oleh

Meraih Kemulian dengan Infakkan Harta

Aceh Besar – Melihat kondisi ekonomi umat hari ini yang tidak stabil karena sedang menghadapi berbagai permasalahan akibat naiknya harga sebagian barang, maka siapa diantara umat Islam yang tidak ingin kesulitan hidupnya dimudahkan? Siapa yang tidak ingin rezekinya dilancarkan oleh Allah Swt? Siapa yang tidak ingin kehidupannya makmur dan sejahtera?

“Tentu saja kita ingin mendapatkan hal itu. Kita semua berharap rezeki melimpah, hidup bahagia dan terlepas dari belenggu kesulitan dan rumitnya masalah kehidupan,” kata Pimpinan Dayah Raudhatul Qur’an Al-Aziziyah Lamsiteh, Tgk Salman SHI MSh, dalam khutbah Jumat yang akan disampaikan di Masjid Al Faizin Lampeuneurut, Kecamatan Darul Imarah, 30 September 2022 bertepatan 4 Rabiul Awal 1444 H.

Karena itu, dia menjelaskan, barangsiapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda dan baginya pahala yang mulia (karim). “Mari kita renungkan sejenak, apakah yang disebut dengan karim atau kemuliaan itu. Hanya dengan meminjamkan dan menginfakkan harta di jalan Allah, maka Allah menyematkan kata karim yang penuh keagungan dan kemuliaan itu,” katanya.

Dalam kaitan ini, Allah Swt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 245: “Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.

Demikian juga Allah Swt berfirman, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”. (QS Al Baqarah: 261)

Dosen STIS Nahdlatul Ulama Aceh ini menjelaskan, Allah Swt memberikan perumpamaan terhadap orang-orang yang mau menyisihkan hartanya di jalan Allah dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai dan tiap tangkai tersebut ada seratus biji.

“Ini ibarat modal yang kecil, tapi mendapatkan keuntungan besar. Hal ini tentu saja karena karunia Allah sangat luas dan tanda sayangnya Allah terhadap orang-orang yang mau berbagi harta yang dititipkan oleh Allah SWT kepadanya,” ujarnya.

Dia menambahkan, sebagai manusia yang memiliki keyakinan kehidupan ini hanya sifatnya sementara, umat Islam meyakini segala harta yang ada bersamanya pada hakikatnya adalah milik Allah. Kita hanya sebagai pemegang amanah titipan Tuhan, karena itu tidak perlu bangga, sombong, dan angkuh dengan harta. Apalagi pelit dengan harta. Harta itu semua akan dicabut oleh Allah Swt, bahkan manusia itu sendiri akan kembali kepada-Nya.

Allah Swt berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 46: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan”.

“Allah Swt menegaskan dalam ayat tersebut, bahwa harta hanya perhiasan kehidupan dunia yang sifatnya tidak kekal, hanya bagaikan sandiwara kehidupan yang akan tamat pada waktunya. Begitu juga anak-anak yang diberikan Tuhan kepada kita, itu semua perhiasan kehidupan dunia semata,” tabahnya.

Menurut Salman, harta dan anak tidak akan mendatangkan manfaat apapun bagi kehidupan kelak di hari pembalasan, melainkan ketika kita masih hidup mau berbagi, saling membantu, menolong orang-orang yang sedang kesulitan, menolong lembaga-lembaga pendidikan, rumah ibadah, para penuntut ilmu, serta orang-orang yang berdakwah di jalan Allah Swt.

“Harta itu akan bermanfaat bagi kehidupan akhirat ketika kita manfaatkan di jalan Allah Swt. Kita akan raih kemuliaan dengan menginfakkan sebagian harta,” pungkasnya. (Ridha)

Jangan Lewatkan