oleh

Menakar Model & Pola Media Komunikasi Kita

-HEADLINE, OPINI-460 views
banner 970x250

Jacob Ereste :
Untuk membuat media apa saja awalnya memang harus menentukan arah atau keinginan dari media yang hendak dibuat itu. Dasarnya adalah sigmen pembaca mana yang akan diberi sajian yang kita tampilkan. Bisa saja sigmennya masyarakat umum, tapi resiko yang berat harus dihitung juga, sebab artinya pembaca yang hendak dijadikan sasaran sangat beragam. Bukan saja tingkat level kecerdasan dan daya nalarnya yang beragam, tapi juga unur, latar belakang mereka sangat sulit untuk diimbangi dengan sajian yang bisa kita suguhkan.

Karena itu biasanya untuk membuat media apa saja, tujuan utama atau yang lebih spedifik harus ditentukan. Soal politik, ekonomi atau budaya. Boleh juga lebih spesifik lagi masalah perempuan misalnya, atau soal obat-obatan atau tanam-tanaman. Nanun pada dasarnya ketika dipublis, masalah biasa akan muncul dari bilik lain dengan nada suka maupun tidak suka dapam prrspektif yang beda juga. Sikap pembaca atau pemirsa atau para penikmat seperti itu asalah hal yang wajar. Masalahnya tinggal bagaimana kita sebagai pengelola media yang bersangkutan mau memahami dan memberi permakluman.

Yang marak dalam medsos sekarang di Indonesia adalah masalah agama dan politik. Trend ini sangat mungkin sebagai fenomen dari pergesekan atau benturan budaya separti yang disinyalir oleh para cerdik pandai kaliber dunia itu merupakan bagian dari perang asimetris yang tengah berlangsung dan menjadikan negeri kita sebagai tempat perrarungan sekaligus obyek yang tengah diperebutkan.

Dalam suasana seperti itu, ketika kita hendak membuat media baru — entah apa saja bentuk dan formatnya — pasti tidak akan terlepas dari tampilan yang mau dijadikan unggulan. Setisalnya, situasi dan kondisi seperti itu patut juga menjadi bahan rujukan atau pertimbangan. Jika tidak, maka media yang kita buat akan tergilas atau dilibas oleh midel dan gaya serta segenap selera yang selalu mengatas namakan generasi mileneal.

Pendek kata, untuk membuat media massa baru dalam bebtuk apa saja sekarang, tetap saja harus menghitung kekuatan dari kemampuan pengelolaannya yang senantiasa bersandar pada fibansila, sumber daya manusia dan kemampuan teknis untuk menampilkan media yang bersangkutan. Umumnya dalam kemampuan teknis ini yang lebih utama adalah hal ikhwal redaksional. Baru menyusul kemudian manajeman tata kelola yang lebih bersifat khusus untuk pada usaha (keuangan dan pemasaran), sehingga eksistensi media mampu bertahan, setidaknya tak sampai gulur tikar sebelum berarung dengan segala kerumitan menjalankan program yang telah direncanakan sebelumnya.

Untuk media massa yang memilih sigmen khusus memang ada gampangnya dan juga susahnya. Paling tidak untuk menjaga konsistensi sajian yang tetap bercorak khas, harus dapat terus dipertahankan, sehingga secara pasti — meskipun lambat — kemajuan dari jumlah pembaca atau pemirsa dapat terukur untuk krmudian bisa dijadikan bahan rujukan mengevaluasi kelemahan-kelemahan yang ada. Sebab sifat dan sikap ugahari dari pengelola media yang hendak memberi pelayanan kepada publik, patut dijaga terus menerus. Jika tidak, maka wajar bila yang terjadi banyak pembaca atau pemirsa yang meninggalkan media bersangkutan. Karena arogansi intelektual pun acap dominan mewarnai tampilan media massa kita, termasuk medsos yang ingin tampil ke publik secara terbuka, tapi selaku membatasi akses pembaca dan simpatisan untuk berperan serta dalam mewarnai corak penampilan media yang selayaknya juga mau menerima saran, pendapat hibgga kehendak orang lain.

Jadi tirani dalam tata kelola media massa pun acap terjadi dan merupakan bagian dari karakter para pengelolanya, apakah yang besangkutan bersifat diktator yang selalu ingin memaksakan kehendak ternasuk gaya dan seleranya sendiri, atau bergaya feodal. Semua bisa dipilih, dan masing-masing punya resikonya sendiri. Demikian pula untuk yang memilih mazhab model sosialis demokratis misalnya bila boleh memakai istilah dari khazanah pilitik, maka resikonya pun bisa dipahami dan ditanggung sendiri juga.

Karena itu membuat dan memiliki media massa dalam bentuk apa saja — seperti WA dan FB umpanya yang dipercaya dapat dijadikan alat atau media komunikasi, publikasi serta informasi publik– tidaklah banyak bedanya dengan model dan bentuk dari media kebanyakan lainnya. Jika pun ada, hinya dalam hal tertentu saja. Toh melalui WA dan FB kita sebdiri bisa ditakar respon positif maupun yang negatif dari para pembaca atau pemirsa sajian yang sudah kita sungguhkan.

Banten, 25 Juni 2019

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed