oleh

Memperbaiki Kualitas Ekonomi Pedagang Akibat Dampak Covid 19

WIDIANA PUTRI

Mahasiswi IAIN Langsa

Pelaksana Kegiatan KPM Tematik Tahun 2021

 

Virus Corona (Corona Virus Disease) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai ringan hingga berat, seperti commond cold atau pilek dan penyakit serius seperti MERS dan SARS. Virus ini berasal dari Wuhan China dan telah menyebar ke berbagai negara salah satunya Indonesia. Pemerintah menghimbau agar masyarakat menerapkan social distancing seperti work from home, belajar dari rumah, serta beribadah dari rumah guna memutus penyebaran virus ini.

Pada tahun 2020 adanya covid-19 ini yang datang di tengah-tengah masyarakat sungguh sangat menjadi perhatian belakangan ini.  Dampak yang terlihat  tidak hanya mempengaruhi kesehatan masyarakat,  akan  tetapi  turut  mempengaruhi  perekonomian  negara.  Bahkan  saat  ini perekonomian dunia mengalami  tekanan berat  yang diakibatkan oleh  Covid-19, salah satunya adalah Indonesia.

Masa pandemi Covid-19 sudah kita rasakan lebih kurang satu tahun lamanya. Sudah pasti situasi ini sangat berdampak bagi kehidupan seluruh masyarakat baik kelas atas, kelas menengah, maupun kelas bawah. Yang pasti sangat dirasakan dampaknya adalah di sektor perekonomian khususnya bagi masyarakat kelas bawah yang biasanya memperoleh rezeki tidak tetap setiap harinya. Seperti halnya para pedagang, yang sangat merasakan dampak dari masa pandemi ini dikarenakan daya beli masyarakat menjadi sangat kurang. Para pedagang kecil itu mengakui omset atau pendapatan usaha mereka menurun drastis bahkan hingga mencapai 50% .

Pada masa pandemi Pemerintah Kota Langsa pernah mengambil kebijakan yaitu pemberlakuan jam malam. Dimana masyarakat dilarang berada di luar atau dihimbau untuk berada di rumah masing-masing pada pukul 22.00 WIB ke atas. Jam malam ini berlaku untuk semua masyarakat Kota Langsa baik itu pemilik toko, cafe, pedagang kaki lima, maupun masyarakat biasa agar tidak berada di luar rumah saat jam malam sudah berlangsung. Hal ini sungguh sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat khususnya dari segi perekonomian. Para pedagang merasa sangat rugi dengan diberlakukannya jam malam tersebut. Hal ini dikarenakan dapat mengurangi pendapatan yang mereka peroleh setiap harinya. Ditambah lagi pengaruh dari masa pandemi menyebabkan tingkat penjualan sangat kurang.

“Berat memang, tapi mau gimana lagi,” kata M.Nasir (28) salah satu pedagang minuman jeruk peras di Kota Langsa. Ayah dari seorang isteri dan tiga anak ini mengakui, telah menjalani usaha jualan rujak Aceh selama lebih kurang Empat tahun dan sebelum merebaknya wabah virus Covid-19, jumlah penghasilan yang ia peroleh mencapai Rp.400.000 hingga Rp. 500.000/hari.

“Hari ini, baru 150 ribu laku,” ujarnya nelangsa. Ia menjelaskan dari Rp. 400.000,-/hari pendapatan yang diperoleh dari usaha jualan yang dilakoninya, Rp. 250.000,- diantaranya ia pergunakan untuk modal belanja berbagai kebutuhan usaha jualannya esok harinya. “Sisanya, untuk menutupi biaya hidup sehari hari, seperti kebutuhan dapur, biaya listrik, pendidikan anak dan bayar sewa rumah,” tuturnya.

Harapannya kepada Pemerintah Aceh khususnya Kota Langsa untuk dapat memberi perhatian terhadap kelangsungan usaha yang digelutinya seperti bantuan modal usaha. “Saya akui tidak mungkin dan mustahil dapat memenuhi keinginan semua pihak, namun dengan anggaran yang melimpah hendaknya ada skala prioritas seperti untuk kami para pekaku usaha kecil ini, sungguh kami sangat butuh perhatian dari Pemerintah Aceh,” tuturnya. Dikatakannya, Ia mendengar hingga Triliunan rupiah dana dianggarkan Pemerintah Aceh untuk penanganan Covid-19 dan dirinya berharap sedikitnya dapat merasakan syafaat dari limpahan itu semata demi menopang kelancaran usaha yang ditekuninya ditengah imbas Covid-19, ujarnya penuh harapan.

Selanjutnya pada akhir 2020 lalu telah disalurkan bantuan pemerintah untuk para pedagang atau usaha mikro yang disebut dengan BPUM (Bantuan Presiden Usaha Mikro) yang disalurkan melalui dinas Koparindag tiap-tiap kota. Akan tetapi yang menjadi pusat perhatiannya adalah ketidakadilan dalam hal perolehan bantuan tersebut. Dimana banyak pelaku usaha mikro atau pedagang yang benar-benar mencari nafkah dari bidang tersebut malah tidak menerima bantuan. Akan tetapi yang menerima bantuan malah masyarakat yang kesehariannya tidak ada usaha apa pun. Hal ini sungguh sangat disayangkan. Di mana pemerintah telah mencari solusi untuk membantu masyarakatnya yang terkena dampak dari pandemi Covi 19 ini.

Nasir menegaskan bahwa dia memperoleh bantuan UMKM tersebut. “Alhamdulilah saya dapat bantuan itu, tapi ada juga teman saya yang juga pedagang tidak memperoleh bantuan tersebut”. Dia menjelaskan bahwa sangat terbantu dengan adanya uang tersebut, dikarenakan dapat menambah modalnya berjualan dan sebagian lagi dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Sangat besar dampak dari masa pandemi Covid 19 ini khususnya bagi masyarakat-masyarakat kelas menengah ke bawah. Pemerintah telah membantu dengan berbagai cara agar masyarakat dapat menjalani kehidupan yang lebih baik dengan memberikan bantuan-bantuan dengan jalur pemberian yang berbeda-beda. Diharapkan agar dapat memperbaiki perekonomian masyarakat yang diakibatkan damoak pandemi ini. Dan semoga pandemi ini segera berlalu. (Widiana Putri, Mahasiswi IAIN Langsa, Pelaksana Kegiatan KPM Tematik Tahun 2021).

News Feed