oleh

Masyarakat Banyak Mempertanyakan Keabsahan Pasien Positif Covid-19

Ilustrasi

*Warga masih bingung terhadap label positif bagi pasien Covid-19
*Perlunya keterbukaan, tanggung-jawab, dan profesionalitas paramedis

Kutacane-Baranews.Aceh |  Masyarakat masih banyak yang bingung, terhadap keakuratan dan keabsahan label positif Covid-19 terhadap pasien yang masih dirawat, dan terhadap pasien yang sudah meninggal.Selang waktu tahun 2020 sampai sekarang, khususnya di 3 kecamatan yang dipantau Jurnalis media online Baranews.aceh, yaitu Kecamatan Semadam, Kecamatan Lawe Sigala-gala, dan Kecamatan Babul Makmur.

Seperti baru-baru ini, yang terjadi pada warga dusun Kelapa Sawit desa(kute) Kuta Tengah Kecamatan Lawe Sigala-gala Kabupaten Aceh Tenggara, dimana seorang ibu yang meninggal dunia, ditengarai positif Covid-19, dan dikubur pada jam 02.00 Wib, dini hari; Sekalipun warga mengatakan kepada Wartawan media Ini, bahwa yang bersangkutan sudah lama sakit.

Beberapa bulan yang lalu, warga desa Sukajaya Kecamatan Lawe Sigala-gala, juga disinyalir positif Covid-19; Namun masyarakat dan kepala desa(pengulu kute) setempat kurang percaya, karena tidak ada surat yang ditunjukkan bahwa yang bersangkutan positif Covid-19, hingga warga dan pengulu kute memandikan mayat dan mengadakan acara takjiah.

Sebelumnya, warga desa Karya Indah, yang juga ditengarai positif Covid-19.Ada lagi oknum Polri, dan oknum kepala sekolah SD, yang dilabeli mengidap positif Covid-19, namun pada akhirnya pengakuan keluarga yang bersangkutan adalah gula(diabetes), dan sekarang sudah sehat dan hidup normal.

Masyarakat sangat mengharapkan keterbukaan informasi yang akurat, orang yang bertanggung-jawab terhadap surat Covid-19, dan profesionalisme Paramedis (perawat, bidan, dokter, dan pegawai laboratorium).Mereka meminta label positif dan negatif Covid-19, harus melalui test yang teliti, transparan, dan profesional. Seperti test rapid, swab, dan PCR.Label dan informasi yang berkembang terhadap pasien yang disinyalir positif Covid-19, sangat merugikan yang bersangkutan, keluarga, dusun, desa, kecamatan, dsb.Apalagi label itu, kurang akurat, bertanggung-jawab, dan profesional.Bukankah surat yang diakui dan dikeluarkan Balitbang kesehatan Provinsi Aceh, dan laboratorium Universitas Syiah Kuala, yang lebih sah(valid), yang menjadi rujukan Badan penanggulangan bencana daerah(BPBD) setempat, dan Satgas Covid-19? Oleh karena itu, perlunya kerja paramedis yang bermutu, bertanggungjawab, profesional, dan kerjasama serta koordinasi antara Satgas Covid-19.Jangan karena pelabelan dan informasi yang kurang akurat, membuat pasien/keluarga stres, panik; dan masyarakat dirugikan.(P.Lubis)

News Feed