oleh

Merajut Asa Dari Dapur Batu Bata

 

Penulis: Mutia Andriani (Mahasiswi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Langsa)

 

Hari masih gelap, Mentari masih enggan memperlihatkan kemilaunya namun adzan subuh telah berkumandang di seluruh penjuru desa. Tampak seorang ibu yang sibuk berbenah diri untuk shalat, selesai shalat ia pun mulai membersihkan rumah dan berkutat didapur mempersiapkan sarapan bagi seluruh anggota keluarga.

Tepat pukul setengah 7 pagi Marsidah lekas pergi bekerja, maklumlah profesinya sebagai buruh pencetak batu bata menuntut Marsidah untuk pergi bekerja lebih cepat. Bukan karna jarak yang ditempuh jauh atau pergantian shift bekerja, namun di pagi hari lah waktu yang paling ideal untuk mencetak batu bata karna tubuh yang masih segar dan tenaga yang masih prima.

Sudah 5 tahun Marsidah menjadi buruh pencetak batu bata di desanya yaitu Desa Aramiyah. Desa Aramiyah sendiri merupakan sebuah desa yang membentang di Jalan Medan-Banda Aceh, berada Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur, Desa Aramiyah terdiri dari 4 dusun yaitu Dusun Bukit Guru, Dusun Bukit Keramat, Dusun Peutua Badai dan Dusun Bina Harapan. Awalnya di tahun 1960- an desa Aramiyah hanya ditinggali oleh 17 kepala keluarga dengan luas wilayah ±2

km², kondisi desa cukup sepi dengan vegetasi didominasi oleh hutan-hutan. Namun saat ini, Desa Aramiyah semakin mengalami perluasan hingga memiliki luas wilayah 850 km² dengan jumlah penduduk 1.610 jiwa yang terdiri dari 466 KK.

Desa Aramiyah sendiri menurut sejarah sangat erat kaitannya dengan kampus tempat penulis menimba ilmu sekarang ini yakni Institut Agama Islam Negeri Langsa yang awalnya bernama IAI Zawiyah Cot Kala Langsa (1980), dimana Zawiyah Cot Kala Heritage peradaban Islam di Nusantara berdiri pada abad 9 Masehi di Aramiyah Birem Bayeun.

Sejak tahun 1980-an Desa Aramiyah dikenal sebagai desa penghasil batu bata di Aceh Timur. Yap batu bata, bahan utama dalam pembangunan rumah. Bisa jadi rumah yang anda tempati sekarang ini, bahan utamanya merupakan batu bata dari Desa Aramiyah.

Masyarakat Desa Aramiyah menggantungkan perekonomian dari bertani, berkebun, nelayan, berjualan dan menjadi buruh pabrik kelapa sawit. Namun sebagian besar masyarakat Desa Aramiyah menggantungkan hidup dari usaha pembuatan batu bata. Kondisi topografi Desa Aramiyah yang berupa perbukitan juga sangat mendukung dalam pengembangan usaha pembuatan batu bata, dimana tanah perbukitan dijadikan bahan utama batu bata.

 

Untuk menjadi sebuah batu bata yang bernilai, batu bata mengalami serangkaian proses yang tidak instan. Awalnya tanah perbukitan yang berkomposisi baik akan digali dengan bantuan cangkul dan dikumpulkan di dalam lubang yang diameternya bisa bervariasi tergantung banyaknya tanah yang akan diolah. Setelah tanah terkumpul kemudian akan dicampur dengan air dan dibajak menggunakan traktor tangan atau menggunakan kerbau selama ±1 jam hingga mencapai tekstur tanah liat.

 

Selanjutnya tanah akan dipindahkan ke meja pencetakan untuk selanjutnya dicetak dengan alat khusus, biasanya bagian pencetakan batu bata ini dilakoni oleh perempuan. Untuk 1 buah batu bata yang dicetak, pencetak batu bata akan menerima upah Rp.60.-, dalam sehari rata-rata pencetak batu bata dapat mencetak sekitar 800-1.000 batu bata dan akan menerima upah Rp.48.000-Rp. 60.000.

 

Setelah dicetak, batu bata akan dikeringkan selama ±seminggu atau lebih tergantung cuaca, jika cuaca panas maka tentunya batu bata akan lebih cepat kering untuk kemudian dimasukkan kedalam dapur pembakaran. Dapur pembakaran biasanya berukuran segi empat dengan satu sisi yang berlubang untuk dimasukkan kayu pembakaran. Ukuran dapur pembakaran pun bervariasi namun idealnya berukuran 20 ribu batu bata untuk lebih menjaga kualitas dari batu bata itu sendiri. Pembakaran dilakukan selama dua hari dua malam dengan bahan bakar utama yakni kayu dengan kualitas baik pula.

Setelah serangkaian proses tersebut barulah batu bata dapat dijual. Batu bata siap jual harganya dapat bervariasi mulai dari Rp.320-Rp.450.- tergantung kualitas dan kondisi perekonomian, biasanya harga termahal dapat terjadi apabila terdapat kenaikan BBM atau di musim penghujan. Dalam sebulan tempat pembuatan batu bata dapat melakukan 2 kali pembakaran dengan omset Rp. 8.400.000- Rp.13.000.000/pembakaran.

 

Di awal masa pandemi sendiri di tahun 2020, berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis kepada beberapa pemilik usaha batu bata bahwa Covid-19 ikut memberi dampak pada usaha mereka karna penjualan batu ikut mengalami penurunan. Pada kondisi normal terkadang mereka dapat memperoleh pesanan batu bata dari individu ataupun swasta hingga over capacity, namun di masa pandemi penjualannya hanya mampu memberi return yang sedikit.

Namun seiring berjalannya waktu dengan peredaran vaksin dan perekonomian yang mulai membaik juga memberikan dampak baik bagi usaha batu bata. Pembangunan yang awalnya terhambat akhirnya dilanjutkan kembali dan membuat dapur pembakaran batu bata lebih mengepul, pemilik usaha juga telah mampu beradaptasi dengan kondisi pandemi dan menjalankan usaha dengan lebih baik lagi.

Usaha yang telah dijalankan puluhan tahun oleh masyarakat telah memberikan warna tersendiri bagi Desa Aramiyah. Meskipun penghasilan yang didapat tidak terlalu besar, namun usaha batu bata lah yang menjadi roda penopang ekonomi masyarakat. Pemilik usaha membutuhkan pegawai, Pemilik usaha membutuhkan pengrajin kayu cetakan batu bata, pemilik usaha membutuhkan kayu pembakaran dari pemilik kebun, pemilik kebun membutuhkan pegawai untuk mengangkut kayu, hal tersebut menjadi simbiosis mutualisme dan secara berkesinambungan membuat perekonomian tidak mati suri di masa pandemi.

Jika anda membutuhkan batu bata sudilah kiranya anda mengunjungi Desa Aramiyah. Dengan membeli sebuah batu bata, anda dapat membantu perekonomian kami terus membara.

Jangan Lewatkan