oleh

Meneropong Calon Bupati Aceh Barat

(Foto: Sulthan Alfaraby bersama Wakapolda Aceh dan jajaran di hari pelantikan Kapolda Aceh tahun 2020)

 

OLEH SULTHAN ALFARABY, Penulis Buku Cahaya di Dalam Gelap dan 4 buku lainnya.

BARANEWS | INI bukanlah tulisan untuk membela ataupun untuk menjatuhkan sebelah pihak. Melainkan, ini adalah perspektif saya selaku mahasiswa sekaligus generasi muda Aceh Barat dan menginginkan kemajuan yang lebih signifikan bagi segenap masyarakat Aceh Barat yang berkiprah di berbagai sektor.

Dalam tulisan ini, saya ingin mengulas terkait pandangan saya yang akan saya ‘lemparkan’ kepada para calon Bupati Aceh Barat kedepannya. Semoga, bisa menjadi masukan dan pertimbangan dalam menggenggam tongkat estafet demi menggerakkan roda pemerintahan Aceh Barat selanjutnya.

Hari ini adalah hari Sabtu, tanggal 6 Maret tahun 2021. Di tahun ini pula, kisruh Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Aceh tahun 2022 pun saya cermati sembari menikmati kopi. Namun, kita tak usah terlalu jauh berbicara ke arah itu. Tapi yang pasti dan wajib kita ingat, siapapun pemimpin selanjutnya, maka haruslah mampu membawa daerah yang dipimpinnya itu ke arah yang lebih baik dari periode sebelumnya.

Kebetulan, saya ini saya iseng-iseng membuka website yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat. Seperti diketahui, Aceh Barat adalah wilayah yang sudah ada sejak masa kesultanan Aceh. Menurut informasi detail yang dipaparkan oleh Pemkab Aceh Barat melalui website, wilayah bagian barat Kerajaan Aceh Darussalam ini sudah mulai diresmikan sekitar abad ke-16.

Kemudian pada tahun 2002, Aceh Barat telah dimekarkan menjadi tiga Kabupaten. Yaitu Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Barat sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002.

Meskipun juga berada di daerah pesisir pantai, yang dimana terdapat usaha di bidang perikanan dan kelautan, namun masyarakat Aceh Barat juga sepertinya tak mau kalah dalam usaha di bidang pertanian dan perkebunan. Ini adalah salah satu prospek yang menarik untuk kita kembangkan lebih lanjut. Tentunya, dengan beragam inovasi yang lebih mendongkrak perekonomian masyarakat dan daerah.

Menurut pandangan saya selaku mahasiswa yang belajar pada Program Studi Biologi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, saya lebih tertarik untuk menyarankan jika di Aceh Barat juga ikut dikembangkan ekowisata (bisa berbasis bahari atau non bahari). Akan lebih baiknya ekowisata ini menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan dan tentunya sesuai dengan Syariat Islam.

Sehingga, selain dapat dinikmati oleh wisatawan secara visual yang melibatkan pemasukan ekonomi bagi daerah, juga mengandung nilai-nilai “pendidikan” di wilayah tersebut. Jangan hanya sekedar datang dan pulang, namun wisatawan dari kalangan mahasiswa dan pelajar misalnya, bisa melakukan penelitian dan pembelajaran tentang alam. Ini adalah suatu hal yang dinanti-nantikan.

Menurut Hakim (2005), The World Tourism Organization (WTO), sebuah lembaga kajian dan pendukung usaha wisata antar pemerintahan yang bermarkas di Madrid, mendefinisikan aktivitas wisata sebagai suatu kegiatan manusia yang melakukan perjalanan “keluar dari lingkungan asalnya” tidak lebih dari satu tahun untuk berlibur, berdagang, atau urusan lainnya.

Kemudian saya paparkan, menurut Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (2003), ekowisata adalah suatu konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat dan pemerintah setempat. Ditinjau dari segi pengelolaannya, ekowisata didefinisikan sebagai penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab di tempat-tempat alami dan atau daerah-daerah yang dibuat berdasarkan kaidah alam, yang secara ekonomi berkelanjutan dan mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Dari dua hal pemaparan diatas tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa potensi wisata, khususnya ekowisata itu sangatlah menjanjikan. Terlebih, jika Aceh Barat itu sendiri merupakan wilayah yang sangat strategis dan sangat cocok. Apalagi, setiap tahun ada banyak sekali orang yang berlalu-lalang di kabupaten ini.

Jika hal ini dikembangkan, maka tentunya akan lebih mendatangkan pengunjung dalam jumlah besar, yang nantinya akan mendongkrak perekonomian daerah di berbagai sektor. Selain itu, hal ini tentunya mampu menjadikan Aceh Barat bersanding dengan daerah-daerah lainnya yang sudah menerapkan ekowisata sebagai program andalannya.

Tentunya, hal ini tidak akan mampu diwujudkan, jika calon Bupati Aceh Barat kedepannya tidak saling bersinergi dengan seluruh stakeholder. Kita tentu berharap, calon Bupati Aceh Barat kedepan, nantinya lebih berinovasi dan mampu membawa Aceh Barat menuju masa keemasannya. Apa yang sudah dibangun untuk Aceh Barat selama ini oleh seluruh pihak, adalah wujud kerja keras bersama yang patut diapresiasi. Semoga apa yang menjadi progres selama ini bisa dipertahankan dan dikembangkan.

Tentunya, kita jangan hanya puas sampai disini, marilah kita implementasikan semangat juang Teuku Umar di masa lampau yang tak kenal menyerah dalam berjuang demi daerah kita sehingga sangat disegani oleh dunia luar. Hal ini patut diwujudkan, oleh siapapun pemimpin bagi Aceh Barat kedepannya, siapapun itu. Tidak ada yang tidak mungkin, asalkan pemimpin benar-benar berjuang sepenuhnya untuk daerah dan bukan karena kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok.

Kira-kira, jika kita boleh meneropong calon Bupati Aceh Barat kedepan yang memiliki ide kreatif dan inovatif, siapakah yang pantas memimpin Aceh Barat kedepannya dan mampu mengimplementasikan ekowisata demi mendongkrak perekonomian daerah secara signifikan? Nyan ban! (RED)

News Feed