oleh

Outbreak Pandemi Covid-19 Ganggu Keharmonisan Tradisi Megang Masyarakat Gayo

Oleh Turham AG, S. Ag, M. Pd

Corona Virus Disease (Covid-19) atau lebih dikenal dengan sebutan virus corona yang telah mewabah sejak Maret lalu, sampai saat ini belum jelas kapan berakhirnya pandemi yang mematikan itu. Semoga dengan datangnya bulan Ramadhan, virus yang membuat ketakutan setiap orang bisa lenyap dari permukaan bumi ini.

Menjelang masuknya Ramadhan ada satu tradisi dalam masyarakat Gayo yang telah dilaksanakan secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam, untuk menyambut kehadiran bulan mulia disebut dengan megang yang hanya 3 kali dilakukan dalam setahun yaitu pada menjelang puasa ramadhan, idul fitri maupun idul adha

Tradisi megang merupakan kegiatan silaturrahmi sambil nos lepat (membuat timpan), memasak daging kerbau, lembu, kambing maupun ayam, makan bersama keluarga serta saling bermaafan, berdo’a untuk yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia dan ada juga melakukan ziarah kubur dengan harapan bersih lahir batin ketika memasuki ramadhan.

Artinya sebelum memulai ibadah dalam puasa ramadhan, secara tradisi masyarakat Gayo harus benar-benar mempersiapkan diri dengan membersihkan jasmani dan rohani terlebih dahulu, karena ramadhan adalah bulan yang suci lagi mulia, begitulah pandangan masyarakat Gayo terhadap tradisi megang di negeri penghasil kopi.

Selain dengan keluarga besar, tradisi megang ada juga yang melakukan bersama teman dan kerabat, maupun dengan anak yatim, terlebih jika berada diperantauan yang senasip seperjuangan mereka melaksanakan megang bersama demi mengusir rasa mukale (rindu) kepada keluarga di kampung halaman.

Saat hari megang banyak ditemui penjual daging dadakan, karena setiap orang atau keluarga akan membeli daging yang akan dimasak bersama keluarga atau kerabat. Megang dalam masyarakat Gayo ada yang melaksanakan selama 2 hari dan kebanyakan hanya melaksanakan 1 hari sebelum hari H, oleh sebab itu membeli daging pada hari megang menjadi suatu keharusan, karena megang merupakan sesuatu yang sakral bagi masyarakat Gayo.

Lazimnya setiap orang merasa gembira dan sangat menikmati hari megang sambil menunggu masuknya bulan ramadhan dengan penuh sukacita, karena setiap tahun hanya sekali tibanya bulan penuh berkah ini. Namun ada sedikit perbedaan megang menyambut ramadhan tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya

Hari megang tahun-tahun sebelumnya selalu dilakukan meriah, setiap keluarga besar berkumpul dan makan bersama saudara, teman dan kerabatnya, tetapi megang kali ini dilaksanakan jauh lebih sederhana akibat adanya wabah covid-19 yang sedang melanda. Penjual daging terlihat kurang bergairah disebabkan selain corona yang mengakibatkan semua orang harus melakukan social distancing dan physcal distancing, hasil bumi negeri diatas awan ini juga sedang mengalami fluktuasi harga yang begitu drastis.

Cukup sudah penderitaan hari megang tahun ini, harga kopi semakin merosot entah memang benar karena mewabah virus corona sehingga kopi tidak bisa diekspor ataukah hanya permainan eksportir belaka, sehingga harga semakin kebawah, toke kucak (pengepul) ditingkat kampung hampir kehabisan modal karena kopi mereka tidak ada yang beli, jikapun ada yang beli harga jauh di bawah standar.

Jikapun benar kopi tidak bisa diekspor yang menyebabkan jatuhnya harga, lalu bagaimana dengan harga tomat, cabe, bawang, kubis dan hasil palawija lainya, padahal komoditi tersebut tidak ikut diekspor dan dibutuhkan semua orang, kenapa mesti ikut-ikutan turun harga.

Sementara komoditi lain seperti kelapa, semangka, mangga, salak dan lainya masih tetap bertahan malah mengalami kenaikan harga sungguh sangat ironis dan menjadi pertanyaan besar. Jangan-jangan covid-19 ikut campur mempengaruhi fluktuasi harga komoditi, atau malah covid-19 sengaja dimanfaatkan sebagai kambing hitam untuk menjatuhkan harga komoditi dari negeri diatas awan tersebut.

Mungkin bila pemerintah sidikit lebih serius menangani fluktuasi harga komoditi ini, fluktuasi harga pasat tetap stabil dan masyarakat akan merasa lega dan gembira melaksanakan megang bersama keluarga.

Kendati covid-19 sedang melanda, harga kopi dan komoditi terus menurun, harga kebutuhan pokok semakin melambung, namun megang harus tetap terlaksana secara khidmad walaupun sederhana dan tidak bersama keluarga besar karena suasana social distancing dan physcal distancing yang mengharuskan setiap orang tetap berada dirumah.

Biasanya masyarakat memadati pasar-pasar perbelanjaan dan tempat penjualan daging pada hari megang, namun covid-19 telah merubah tradisi tersebut. Seperti di Pasar Simpang Tiga Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah, penjual daging dadakan tidak terlalu banyak sehingga stok daging tidak mencukupi dan hargapun mencapai Rp. 170 ribu. Namun di pasar Jagong Jeget Kecamatan Jagong Kabupaten Aceh Tengah diperoleh informasi harga daging Rp. 160 ribu.

Jika disetarakan haga daging dengan harga kopi yang hanya mencapai 6 ribu per bambu (2 liter), maka untuk membeli 1 kg daging petani harus menjual 30 bambu (3 kaleng) kopi, itupun terkadang uang pada toke kucak tidak ada. Sementara komoditi tomat dengan harga 2 ribu perkilo, maka petani harus menjual 80-90 kg tomat untuk mendapatkan 1 kg daging. Sungguh ironis dengan harga kelapa, buah-buahan seperti semangka, mangga dan lain-lain. Semoga eksportir dan pedagang serta semua pihak cepat mendapat solusi.

Masyarakat yang berbelanja kebutuhan megang masih tergolong ramai, kendati tidak seramai hari-hari megang tahun sebelumnya dan pasar juga dijaga Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk mengawasi social distancing dan physcal distancing, namun demikian masyarakat tetap antusias serta menjaga protokol kesehatan terutama penggunaan masker jika berada diluar rumah.

Fenomena baru hari megang dalam outbreak pandemi covid-19 terjadi di kawasan perkebunan kopi Dusun Peregen Desa Kute Keramil Kecamatan Linge Isaq Kabupaten Aceh Tengah, masyarakat seolah-olah tidak mengetahui tibanya hari megang, akibat meroketnya haraga barang kebutuhan pokok sementara harga kopi terjun bebas yang mengharuskan mereka tetap bekerja dikebun. Mereka tidak pernah berfikir tentang social distancing dan physcal distancing namun tetap melaksanakan, karena selalu dikebun dan jauh dari orang.

Masyarakat yang biasanya menghentikan seluruh aktifitas karena hari megang, sepertinya kali ini tidak berlaku untuk dusun peregen, masyarakat terus saja beraktifitas dikebun sebagai pelampiasan rasa sedih akibat tidak mampu membeli daging dan makan bersama keluarga, disamping itu buah kopi juga banyak yang hampir jatuh karena sudah terlalu lama tidak dikutip (dipetik).

Harus diakui memang dalam tradisi megang, masyarakat Gsyo sangat mengutamakan nilai silaturrahmi dan makan bersama yang harus tetap berjalan alias tidak boleh kurang, kendati berada ditengah-tengah kebun kopi sambil minum kopi dan bercerita tentang kopi yang semakin menurun harga makan dalam rangka megang juga tetap jalan. Lebih beruet kurang bertamah.
Peregen 23/04/2020.

News Feed