oleh

Muzirul Qadhi: Merindukan Sentuhan Azhar Abdurahman di Parlemen Aceh

banner 970x250

 

Banda Aceh, Baranewsaceh.co – Azhar Abdurahman nama lengkapnya, beliau adalah anak desa kelahiran Gampong Keude kecamatan Krueng Sabe, Aceh Jaya. Lahir dari keluarga yang sederhana tak menyurutkan niatnya mengapai asa dan cita-cita nya, menempuh pendidikan formal dari Sekolah Dasar sampai menjadi seorang Sarjana lulusan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala tahun 1994 di Banda Aceh. Begitu disampaikan Muzirul Qadhi koordinator Aliansi Peduli Bangsa Aceh (APBA) pada kamis (18/07/2019)

Tak banyak yang tau akan nasib seseorang, hingga Azhari Abdurahman menjadi Bupati Aceh Jaya selama dua Priode. Mantan pejuang Gerakkan Aceh Merdeka tersebut memulai karir politik nya di tahun 2006 bersama wakilnya Zamzami Rani, maju melalui jalur independen pasangan tersebut menang dengan torehan 21.883 suara.

Pasca Tsunami Aceh 26 Desember 2004 menjadi masa-masa sulit bagi Bangsa Aceh ditengah konflik berkepanjangan, namun sosok pemimpin Aceh Jaya itu mampu mengubah kesenjangan sosial di daerah nya menjadi lebih baik, berbagai macam program pro rakyat diluncurkan mulai dari Listrik Gratis, Beasiswa Pendidikan, Raskin, tunjangan lanjut usia, pembangunan Infrastruktur dan lain sebagainya.

Kepuasan rakyat nya membuat Azhari terpilih kembali manjadi Bupati Aceh Jaya untuk Priode 2012-2017 dengan Prolehan suara hingga 41.33 % kini Azhari berdampingan dengan Tengku Maulidi sebagai wakilnya. Kegimbaraan rakyat Aceh Jaya terhadap pemimpin nya tercermin ketika pasangan Azhari dan Tengku Maulidi menang telak pada pilkada saat itu.

Angka kemiskinan di Aceh Jaya menurun drastis di tahun 2005 dimana saat itu banyak bangunan porak poranda akibat bencana Tsunami, bupati yg terpilih pada 2006 itu pun harus kerja ekstra menjadi sosok pemimpin yang tegas, peduli, sosial dan pemimpin modern. Bayangkan di tahun 2005 per 31 Desember angka kemiskinan Aceh Jaya mencapai 30.36 persen, berselang beberapa tahun terobosan yang ia kucurkan dahulu menui hasil pada tahun 2013 per 31 Desember persentase kemiskinan Aceh Jaya turun hingga 17.53 persen, ini tidak terlepas dari tangan dingin sang mantan kombatan tersebut.

Di masa pembangunan Aceh yang menurut saya hari ini stagnan Bangsa Aceh memerlukan sosok pemimpin modern berjiwa sosial dan peduli terhadap kemajuan Bangsa Aceh. Bagaimana tidak, Gubernur sudah silih berganti pasca Perdamaian Aceh namun pembangunan masih jauh dari harapan, anggaran APBA yang begitu besar mestinya Aceh tidak termasuk menjadi daerah termiskin di Indonesia.

Tentunya sebagai masyarakat Aceh sangat merindukan sentuhan sang Mantan Kombatan tersebut di awal Priodenya sebagai Legislatif terpilih Priode 2019-2024. Penulis berharap pimpinan Partai Aceh dapat memilih H. Azhar Abdurahman sebagai ketua DPRA Aceh, melihat dari segi track record yang ia miliki selama 2 Priode sebagai bupati Aceh Jaya, dengan berbagai prestasi yg ia raih, lalu mendapatkan suara terbanyak pada pileg 2019 dapil 10 dengan jumlah 18.917 suara. Ini menunjukkan beliau memiliki Kapabitas dan Kualitas yang mumpuni di bidang kepemimpinan dan sangat layak untuk mendapatkan kursi ketua DPRA Aceh.

Di tahun 2018 total dana APBA Rp.15,1 triliun terdapat sebesar Rp. 8.1 triliun dari dana otsus, namun besaran anggaran tersebut belum memaksimalkan kinerja pemerintah Aceh. Kita buktikan dengan data BPS maret 2018 penduduk miskin Aceh mencapai 839 ribu jiwa (15, 97) dan pada tahun 2019 terjadi penurunan sedikit yaitu 15,68 % ini adalah angka yang cukup besar tidak sesuai dengan target Pemerintah Aceh.

Aceh masih memiliki tantangan yang cukup serius kedepan, jika kita bangsa Aceh tidak memiliih Leader yang tepat maka Aceh Hebat hanya sebatas nawacita.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed