oleh

Nasib Petani Dimasa Pandemi Yang Hampir 2 Tahun di Desa Bukit Meriam

Aceh Timur, Baranews Aceh.co | Peureulak Timur, Bukit Meuriam merupakan desa yang jauh dari perkotaan dan keramaian, letaknya berada sejauh 3 km dari jalan besar atau Jl Medan-Banda Aceh. Jalan menuju ke desa tersebut harus melewati desa Alue Bugeng, di perjalanan kita akan melewati jalan yang sunyi dimana sepanjang jalan hanya kita jumpai pohon-pohon besar dan pohon sawit ditambah jalan yang berlobang hanya sebagian ada pengaspalan jalan. Bukit Meriam tergolong desa yang sedikit penduduk yaitu sebanyak 52 kartu keluarga saja. Penduduknya pun ada dua suku yaitu orang Aceh dan Batak.

Mayoritas pekerjaan masyarakatnya adalah petani dan pekebun, hanya sedikit yang bekerja dipemerintahan hal ini disebabkan oleh kurang nya keinginan dan minat belajar atau dipengaruhi sektor keuangan untuk menempuh pendidikan yang tinggi didesa tersebut. Banyak yang memilih menjadi petani dan pekerja serabutan yang tidak harus belajar atau kuliah.  Petani dan pekebun di desa Bukit Meriam adalah seperti petani cabai rawit, petani tembakau, petani karet, dan pekebun sawit dan ada juga yang menanam jagung, timun dan sayur-sayur lainnya.

Ibu Ainsyah (55 tahun) adalah salah satu warga di desa Bukit meriam, beliau salah satu dari kebanyakan warga yang menjadi petani dan sudah berprofesi sebagai petani selama puluhan tahun yang lalu dan sampai sekarang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dan untuk menghidupi anak-anaknya, setiap tahunnya dia selalu menanam cabai, beliau menanam cabai rawit, cabai hijau, dan cabai caplak. Ibu Ainsyah sudah sangat mengerti cara bertani dengan baik dan mengahasilkan panen yang banyak.

Adapun proses menanam cabe sangat mudah, cabe ditanam dalam setahun sekali pada waktu musim hujan saja, kalau ditanam pada musim kemarau kata ibu Aisyah akan mengakibatkan pohon cabe menjadi keriting dan proses berbuahnya cukup lama dan bisa saja tidak akan menghasilkan buah cabe karena pohon cabe bisa mati yang akan merugikan bagi sipetani.

Pertama sekali yang ibu Ainsyah lakukan adalah menabur bibit cabai ditanah yang lembab dan subur dan tanah yang sudah dikasih pupuk alami yaitu asli dari kotoran yaitu lembu atau kambing dan tempatnya harus terlindung dari hujan dan terlindung dari sinar matahari langsung selama beberapa hari hingga tumbuh berkecambah, setelah itu disemai di polybag hingga tumbuh kira-kira 10 cm atau pohon cabe nya udah mengeras sedikit. Setelah itu tinggal menanamnya dilahan yang luas dan tidak ada tanaman lainnya didalam, sebab kalau di campur-campur dalam satu lahan maka akan membuat pohon cabe tidak akan tumbuh subur dan berbuah yang banyak.

Setelah itu tinggal menunggu beberapa bulan selama proses penumbuhannya dan jangan lupa juga untuk selalu diawasi agar terhindar dari binatang-binatang seperti kambing dan binatang lainnya yang suka sekali memakan daunnya dan tidak lupa pula dikasih pupuk agar tumbuh subur dan banyak berbuah.

Ibu Ainsyah juga mengatakan saat ini harga cabai rawit berkisar Rp. 30.0000/ kg saja waktu dijual, beda halnya dengan tahun- tahun sebelumya yang harga nya jauh lebih mahal berkisar sampai Rp. 50.000/ kg. dan harga cabai hijau lebih murah dibandingkan dengan harga cabai rawit yaitu berkisar sekitar Rp. 20.000/ kg, sementara cabai caplak berkisar Rp. 25.000 dan setiap tahun harga nya bisa naik turun. Faktanya kata ibu Aisyah pada masa belum bisa panen harga cabe nya melambung tinggi sedangkah sudah waktunya panen harga cabe nya menjadi turun. Hal yang mungkin bisa saja terjadi waktu masa panen adalah terjadinya penumpukan atau banjir cabai dimana-mana yang banyak di pasar, dan juga dipengaruhi gara-gara masa pandemi yang mengakibatkan perekonomian Indonesia berkurang. Hal ini sangat berpengaruh kepada perekonomian masyarakat petani yang ada didesa-desa seperti desa Bukit Meriam.

Harapan dari para petani di didesa Bukit Meriam adalah semoga cabai yang ditanam banyak hasilnya dan bisa mencukupi segala kebutuhan para petani dan harapan kepada pemerintah semoga harga cabai dan jenis tanaman lainnya seperti timun, kacang panjang, jagung dan semangka selalu stabil dan tidak akan merugikan para petani, dan diharapkan pemerintah memberi bantuan kepada para petani seperti bantuan pupuk atau alat-alat pertanian lainnya. Hal tersebut sangat membantu petani karena mata pencahariannya adalah sebagai petani saja, ditambah sekarang makin sulit mencari lahan yang subur, karena sudah ditanamin pohon sawit semua.

Penulis :

Nama : Yeni Marlinda
Prodi : Manajemen keuangan syariah
Fakultas : ekonomi dan bisnis islam
Institusi : IAIN Langsa

 

News Feed