oleh

Mutik Ruluh Bunge Mala Dalam Outbreak Covid-19 Menjelang Ramadhan

Oleh Turham AG, S. Ag, M. Pd

Mutik ruluh bunge mala merupakan satu Istilah dalam adat Gayo sebagai nasehat dan anjuran serta memberi gambaran agar masyarakat tidak bermain-main dengan kehidupan. Mutik ruluh bunge mala juga menggambarkan sesuatu yang lazim dan pernah terjadi sejak dahulu kala sampai saat ini, termasuk gambaran usia kematian

Secara harfiyah diartikan, mutik (putik), ruluh (jatuh), bunge (bunga) mala (layu), jika diterjemahkan menjadi putik jatuh bunga layu. Namun tulisan ini tidak memaknai secata harfiyah melainkan mutik ruluh bunge mala ini suatu tamsilan adat Gayo yang biasa terjadi dan menggambaran kehidupan sekaligus sebagai anjuran untuk mengingatkan manusia terhadap kematian yang tidak mengenal batas usia.

Dalam redaksi lain dapat jelaskan bahwa mutik ruluh bunge mala merupakan sesuatu hal yang pantas dan pernah terjadi sesuai ketentuan Allah, menurut kondisi dan situasi, seperti halnya, saat musim hujan menanam padi, saat kemarau memanen dan tiba bulan Ramadhan orang beriman berpuasa,

Istilah mutik ruluh, juga dapat dikatakan sebagai anjuran adat yang diibaratkan anak-anak atau orang muda bisa saja meninggal dunia terlebih dahulu dari pada orang tua. Karena itu orang tua harus membekali anak-anak mereka dengan pengetahuan, terutama tentang agama yang akan menjadi pegangan dunia akhirat, sebagaimana perintah adat melalui utang opat (4 kewajiban orang tua terhadap anak) dalam serahen ku guru (pendidikan).

Social distancing dan physcal distancing merupakan waktu yang tepat bagi orang tua untuk melaksanakan kewajiban terhadap anak-anak sebagaimana utang opat tentang serahen ku guru, apalagi social distancing dan physcal distancing dalam suasana ramadhan tengu akan mendapatkan pahala yang berlimpah.

Sementara bunge mala diibaratkan bayi atau janin yang akan menjadi mutik bisa juga gugur, dengan demikian dapat dipahami bahwa dalam adat Gayo telah menukilkan agar memberi penyadaran kepada semua orang, khususnya para pemuda bahwa meninggal dunia tidak mengenal batas usia, waktu dan tempat, kapan, dimana dan siapa saja pasti akan menemui ajal tanpa harus menunggu tua terlebih dahulu.

Makna lain yang terkandung dalam mutik ruluh bunge mala selain sebagai peringatan kematian, juga suatu upaya mengajak masyarakat tetutama kalangan muda agar selalu berusaha meningkatkan amal ibadah, terus berbuat baik, bersikap adil, tidak zalim kepada sesama, saling bantu tanpa pamrih sebagai bekal dan persiapan diri jika suatu saat akan dipanggil menghadap Allah SWT.

Terhadap mereka yang telah telanjur berbuat salah, dosa dan zalim terhadap sesama agar segera bertaubat dan memperbaiki amal yang akan dibawa ke akhirat kelak. Apalagi saat ini penyebaran covid-19 semakin meresahkan, tidak ada yang dapat menjamin dirinya bebas dari virus mematikan itu, jika Allah berkehendak tidak mustahil seseorang akan terinfeksi.

Dengan demikian, bahwa ungkapan orang miskin menularkan penyakit kepada yang kaya dan menyebabkan kematian adalah pernyataan kepanikan yang patut disayangkan dalam memberi statemen kepada publik. Pernyataan sesat publik figur tersebut tidak sesuai kenyataan, karena penyebaran outbreak Corona Virus Disease (Covid-19) tidak mengenal cluster dan bisa saja terjadi dari orang kaya terlebih dahulu.

Ditilik lebih dalam terkait fenomena penyebaran covid-19 dan gejala mutik ruluh bunge mala seakan-akan memiliki relevansi antara keduanya. Mutik ruluh bunge mala menggambarkan kematian tidak mengenal batas usia, waktu dan tempat, kapan, dimana dan siapa saja. Sementara pandemi ini juga akan menginfeksi kepada saja, tidak perduli apakah orang tua, muda, laki-laki perempuan, para pejabat negara maupun rakyat biasa, bahkan orang beriman sekalipun maupun yang tidak beragama, orang alim mengerti agama dan yang banyak dosa, orang miskin mapun yang kaya juga tidak luput dari penularan virus yang mematikan.

Karena itu. peringatan mutik ruluh bunge mala dan serangan covid-19 yang begitu dahsyat sampai membuat nyali semuanya orang kecut, perlu diwaspadai dan dihindari serta penting untuk menjaga diri dengan melakukan social distancing dan physcal distancing.

Namun alangkah ironisnya himbawan social distancing dan physcal distancing sebagai mana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), seakan tidak mendapat perhatian serius. Padahal himbawan dan regulasi tersebut diharapkan dapat memutus mata raintai penularan covid-19 yang mematikan. Musuh ini nyaya tetapi tidak kasat mata, oleh sebab itu demi kebaikan dan kesehatan bersama sebaiknya anjuran itu dipatuhi.

Ditengah merebaknya penularan covid-19 yang tidak menutup kemungkinan akan menginfeksi siapa saja maka, sebaiknya masyarakat mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing dan physcal distancing sebagai upaya melindungi diri dan keluarga dari serangan virus yang tidak nampak wujudnya, karena mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Mutik ruluh bunge mala juga telah memberi gambaran dan mengajak masyarakat lebih merenungi kehidupan yang tidak diketahui kapan akan berakhir. Virus corona juga semakin gecar menyerang manusia, sementara dalam hitungan hari ramadhan akan tiba, umat Islam akan menjalankan ibadah puasa.

Sebagai orang beriman yang meyakini rukun Islam ke 4 tentu akan sedikit terusik dalam melaksanakan ibadah akibat adanya wabah covid-19, makhluk Allah terkutuk yang datang tak diundang pulang tak diantar, cukup sudah siksaan batin yang kamu sebarkan, cukup sudah derita yang kamu berikan, jangan lagi jejali dengan beban pikiran gundah gulana, was-was, khawatir, takut berkepanjangan sampai nembuat setres, enyahlah dari kehidupan kami, sebab dalam hitungan hari umat muslim akan melaksanakan ibadah puasa dan tarawih, dengan adanya covid-19 tentu akan terasa berbeda dengan Ramadhan sebelumnya.

Namun yang lebih penting lagi umat muslim agar tidak terganggu dengan pernyataan nyeleneh dari orang yang tidak mengerti agama, bahkan mungkin sedang memiliki kedangkalan aqidah yang mengusulkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama (kemenag) RI agar tahun ini puasa ditiadakan yang disampaikan melalui kicawan lewat akun twitternya.

Hitungan hari Ramadhan akan tiba, mari sambut kehadiran tamu agung yang telah mentradisi secara turun-temurun, dalam adat Gayo tradisi menyambut Ramadhan dinamakan megang. Mengingat megang tahun ini dalam situasi resah akibat penyebaran covid-19, maka tradisi megang, pelaksanaan puasa dah tarawih harus tetap mematuhi protokol kesehatan dan mengikuti himbawan yang disampaikan pemerintah demi kebaikan dan kesehatan bersama.

News Feed