oleh

Menilik Sekilas Sejarah Kampung Tunyang Bener Meriah

Oleh Fahmi Rezeki*

Indonesia memiliki beragam ribu pulau yang membentang luas dari Sabang hingga Marauke. Disamping itu pula, Indonesia memiliki beragam budaya dan kesenian yang tersebar di berbagai daerah di tanah air Indonesia. Terlepas dari itu semua, sebagai salah satu negara yang meiliki banyak kebudayaan sudah tentu banyak mengalami kejadian-kejadian penting di masa lampau atau bisa disebut sebagai peristiwa sejarah.

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengulas salah satu sejarah yang pernah terjadi di daerah dataran tinggi Gayo, yaitu kampung Tunyang di Kecamatan Timang Gajah Kabupaten Bener Meriah provinsi Aceh. Disini penulis sedikit mengupas tentang bagaimana dan dari mana kata Tunyang itu berasal, serta kejadian-kejadian penting yang mungkin sekiranya juga perlu penulis ulas dalam tulisan ini.

Selain itu, juga dewasa ini penulis melihat ada beberapa adat dan kejadian sejarah yang mulai perlahan dilupakan oleh generasi penerusnya, padahal perlu diketahui jika Tunyang adalah salah satu desa yang mempunyai penduduk dari golongan generasi muda yang bertalenta, inovatif dan kreatif. Semoga dengan ulasan tulisan ini, kiranya nanti bisa bermamfaat untuk pembaca.

Asal Nama Kampung Tunyang

Mengenai atas penamaan kampung Tunyang ini, sempat penulis melakukan wawancara kepada beberapa tokoh masyarakat di kampung Tunyang setempat seperti bapak Umer Johan (48) Imam Kampung dan merupakan pengawai di kantor Majelis Adat Gayo (MAG) Bener Meriah, ibu Nur Hayati (70), warga setempat, bapak Aman Ati (80) (Petue dan mantan TNI, bapak Aman Asmara atau Nauhara (74) dan merupakan Petue, serta bapak Aman Mul (60) sebagai Petue kampung.

Ada beberapa pendapat terkait dengan asal muasal Kata Tunyang. Pertama, kata Tunyang telah populer dikenal dan berasal dari sebuah pohon yang terdapat di salah satu aliran sungai di daerah Bur Bale (salah satu kampung di kelurahan Tunyang).  Menurut keterangan kebanyakan narasumber, dahulu di samping sungai itu terdapat pohon besar yang kemudian ditebang oleh masyarakat. Namun dikala itu masyarakat Tunyang dalam hal ini masih minim pengetahuan menebang, sehingga dalam proses penebangannya kayu tersebut tidak sempurna, melainkan meruncing ke atas. Dalam bahasa Gayo, peristiwa ini diterjemahkan disebut “Merunyang”.

Kedua, pendapat lain mengatakan bahwa sebenarnya kayu itu bukanlah di tebang oleh warga pada jaman dahulu, melainkan karena kejadian sambaran petir yang membuat kayu itu menjadi tumbang, dan mengalami “merunyang”, dan mereka sepakat dengan kejadian ini.

Ketiga, sebenarnya nama Tunyang itu bukanlah halnya seperti yang di perbincangkan diatas, bukan dari kata “Runyang”, melainkan memang pada hakikatnya Tunyang merupakan suatu bahasa Gayo dulu yang sudah jarang diketahui oleh masyarakat. Seperti yang disampaikan pak Asmara, menurutnya kayu yang di seberang aliran sungai itu sewaktu di tebang, secara perlahan kembali bangkit, atau dalam bahasa Gayonya disebut “Unyang”. Pak Asmara membantah jika nama Tunyang itu berawal dari kata Runyang.

“yang cuman saya tau yang membuka Tunyang pertama cuman ini, ialah Reje Banta kira kira pada tahun 38 dibuka ini desa, itu sudah masuk pekerja geh,” katanya.

Dijelaskan juga bahwa salah satu bukitdi desa setempat dinamai Buntul Krutum. Disebut Buntul Krutum, karena dulu waktu perjalanan dari Linge ke Kotaraja (Kutereje) maupun sebaliknya, orang-orang menjadikan tempat ini sebagai tempat beristirahat untuk makan. Kemudian, karena dulu tidak adanya tupperwer, jadi dulu orang makan memanfaatkan daun pisang. Setelah makan langsung membuang daunnya di sana, sehingga lambat laun dan lama-kelamaan menjadi sebuah bukit lantaran banyaknya orang yang beristirahat di tempat itu.

“Dan juga dulunya lintasan Kota Raja-Lingge bukan jalan yang sekarang, tapi melalui jalur yang ada di bur teter sana, kemudian turun ke bawah SMP ini, lalu naik ke atas ke buntul Krutum tadi. Tapi jika sekarang sebahagian orang juga tidak tau dimana Buntul Krutum itu sekarang, sebahagian cuman yang tahu, seperti pak lis sana, mengapa dia tau karna berada di area kebunnya,” tegasnya.

Menamai dengan kata “Tunyang”

Dari penelusuran di lapangan, semua narasumber menyatakan bahwa ini berasal dari candaan dan gurauan para nenek moyang orang Tunyang dahulu. Mengenai nama Tunyang ini di sematkan oleh putri sulung Reje Linge bernama Qurratul Ain pada tahun 1600 M. Diberi nama Tunyang oleh putri sulung Reje Linge, usai berangkat dari Kota Raja pulang ke Linge, seorang prajurit bertanya kepada Datu beru “di mana kita beristirahat,” kata prajurit, maka Datu Beru menjawab “ di sana ada kampung yang menebang kayu atas,” jawab Datu Beru. Seperti yang disampaikan diatas, orang yang belum mahir menebang kayu disebut dengan (mererunyang dalam bahasa Gayonya).

Selain itu, ada narasumber yang mengatakan jika kampung Tunyang ini lebih dulu ada ketimbang kejadian Datu Beru diatas. Hal ini dapat di lihat pada pernyataan Ketika sedang menyusung Datu beru, para prajurit melihat ada seseorang yang sedang memanen jagung, sehingga disimpulkan bahwa Tunyang memang sudah ada sejak kejadian itu, dan dulu Tunyang termauk kampung tertua setelah Ketol, dan Kampung Isaq.

Penduduk Asli Kampung Tunyang

Pada dasarnya penduduk kampung Tunyang berasal dari kampung Gunung dan Bukit, hal ini di katakan berdasarkan Bukti yang terdapat pada kedua kampung masing masing. Pertama dikatakan jikalau Bukit menjadi awal kedatangan masyarakat iyalah melihat kepda sudah di bangunnya masjid pertama di sana yan sampai ini masih menjadi tempat untuk salat jum’at di desa tunyang dan merangkul seluruh desanya, namun di kampung GUnung juga menegaskan bahwa merekalah penduduk yang pertama menginjakkan kaki di desa Tunyang, hal ini di dasari dengan adanya Penghulu atau kepala kampung di desa GUnung TUnyang yang mencakup seluruh Desa yang ada di kelurahan TUnyang tersebut, namun juga ada beberapa yang menyimpulkan bahwa ada yang dari Ketol yang bermukim di kampung Gegur sepakat, da nada juga yang mengatakan dari datu beru.

Namun saya kembalikan ke dasar, yang lebih popular di kalangan masyarak tunyang ialah awal dan dasar kampung pertama di Tunyang ialah Orang yang ada Di desa Bukit Tunyang dan Gunung Tunyang, di karenakan masing masing memiliki bukti dan dasar yang sama.

Peristiwa yang Berkaitan dengan Kampung Tunyang

Atu Beremun

Pada jaman dahulu, Tunyang merupakan salah satu “Perueren” (kandang kerbau) yang terdapat di Gayo. Perueren itu terbentang mulai dari kampung Datu Beru, hingga Buntul Kemili atau sekarang di sebut dengan desa Tunyang induk. Biografi desa Tunyang pada saat itu memang merupakan habitatnya harimau yang datang dari daerah Bintang Pepara, juga merupakan kawasan hutan sebelum berubah menjadi kawasan sawah.

JIka di sebelah Utara, yaitu kampung Gegur. Dulunya kawasan lembah yang banyak terdapat benih benih malaria, sehingga dulu desa Tunyang di mata masyarakat lain di tanah Gayo merupakan sebuah kawasan yang aneh, atau yang memiliki kegiatan yang masih jauh dari agama, sehinnga dulu masyarakat beranggapan jika di Tunyang itu ada orang yang tukang santet.

Namun menurut salah satu narasumber, jika sebenarnya yang terjadi bukanlah sedemikian rupa, tapi karena benih benih maralia tersebut, sehingga terkadang masyarakat mengangap Tunyang itu angker padahal hanya saja pengetahuan pada saat itu minim.

Jadi sewaktu masih menjadi kandang kerbau dulu, ada seorang saudagar yang datang dari Isaq yang menitipkan kerbaunya untuk di rawat di desa Tunyang, setelah berapa lama ia merawat kerbau, Menurut beberapa pendapat jika yang memelihara kerbau itu ialah seorang Aman dan Inen Mayak (Pengantin baru). Namun saat itu si istrinya sedang hamil tua dan ngidam, sehingga meminta kepada suami hati kerbau, namun apa daya nasip berkata lain, si pemilik kerbau enggan memberikannya dengan alasan empunya kerbau juga belum pernah memakan kerbau.

“Aku saja tidak pernah memakan kerbau, masak kamu hanya kacungku mau memakannya.” Pada saat itulah si pengantin baru ini yang tengah hamil tua tadi merasakan sakit hati yang mendalam sehingga bersumpah kerbau yang masuk dari Isaq tidak akan pernah selamat jika masuk ke desa Tunyang. Mulai peristiwa itu, sumpah yang dikatakan pengantin itu terwujud, dan sewaktu itu berkebetulan dengan berakhirnya umurnya, dan batu nisannya itulah menjadi Atu Beremun atau Batu berembun yang dikelilingi oleh embun. Sebuah batu yang keramat di kalangan masyarakat Tunyang, hingga sekarang batu itu tidak mau berpindah dari pempatnya, kecuali atas ijin Allah. Sisi lain, yang bisa melihatnya adalah orang yang bertakwa dan beriman.

Namun ada beberapa narasumber yang mengatakan jika ia bukan pengantin baru, melainkan seorang anak yatim piatu, dan yang berubah menjadi batu bukanlah dari nisannya, melainkan si anak kecil itu sendiri.

Atu Gemparalam

Tidak berbeda dengan desa Batu Beremun, Atu Gempar Alam ini juga merupakan salah satu batu yang dulu merupakan suatu tanda. Dikutip dari hasil wawancara penulis dengan beberapa tokoh masyarakat kampung Tunyang, mereka semua menyatakan bahwa memang betul Batu Gempar Alam ini merupakan batu yang ketika musim hujan, dia mengeluarkan suara seperti gemuruh yang akan terjadinya hujan. Namun ketika musim kemarau juga dia mengeluarkan suara. Batu ini terletak di bawah pemakaman Datu Beru yang bertepatan jika saat ini di sawahnya aman Subhan.

Namun di dalam mengali sejarahnya, di sini ada juga narasumber yang negatakan jika sebenanya bukan batu itu yang bergetar atau bergiyang, “iya, dulukan sawahnya asbal sana tu, udah di jualnya, jadi dulu karena keadaanya dalam lembah itu, kalau kita ke sana terayun ayun seakan terjadi gempa, karna lembah, jadi karna terayun ayun kan seperti gempa, terus orang jaman memberi namanya gempar Alam. Kerbaupun lekat di sana tidak bisa keluar,” kata Aman Ati.

Jika dikaitkan dengan akal, ini merupakan hal yang logis namun juga tidak bisa terlepas dan menyatakan kepercayaan orang Tunyang dulu masih minim akan ilmu agama.

Sementara narasumber lain, atas dasar hal itu Atu Gempar Alam terbentuk menjadi salah satu kampung, yang dinamai dengan kampung gegur. Lahirnya nama Gegur ini lantaran getaran yang di buat oleh Gempar Alam konon membuat suara gemanya hingga ke perkampungan penduduk yang ada di sebelah barat. Para Petue di kampung itu sepakat untuk memberikan nama kampung itu dengan anama kampung Gegur Sepakat.

Tapi ada juga dari narasumber yang berpendapat bahwa kampung Gegur ini tidak ada kaitannya dengan Gempar Alam sebagaimana dikatakan diatas. “batu ada di belakang kampung itu yang berbunyi seperti petir yang menyambar, kayak batu gempar alam jaman,” jadi dapat kita artikan bahwa sebenarnya ia serupa tapi tak sama, lain tempat dan lain keadaan.

 

KESIMPULAN

Dari tulisan yang penulis buat ini, dapat disimpulkan bahwa sebenanya Tuyang di jaman dahulu kala bisa di sebut dengan kampung tertua, dengan Isaq, Ketol. Tunyang merupakan jarul transportasi antara Linge dan Kota Radja (Kute reje) sekaligus sebagai saksi bisu peristiwa kelam yang terjadi pada Datu Beru atau Quratul ‘Ain.

Banyak peristiwa peristiwa unik dan menarik di kampung ini yang bisa diambil ikhtibar, seperti jangan menjadi orang yang bahkil, ini terjadi pada kisah Atu Beremun tadi. (REDAKSI)

*Fahmi Rezeki merupakan mahasiswa asal Tunyang Bener Meriah dan sedang kuliah pada jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh.