oleh

Masyarakat Gayo dan Kedaulatan Sumber Daya Alam

oleh: Andisyah Putra

Tahun politik merupakan kontestasi upaya pertarungan gagasan yang habis habisan (seharusnya). Tetapi dalam fakta yang sebenarnya tidak serupa dan jarang yang demikian.sewaktu waktu Kebenaran yang diyakini bersama kerap direduksi oleh sekelompok orang yang bertujuan meng akumulasi kekayaan. Hal demikian terjadi diberbagai daerah tanah air yang sangat menjengkelkan dalam berdemokrasi. Secara universal bahwa berdirinya kabupaten atau kota sejak dari awal menetapkan keadilan sososial bagi seluruh masyarakatnya merupakan ide awal pembentukan atau dimekarkanya dari kabupaten induk. Senada dengan daerah yang akan disorot pada tulisan ini (dataran tinggi gayo) yang bersumber daya alam.

Amanat konstitusi 1945 pasal 33 ayat 3 mengisyaratkan bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Demikian pula halnya kekayaan yang terkandung didalam bumi daerah dataran tinggi gayo sepenunhya dipergunakan untuk kemaslatan umat. Sehingga cita cita bersama tidak hanya sebuah kata yang bertahan pada tataran konsep tetapi berubah menjadi praksis yang di manifestasikan pada penghidupan prekonomian yang berbasis kerakyatan.

Refleksi atas tambang

Menjadi dilematis bahwa sumber daya alam yang memadai apakah akan menjadi sumber kekuatan dalam membangun masyarakat menuju sejahtera atau sebaliknya hanya menjadi kekuatan oleh sekelompok masyarakat yang bertujuan pensejahteraan sepihak yakni penguasa dan pemilik modal.

Selama ini oleh pemerintah sumber pendapatan yakni hutan hanya dijadikan sebagai objek penghasil nilai ekonomis tinggi, jauh daripada itu hutan adalah sumber pengetahuan yang harus dihayati secara seksama. beberapa bulan terakhir klaim atas pertambangan terkhusus dataran tinggi gayo semakin marak, kepongahan para pengambil kebijakan tanpa ada pertimbangan etis kerap terjadi. Tidak adanya semacam konsep pembangunan yang berlandaskan ekologis kerap menimbulkan konflik kepentingan ditengah masyarakat. Pemimpin yang berkepentingan  akan tetap bertahan pada narasi yang sama yakni mengekploitasi hutan untuk dijadikan sebagai pendapatan asli daerah. Tetapi pendapat masyarakat akan jauh berbeda jika para pengambil kebijakaan bertahan pada narasi hutan di eksploitasi demi kepentingan bersama. Masyarakat secara sadar bahwa disamping berdampak baik untuk pertumbuhan ekonomi akan jauh  lebih besar menimbulkan dampak yang buruk terhadap keberlangsungan hidup.

Runtuhnya nilai nilai yang telah terbangun secara turun temurun dalam masyarakat lebih khususnya masyarakat adat dapat hilang dengan sesaat akibat hadirnya tambang dan hal ini merupakan salah satu kerugian dari masih banyak kerugian yang ditimbulkan.

Sejenak Berkaca pada Realita saat ini, menjadi bukti bahwa pertambangan merupakan pusat dari lahirnya kemiskinan struktural yang tidak disadadri. Sejarah pertambangan batu bara di kalimantan dan pertambangan emas di preport papua juga menjadi bukti bahwa beringasnya investor dalam menanam modal  tidak lagi mengenal hak masyarakat atas lingkungan sekitarnya.

 

Kota bekas tambang dengan Julukan “Neraka Dunia”

Terdapat satu kota kecil di amerika, yang menjadi bukti nyata bahwa hadirnya tambang ditengah masyarakat bukan memberikan kemakmuran tetapi keterpurukan yang akan menjadi tontonan dimasa depan. Kota yang dijuluki sebagai neraka dunia adalah centralia. Wilayah yang masuk kedalam negara Pennsylvania yang dulunya merupakan kota tambang maju yang berpenduduk 1.000 jiwa. Perlahan mulai ditinggalkan akibat terjainya kebakaran besar yang menimpa areal tambang batu bara. Diperkirakan tidak lebih dari 10 orang yang tetap bertahan pada saat ini. Menjadi bukti sejarah dan menjadi satu momentum yang harus diingat bersama dalam perumusan kebijakan, hal yang instan untuk meraup keuntungan yang banyak bukanlah solusi yang harus diambil.

Menjadi jelas bahwa sejarah merupakan gudang ilmu yang harus dimanfaatkan sebagai acuan dalam pemetaan prekonomian kerakyatan tentunya lepas dari sifat sifat yang mencoba mendominasi dan bertahan pada status mapan.

 

Tambang Bukan solusi kesejahteraan

Satu pepatah berucap  “banyak jalan menuju Roma” mengisyarakan bahwa bukan hanya satu jalan dengan memberi ijin dan membuka pertambangan untuk menuju kesejahteraan.
Sekiranya peningkatan ekonomi tidak dilakukan secara instan dengan memberi ijin dan ijin pada perusahaan tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan konsekuensi pasca beberapa tahun kedepan yang akan dirasakan oleh masyarakat, tetapi bagaimana membangun satu bentuk pemikiran ekonomi yang bertahap, berjenjang, berlanjut. Dataran tinggi Gayo yang merupakan daerah secara mayoritas tumpuan hidup masyaraknya adalah petani kopi, serai wangi dan beberapa produk lainya menjadi salah satu penyumbang pendapatan asli daerah yang semestinya harus dimaksimalkan. Sehingga daerah yang terkenal dengan penghasil kopi tidak berubah menjadi  daerah penghasil pemimpin yang culas dan individualistik.

Pertarungan dalam hal gagasan sepatutnya dipertontonkan pada khalayak luas   dalam menjaga jati diri sebagai seorang intelektual yang mengharuskan penggunaan keilmuan sebagai ujung tombak dalam memecah persoalan politik, agama, ekonomi dan pendidikan. janji politik adalah penantian masyarakat  yang rindu akan hidup lebih layak dari sebelumnya. Sudah saatnya masyarakat gayo berdaulat atas sumber daya alam yang dimilikinya.

Tulisan ini merupakan respon atas berdirinya tambang didataran tinggi gayo.

News Feed