oleh

Memupuk Spiritual Tak Pandang Bulu

Penulis : Fitri Ani 

Sebuah meunasah tua di dusun Temenggung, Desa Binjai masih kokoh dan layak pakai, dibangun setengah abad yang lalu, terbengkalai dan tak terurus begitu saja. Bangunan yang tanpa dilapisi cat mengurangi keanggunannya untuk dinikmati. Kegiatan ibadah yang biasa dilakukan seiring waktu mulai menghilang, kini bangunan itu tidak menampakkan kegagahannya lagi seperti awal mula ia beroprasi. Suasana itu tenggelam bersama sarang labah-labah yang menghiasi setiap sudut bangunan. Hal ini terjadi dikarenakan jarak antara meunasah dan masjid sangat berdekatan, sehingga meunasah dialih fungsikan menjadi tempat penyimpanan barang.

Melihat kondisi ini, Pak Datok setempat berinisiatif untuk memanfaatkan meunasah dalam hal kebaikan seperti kenduri tolak bala, tempat mufakat dan tempat pengajian. Meunasah mulai beroprasi kembali setelah sekian lama mandet di tahun 2015 sampai sekarang. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah kenduri tolak bala, menurut bu Badariyah (57 tahun) mengatakan, “ bahwa sebelumnya kenduri tolak bala dilakukan dibawah pohon tanjung yang besar dan harus memberikan sesajen kepada buaya putih yang ada di sungai, selain itu juga terdapat aturan yang harus diikuti jika dilanggar akan fatal akibatnya, seperti tidak membawa pulang makanan yang dimakan di kenduri tolak bala, hal ini bermaksud makanan itu adalah symbol bala yang tidak boleh dibawa pulang, sisa makanan yang ada harus dibuang ke sungai”, tegas bu Badariyah. Waktu terus berputar, dakwah terus digulirkan oleh para da’i, sehingga tradisi tolak bala dimasa dulu berubah menjadi ajang silaturahim antar warga serta zikir dan do’a bersama.

Selain itu, ajang pertemuan warga setempat dengan warga lain juga dilakukan di meunasah itu  melalui kegiatan pengajian yang dilaksanakan pada hari Sabtu setelah shalat Isya, pembahasannya beragam dimulai dari Thaharah sampai hal yang menyangkut rumah tangga dan social sesuai dengan pertanyaan dari anggota pengajian.  Pimpinan pengajian ini seorang karismatik yang disegani berasal dari Desa Gelung yang bernama Tengku Sam’un. Pengajian warga juga dilakukan di Mesjid Babul Jannah Desa Binjai tepatnya di hari Senin setelah shalat Maghrib sampai sebelum shalat Isya. Namun, pengajian yang ini hanya diikuti oleh warga setempat, baik itu anak-anak, remaja dan orang dewasa dipimpin oleh imam desa yaitu Pak Abdul Rasyid membahas tentang peningkatan spiritual dan sesekali akan dipanggil Da’I kecamatan untuk memberikan pencerahan mengenai agama.

Tidak hanya itu saja, terdapat rutinitas lain bagi ibu-ibu dan bapak-bapaknya yaitu kegiatan yasinan tiap mingguan bedanya untuk bapak-bapak dilaksanakan pada malam Jum’at yang dipimpin imam dusun, karena dilaksanakan per dusun  baik itu dusun Gelumpang, dusun Temenggung, dusun Pasiran, dan dusun Bukit Panjang,  sedangkan untuk ibu-ibunya dilaksanakan pada hari Selasa yang dipimpin oleh Srikandi yang tenar dengan sebutan Wak Jum. Kegiatan yasinan ini dilakukan di rumah warga secara bergiliran.

Untuk kalangan anak-anak dan remaja juga sangat ditekankan untuk mengikuti baca tulis Al-Qur’an, hal ini dilakukan untuk menekan tingkat buta huruf dalam mengaji dan memupuk semangat religious di dalam diri anak-anak dan remaja, sehingga anak sudah dibekali dasar-dasar dalam beribadah, hal ini selaras dengan program unggulan yang diluncurkan pada tahun 2019 oleh Bupati dan Wabup Aceh Tamiang (H. Mursil, SH,M.Kn dan H. Tengku Insyafuddin ST)  yaitu salah satu upaya dan bentuk kepedulian  pemerintah dalam meningkatkan syiar keagamaan dan ketakwaan yang dahulu sudah menjadi kebiasaan namun dikhawatirkan terjadi perubahan dan sikap di tengah masyarakat dalam menghadapi era globalisasi. Tantangan untuk para anak-anak dan remaja saat ini adalah pesatnya teknologi yang menuntut anak-anak untuk memiliki handphone  dalam menyelesaikan tugas sekolahnya. Tak jarang tugas sekolah menjadi alasan untuk anak  menguasai handphone agar lebih leluasa bermain handphone. Untuk itu, pengenalan agama harus dilakukan sejak dini, sehingga nantinya terbiasa dalam beraktifitas dengan sesama teman.

Biasanya, tempat pengajian anak-anak terdapat di setiap dusun, bahkan dalam satu dusun terdapat dua tempat pengajian, seperti di dusun Gelumpang dan Bukit Panjang. Hal-hal yang diajarkan kepada anak-anak berkaitan dengan tata cara sholat, tata cara wudhu, do’a-do’a harian dan ayat-ayat pendek juz 30. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pendidikan agama pada anak, Anak-anak yang mengaji berkisa 10-30 orang per tempat pengajian. Pengajian anak-anak dan remaja ini dibimbing langsung oleh guru ngaji yang ditetapkan oleh pihak Kecamatan.

Berbagai macam pengajian yang ada didesaku, dilatar belakangi oleh segenap tingkatan umur, memberikan dampak positif bagi masa depan dalam hal keagamaan dan ilmu pengetahuan,  menimbulkan kepedulian dan persatuan dari berbagai kalangan untuk membangun desa yang religious tidak hanya tingkat Desa saja, namun juga sampai pada tingkat perkotaan. Menjadi ciri yang unik bagi desaku dalam menerapkan syiar keagamaannya.

News Feed