin kemenangan suatu partai umumnya tidaklah besar.

Perseteruan Partai Demokrat dengan Partai Republikan di Amerika Serikat dari satu dekade ke dekade lain, misalnya, selalu mengindikasikan satu hal penting yaitu bahwa tidak ada kemengangan mutlak dan gratis. Faktor apapun sangat mungkin mempengaruhi hasil pemilu, terutama di kalangan “undecided voters” atau pemilih yang masih ‘pikir-pikir’ dulu. Bagi masyarakat yang berciri demikian, pesta demokrasi adalah suatu hal yang sangat menarik, menantang, dan ditunggu-tunggu. Pertarungan konsep dan ideologi lah yang biasanya akan menjadi faktor penentu kemenangan, bukan dari mana asal orangnya, ganteng atau tidaknya, atau populer atau tidaknya.

Lain halnya dengan Aceh, kematangan politik baik di kalangan politisi ataupun di kalangan rakyat masih jauh panggang dari api, terbukti dengan merebaknya politik uang dan serangan fajar menjelang hari pemilu. Motivasi keikutsertaan seorang kandidat dalam pemilu masih berpusat pada seberapa banyak cash yang akan diraihnya. Rakyat pun tak lah sangat berbeda, masih menjual suaranya yang seharusnya begitu mahal seharga tak lebih dari 50 ribu.

Jika keadaan ini berlanjut maka Aceh, khususnya PA lambat laun akan menjadi tamu di rumah sendiri. Uforia takkan dapat terus berlanjut seiring hadirnya fakta-fakta baru yang semakin menguatkan persepsi bahwa pesta politik hanya ajang memperkaya diri, bukan mencapai kesejahteraan bersama yang sustainble atau berkelanjutan.

Untuk membalikkan trend ini, penulis sebagai partisipan aktif dalam tim pemenangan Partai Aceh di pemilu kali ini mengusulkan beberapa hal fundamental agar keinginan rakyat Aceh dapat tercapai dan terwakili oleh Partai yang mereka cintai.

Pertama, syiarkan rekonsuliasi politik dengan menunjukkan keseriusan yang tinggi kepada rakyat bahwa PA betul-betul berjuang untuk rakyat bukan untuk kesejahteraan Partai atau anggotanya saja.

Kedua, PA harus melakukan seleksi ketat terhadap kandidat yang diusung dengan mengutamakan kecerdasan, kualifikasi, dan kapasitas seseorang bukan siapa relasinya atau bahkan posisinya selama masa konflik dahulu. Partai Aceh akhirnya harus menyadari bahwa dalam perjuangan kemerdekaan rakyat manapun, kendali pemerintahan akhirnya harus diserahkan pada kekuatan sipil dengan segala atribut yang dimilikinya, bukan malah menunjukkan aksi perebutan jabatan oleh mantan kombatan. Jika Partai Aceh terus memaksakan trend yang ada sekarang, penulis yakin, kita aka kalah telak dengan Pemerintah Pusat dalam melakoni perang politik gaya baru di era damai ini.

Ketiga, kita harus kembali pada misi utama Aceh dan identitas Aceh sebagai daerah yang selalu berjuang untuk Islam. Partai Aceh harus terlihat sebagai partai yang serius dalam mengantongi identitas ini, bukan malahan terlihat “meudonya” yang akan dengan mudah dinilai oleh rakyat sebagai partai yang tak ada bedanya dan takkan mampu menjanjikan apa-apa bagis masa depan Aceh.

Kemenangan dan kekalahan adalah sunnatullah dan hal yang biasa namun Allah dan rakyat akan menilai seberapa serius dan seberapa tulus niat kita untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Jika misi mulia ini sering tertutupi oleh debu keserakahan dan egoisme maka selamanya Partai Aceh tak akan pernah membawa rakyat pada kesejahteraan yang hakiki.
Penulis mengajak semua elemen partai untuk bersatu dan mengajak rakyat untuk mendukung sepenuhnya cita-cita murni adanya Partai Aceh, dengan memberinya kesempatan sekali lagi dan tidak tergesa-gesa meninggalkannya hanya karena ulah individu-individu atau oknum yang ada di dalamnya. Perjalanan kita masih jauh, mari kita rapatkan barisan dan terus mengayuh hingga kita bersama-sama sampai pada tujuan. (MI)

(Munir – timses PA Samudra)

News Feed