oleh

Membangun Minat Baca Kitab Kuning Melalui Kegiatan Perlombaan Di Desa Sungai Pauh

 

 

Nama Alfi Fahira, mahasiswi IAIN Langsa, prodi ilmu al-qur’an dan tafsir

Peserta Kpm-Dr 2021

Kitab kuning adalah kitab klasik yang ditulis dalam bahasa arab oleh para Alim Ulama pada abad pertengahan. Seseorang yang sudah mahir dalam menguasai kitab kuning tersebut, maka tidak hanya menguasai dalam makna aslinya, tetapi menguasai juga dalam ilmu nahwu, dan balaghohnya. Pedoman ilmu nahwu biasanya menggunakan kitab Alfiyah, kitab yang terkenal dengan seribu bait, karya Ibnu Malik, yang dari dulu sampai sekarang terkenal kemasyhurannya. Bahkan, bait alfiyah bisa di gunakan untuk syair dalam percintaan, maupun wejangan santri. Hal ini merupakan suatu keunggulan yang luar biasa yang di miliki kitab-kitab klasik. Bukan hanya itu, kitab kuning sekarang pun masih digunakan untuk Bahsul Masail musyawarah untuk membahas masalah-masalah kontemporer yang berkaitan dengan hukum syari’at. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa karya ulama’-ulama’ terdahulu memang benar-benar diterima masyarakat, sehingga tidak ada yang meragukan keauntetikan karyanya.

Seiring berjalannya waktu, kini minat belajar kitab kuning mulai punah, itu di sebabkan oleh perkembangan zaman yang semakin canggih teknologinya, globalisasi meluas mendunia, maupun akibat westernisasi dan modernisasi. Sekarang juga banyak kitab-kitab kuning yang di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Akibatnya para santri menganggap mudah dalam menguasai kitab-kitab kuning yang memang asli kemurniannya. Meskipun kreativitas pemuda bangsa yang luar biasa, pemuda sekarang telah meninggalkan budaya-budaya para ulama. Hal ini disadari oleh umat Islam khususnya umat Islam di dunia pesantren atau dayah.

Apalagi di tengah hiruk pikuknya dunia kini kehidupan terbilang sebagai kehidupan yang serba praktis dan cara berpikir yang kritis, melahirkan ide yang kreatif maupun inovatif untuk menjadikan sebuah pondok pesantren menjadi modern, akhirnya lebih mengutamakan untuk berbicara menggunakan bahasa asing, dan sekarang malah menjadi ciri khas bagi pondok pesantren modern. Kini perkembangan untuk belajar kitab kuning pun mulai memudar, walaupun sekarang masih ada pondok pesantren yang mengutamakan ciri khasnya menggunakan kitab kuning, tetapi minat besar pemuda Islam sekarang sedikit dalam menelateni kitab kuning tersebut.

LANGSA BARAT, SUNGAI PAUH

Dari hasil survei minat menelah kitab kuning sangat rendah, hal ini di sebabkan generasi sekarang lebih mementingkan pelajaran sekolah, dengan demikian pembelajaran di dayah ketika malam hari sering di lewatkan karna menurut mereka hal ini terbilang membosankan. Pembangunan dayah maupun TPQ berkembang pesat namun minat mengaji semakin lama semakin menurun.

Menurut tgk anwar (pimpinan dayah al mubarak al-aziziyah) “persoalan itu terjadi karna maraknya teknologi digital yang sangat di longgarkan di kalangan anak-anak, oleh sebab itu mengaji adalah hal yang membosankan di kalangan mereka”. Ujarnya.

Tgk anwar juga menambahkan ada penyebab lain yang mungkin dapat kita renungkan dari rendahnya minat menelaah kitab kuning di gampong sungai pauh, di antaranya adalah :

  1. Lingkungan hidup

Lingkungan hidup di sekitar kita merupakan faktor penting dalam kehidupan, karena secara tidak langsung lingkunganlah yang membentuk karakter anak. Jika lingkungan keluarga tidak mendorong minat mengaji maka dari mana benih-benih minat mengaji bisa tumbuh.

 

  1. Smartphone

Kembali pada generasi milenial, di zaman sekarang orang tua tidak enggan memperkenalkan smartphone pada anak-anak nya bahkan saat mereka masih bayi sekalipun. Maka tak heran kecanduan pada smartphone sudah tak bisa di bantahkan. Anak rewel pun para orang tua memberikan smartphone, tradisi inilah yang membuat minat mengaji anak semakin lama semakin menurun.

  1. Game online dan social media

Game online dan aplikasi apapun yang tersedia di sosial media sekarang ini seperti tik tok, instagram, facebook, youtube, line dan lain sebagainya sedang sangat marak di dunia maya. Pasalnya banyak dari anak-anak hingga remaja kecanduan dengan aplikasi yang di sediakan di smartphone sekarang ini. Tak heran kebiasaan anak-anak sekarang sudah sangat berubah, mereka lebih memilih diam di rumah dengan smartphonenya di bandingkan keluar rumah untuk bermain dengan temannya. Jika bermain di luar sudah mulai jarang terlihat bagaimana dengan mengaji ?

  1. Diri sendiri

Selain lingkungan dan teknologi canggih, ada hal lain yang menjadi faktor karakter yaitu niat dalam diri sendiri. Diri kita sendiri adalah faktor-faktor terpenting dalam melakukan suatu hal. Jika di dalam diri sendiri saja tidak memiliki ketertarikan dalam mengaji maka minat itu akan susah tumbuh.

Maka dari itu minat itulah yang harus di tanamkan sedari kita kecil, dan lagi-lagi peran orang tua sangat di butuhkan dalam hal ini.

Namun upaya dalam membangun minat anak dalam menelaah ilmu agama melalui kitab kuning tetap harus di lakukan, seperti perlombaan yang di selenggarakan di dayah al-Mubarak Al-Aziziyah dengan tujuan melatih minta anak dalam mengkaji kitab kuning. Aneka perlombaan ini di selenggarakan untuk memperebutkan juara satu, dua, dan tiga. Hal ini mengingat bahwa Secanggih apapun generasi milenial tetaplah anak-anak yang senang bermain dan berkompetisi. Melalui perlombaan inilah tertanam bibit-bibit minat mengaji yang mengenalkan anak-anak bahwa mengaji adalah kegiatan yang tak kalah seru dari pada smartphone mereka.

Sebelum mengadakan lomba anak-anak di ajarkan menelaah berbagai kitab, maupun hafalan-hafalan doa sehari-hari yang juga dapat mereka amalkan di kehidupan sehari-hari. Mengingat bahwa perlombaan adalah jembatan para pengajar agar dapat menumbuhkan minat mengaji di lingkungan gampong sungai pauh.

Berikut adalah daftar kegiatan lomba yang di selenggarakan :

  1. Membaca kitab masailal muhtadin
  2. Membaca kitab khamsatun mautun
  3. Membaca kitab matan taqrib

Juga berikut adalah daftar perlombaan hiburan :

  1. Praktek shalat jenazah
  2. Doa sehari-hari
  3. Ayat pendek
  4. Adzan

Kegiatan lomba ini mendapatkan apresiasi yang baik di kalangan anak-anak maupun remaja, pasalnya mereka tak hanya memperebutkan juara, namun juga memperlihatkan penampilan sebaik mungkin di atas pentas. Maka dari itu para orang tua pun ikut terlibat menonton penampilan anak-anak mereka di atas pentas.

Para masyarakat pun ikut membantu dalam mempersiapkan perlombaan, seperti melakukan kegiatan gotong royong di sekitar dayah, hingga ikut menyumbang berupa uang dan makanan untuk melangsungkan acara perlombaan.

Kegiatan ini di harapkan dapat menumuhkan kembali minat menelaah kitab kuning dan mengaji agar generasi selanjutnya menjadi generasi islam yang tak hanya berprestasi namun juga memiliki karakter keagamaan yang kuat.

Barakallah fikum….

News Feed