oleh

Menelisik Perilaku Pelanggar Social Distancing dari Kaca Mata Teori Kebutuhan Abraham Harold Maslow

Ilustrasi/net

Penulis : Sarinah

Mahasiswi Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Unsyiah

Novel corona virus-19 (2019-nCoV) sekarang diganti nama menjadi COVID-19 (Corona Virus Disease-19), pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China tanggal 30 Desember 2019 pada orang ynang mengalami peradangan paru (pneumonia), kini telah menyebar di Indonesia. Covid-19 ditularkan secara langsung maupun tidak langsung melalui hidung, mulut, mata dan tetesan (droplets) yang dihasilkan dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi. Tetesan dapat mencemari benda-benda seperti alat rumah tangga, gagang pintu, air, alat pribadi maupun fasilitas umum lainnya yang menjadi sumber penularan.

Virus corona dapat berbahaya karena tak semua orang menunjukkan gejala. Hal ini mengkawatirkan kerena individu tersebut tetap bisa menular virusnya ke orang lain. Hingga saat ini, belum ada obat yang disepakati ilmuwan untuk mengatasi COVID-19. Riset terkait obat COVID-19 masih dalam penelitian dan pengujian oleh para ahli di banyak negara. Beberapa pihak telah mencoba obat malaria, obat flu, dan antivirus dalam menangani COVID-19. Namun, penting untuk diketahui bahwa belum ada obat COVID-19 yang diyakini aman dan tak menimbulkan kerugian bagi penderitanya. Begitu pula dengan vaksin sebagai cara pencegahan penularan infeksi virus. Seperti obat, vaksin COVID-19 masih dalam tahap pengujian oleh para ahli.

Dalam upaya penanganan dan pencegahan wabah virus corona di Indonesia pemerintah dianjurkan untuk melakukan social distancing. Social distancing merupakan salah satu langkah pencegahan dan pengendalian infeksi virus corona dengan menganjurkan orang sehat untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain. Kini, istilah social distancing sudah diganti dengan physical distancing yaitu tindakan menjaga jarak fisik antara satu orang dengan orang lain. Contoh untuk social distancing meliputi penutupan sekolah, kantor, dan penangguhan pasar umum, dan pembatalan pertemuan. Ketika menerapkan social distancing, seseorang tidak diperkenankan untuk berjabat tangan serta menjaga jarak setidaknya 1 meter saat berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan orang yang sedang sakit atau berisiko tinggi menderita COVID-19.

 

Namun dibalik adanya istilah social distancing menjadi dilema bagi masyarakat dalam penerapannya, dimana masyarakat kesulitan dalam menjalankan social distancing karena kebiasaan dalam kebersaamaa, kerjasama, solidaritas, dan sejenisnya sebagai bentuk dari interaksi sosial, bagi masyarakat awam  beranggapan social distancing hanya sebatas menjaga jarak, terlihat pada saat ketika berada diarea publik seperti ketika melakukan antrian di anjungan tunai mandiri (ATM). Masyarakat harus melakukan aktivitas di tempat tinggal masing-masing sementara, sebelumnya mereka melakukan aktivitas dengan banyak orang secara bersama-sama. Kebijakan social distancing di dunia kerja yang sebelumnya terjadi secara on site diganti dengan online dan saat ini mulai menimbulkan kejenuhan bekerja di rumah. Bahkan banyak dari masyarakat sekarang mulai melanggar social distancing yaitu mereka yang tidak mentaati imbauan berkegiatan yang memungkinkan terjadinya pengumpulan massa selama pandemi COVID-19, dimana orang-orang masih melakukan mudik ke daerah masing-masing menjelang bulan puasa dan lebaran. Mudik merupakan fenomena tahunan menjelang hari raya besar di Indonesia, terutama saat hari raya idul fitri.

Mudik tahun ini menimbulkan polemik, karena sedang adanya wabah virus corona di Indonesia. Beragam alasan dari mereka yang melakukan mudik ditengah wabah COVID-19 ini diantaranya, kangen ingin bertemu keluarga, ingin menjalani ibadah puasa bersama keluarga, mengalami perasaan ketakutan karena tidak dapat kesempatan lagi di lain waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan tidak tahu berapa lama harus berjuang sendiri di kota lain tanpa sanak saudara.  Menganggap dirinya sehat dan ingin menjaga anak beserta istrinya, ingin bermaafan dan memeluk orang tua secara langsung beserta keluarga, alasan karena sudah di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) atau dirumahkan oleh perusahaannya sampai ada keputusan lebih lanjut, dagangannya sepi pembeli, tempat bekerja sudah tutup sementara, menganggur, dan lain-lainnya.

Fenomena tersebut berhubungan dengan teori kebutuhan Abraham Maslow, teori yang paling kita kenal dari Maslow adalah piramida hirarki kebutuhan Maslow yang memiliki 5 tingkatan yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk dicintai dan keberadaan, kebutuhan untuk dihargai, kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Namun fenomenan yang diatas sangat berhubungan dengan kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan cintai dan keberadaan, atau kebutuhan untuk berafiliasi. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendasar dari setiap manusia, didalamnya adalah makanan, air, oksigen, mempertahankan suhu tubuh, dan lain sebagainya. Orang-orang yang terus menerus merasakan lapar akan termotivasi untuk makan, tidak termotivasi untuk mencari teman atau memperoleh harga diri. Ketika orang-orang tidak bisa memenuhi kebutuhan fisiologisnya, mereka akan berusaha berulang kali untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kebutuhan fisiologis ini sangat kuat, dalam keadaan absolut semua kebutuhan lain bisa saja ditinggalkan dan orang tersebut akan mencurahkan semua kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan ini. Orang-orang yang kelaparan akan terus berpikir tentang makanan dan bersedia untuk melakukan apa pun demi untuk mendapatkan kebutuhan ini. Kebutuhan fisiologis ini berbeda dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya terutama satu-satunya kebutuhan yang dapat terpenuhi atau bahkan selalu terpenuhi, perbedaan yang kedua adalah hakikat pengulangannya (kebutuhan ini bisa muncul kembali meskipun sudah terpenuhi sebelumnya). Selanjutnya kebutuhan akan cinta dan keberadaan atau kebutuhan berafiliasi ini juga sangat berhubungan pada fenomena diatas, kebutuhan ini merupakan keinginan seseorang untuk berteman, menjalin persahabatan, mempunyai pasangan, anak, kebutuhan untuk menjadi bagian dari sebuah keluarga, sebuah komunitas, lingkungan masyarakat, atau negara.

Perilaku pelanggar social distancing pada banyaknya korban PHK ditengah pandemi COVID-19 ini disebabkan karena perusahaan tidak bisa menggaji pekerja atau buruh disertai adanya pengurangan  pekerja atau  buruh, sehingga mereka tidak memiliki pekerjaan lagi, bekerja merupakan salah satu upaya seseorang untuk memenuhi kebutuhan fisiologis mereka, karena kebutuhan ini yang paling mendasar dari setiap manusia. Kebutuhan ini tidak bisa ditunda harus dipenuhi dengan cara apa pun, akibatnya korban PHK terpaksa melakukan tindakan kriminalitas seperti mencuri, merampok dan lain sebagainya, demi memenuhi kelangsungan hidupnya terutama kebutuhan fisiologis mereka, seperti makan dan minum.

Sementara pada fenomena mudik lebaran karena keinginan untuk bersatu atau bersama dengan keluarga ataupun tetangga di desa mereka masing-masing. Masyarakat Indonesia yang khas dengan budaya bersama-samanya membuat Indonesia terkenal dengan keramahan dan rasa kekeluargaan yang tinggi, dimana budaya kolektif tidak hanya sekedar warisan turun-temurun, namun juga menjadi bagian dari usaha kelangsungan hidup bersama. Baik di kampung kota maupun desa, budaya kolektif telah membantu banyak keluarga menyediakan bahan pangan hingga menyediakan rumah yang layak bagi tetangganya. Sayangnya, ditengah pandemi COVID-19, social distancing menjadi suatu tantangan tersendiri bagi perilaku masyarakat yang terbiasa melakukan aktivitas bersama-sama. Perlu dipahami bahwa tidak mudah mengimplementasi kebijakan social distancing dengan karakter masyarakat Indonesia yang kolektif. Budaya kolektif yang masih dilakukan masyarakat bukan semata-mata karena mereka tidak mentaati himbauan social distancing selama pandemi COVID-19. Namun budaya kolektif sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat yang tidak hanya sebatas keinginan untuk ngumpul, namun juga bagian dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka, di tambah lagi dengan akan berakhirnya bulan Ramadhan keinginan untuk mudik semakin besar kebutuhan untuk berafiliasi, bersosialisasi, berkumpul bersama keluarga semakin meningkat.  Akhirnya berbagai upaya di lakukan untuk mudik meskipun larangan mudik sudah dikeluarkan dan angkuatn penumpang sudah berhenti beroperasi.

Adapun hal-hal yang dapat diatasi dalam feneomena perilaku pelanggar social distancing ini diantaranya pemerintah dapat menyalurankan bantuan sosial (bansos) untuk seluruh masyarkat Indonesia secara merata dan tepat sasaran. Selain itu masyarakat juga dapat membantu melakukan pengecekan terhadap tetangganya seperti bertanya kabar, kebutuhan sehari-hari, adakah anggota keluarga yang sakit, dan sebagainya. Bagi masyarakat pedesaan, pemenuhan kebutuhan pangan bisa dilakukan dengan barter dan mengandalkan bahan herbal untuk membantu tetangga yang sakit. Untuk masyarakat perkotaan, kegiatan bersosial bisa diganti dengan media online yang umumnya lebih mudah dilakukan daripada masyarakat yang tinggal di pedesaan.

 

News Feed