oleh

Pak Gubernur ! Kapan Kami Bisa Menikmati Tersedianya Jaringan Telkomsel

 

Oleh : Abdullah.

Tampur Paloh merupakan salah satu Desa tertinggal yang berada dalam wilayah Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. Tampur Paloh adalah desa paling selatan Disamping desa Tampur Boor dan yang lainnya.

Populasi penduduk di daerah ini di perkirakan mencapai 1000 jiwa yang terbagi di 5 desa masing masing desa Melidi, Desa Tampur Paluh, Tampur Boor, dan desa Tran HTI Ranto Naru. Untuk mencapai desa ini, kita harus melalui rute sungai dengan menumpang boat dari yang di mulai dari Pelabuhan Aceh Tamiang, kurang lebih 7 sampai 8 Jam perjalanan atau dengan jarak tempuh sepanjang189 Kilometer.

Jalan Darat hanya bisa di lalui pada saat musim kemarau tiba yakni dengan menggunakan Kendaraan roda 2 lewat desa Bengkelang Kabupaten Aceh Tamiang. Perjalanan tentu harus melewati bukit Awan, sekitar 5 Jam perjalanan.

Sebagai mata pencarian penduduk setempat, pada umumnya adalah Petani Ladang, tukang Boat, di samping sebagai pengelola Perkebunan seperti Karet, Pinang, Sengon, Nilam, dan Serai Wangi.

Dahulu desa Tampur Paloh memiliki Sawah sebagai tempat bercocok tanam Padi. Namun setelah di hantam nanjir bandang pada Tahun 2006, seluruh sawah yang kami miliki musnah di timbun pasir dan Lumpur, hingga ketebalan mencapai 3 (tiga) Meter.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti tersedianya beras, penduduk setempat beralih menanam padi darat, dengan hasil yang kurang maksimal dengan rentang waktu hanya sekali dalam setahun. Faktor lain yang membuat ketidakberhasilan, masih lemahnya sumber daya dan pengetahuan yang di miliki, dan masih butuh penyuluhan dari dinas terkait.

Selain itu masyarakat setempat mengeluhkan tidak adanya Akses internet ataupun jaringan telepon. Dengan keterisoliran ini terkesan ada yang membatasi kehidupan kami di pedalaman untuk terhubung ke dunia luar, begitu juga sinyal telepon masih sangat sulit untuk di jangkau.

Tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat sulit untuk berkembang, karena penghasilan hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari hari. Karena untuk turun ke kota masyarakat setempat harus mengeluarkan biaya tranfortasi minimal Rp. 50.000 ribu rupiah perorang, dan Itupun tidak selalu bisa di tempuh dengan mulus dan lancar. Karena bila musim kemarau tiba air akan mengecil, dan sebaliknya dikala musim hujan tutun, maka air akan semakin besar. Jika Arus sungai Surut boat bisa kandas, kalau air Sungai sedang penuh Arus besar dan akan mengancam keselamatan jiwa.

Bila musim Panen tiba hasil Pertanian sangat susah untuk di pasarkan. Karena jauhnya akses perjalanan menuju perkotaan, itupun daerah tujuan bukan ke ibu kota kabupaten yang kami diami, melakukan ke ibu kota kabupaten tetangga yakni Kabupaten Aceh Tamiang. Satu-satunya alat tranfortasi yang bisa di tumpangi adalah perahu boot, yang melintasi sungai jambu aye.

Terkadang saat musim banjir tiba seluruh hasil panen masyarakat terpaksa di tunda untuk bawa ke perkotaan. Keadaan di lintasan sungai sangat rawan dan mengancam keselamatan jiwa. Namun terkadang ancaman yang begitu besar harus juga di nikmati oleh penduduk desa Tampur Paloh, Melidi, Tampur Boor dan Tran HTI serta Ranto Naru. Karam dan tenggelam bukanlah hal aneh bagi kami yang pada gilirannya berakhir tragis dengan kematian.

Belum lagi Anak-anak Generasi ingin melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, Meraka juga harus mengarungi ancaman Riam sungai, Karena itulah satu-satunya lintasan yang bisa di lalui.

Kami menganggap, daerah kami belum Merdeka. Sebab, sejak nenek Moyang masih masih mengengkol boat. Kami masih memakai stang boat di belakang, hingga sekarang, Semestinya kami sudah memakai stang di depan dengan keadaan boot yang lebih layak untuk di tumpangi. Atau terkadang pemerintah Kabupaten Aceh Timut takut rugi atau enggan, atau sebaliknya muncul praduga yang bersipat diskriminasi yang berbau SARA, jika harus menganggarkan pengadaan boot untuk desa desa yang berada di pedalaman.

“Mungkin hanya semangat hidup yang memberikan sugesti bagi kami untuk terus bertahan hidup mendiami tanah leluhur kami. Pantang menyerah, Tegar dan kokoh yakin dan berani, sebagaimana semangat yang di gelorakan oleh Inen mayak teri, salah saorang pejuang yang belum di akui sebagai pahlawan Nasional. Padahal catatan dalam buku yang di tulis para penulis belanda yang notes bondnya adalah seorang kafir jelas jelas menulis betapa perkasanya singa betina dari pedalaman Lukup Serba Jadi ini.

Rasa trimakasih kami sematkan kepada Pemda Aceh Tengah yang telah mengabadikan nama Inen Mayak Teri pada sebuah gedung Bale Pendari Inen Mayak Teri yang terletak di Kota Takengon.

Tampur Paluh – Aceh Timur 2020.

News Feed