oleh

Masa depan Aceh dan MOU yang di-Keuramat-kan

Hari ini diperingati sebagai hari perdamaian Aceh, 15 Agustus 2005-15 Agustus 2020 (rentang waktu 15 tahun). Namun bagaimana nasib Aceh hari ini setelah nokhtah kesepahaman itu lahir; bagaiamana keadilan untuk rakyat imbas konflik, janda korban perang, serta anak-akan yang dulunya putus sekolah dan kehilangan orang tuaya di medan tempur yang kini sudah beranjak menjadi pemuda dewasa?

Pada sesi hari perdamaian yang akan dirayakan pada esok hari, saya akan mengurai sedikit tentang keadaan pemuda Aceh hari ini. Mereka adalah bocah-bocah sisa konflik yang kini sudah tumbuh menjadi dewasa. Berbicara pemuda, tak luput dari mengulit sejarah tentang tokoh-tokoh muda Aceh pada masa dulu yang terlibat dalam berbagai gerakan untuk menyuarakan keadilan dan perlawanan atas situasi yang pernah melanda bumi Tanah Rincong ini.

Pemuda adalah tokoh penting yang wajib dilindungi oleh Bangsa dan Negara. sebagaimana mestinya, Pemuda ialah tokoh penting yang harus diakui dan dianggap serius sebagai sebuah Icon yang layak di anak-emaskan oleh suatu Bangsa sebagai generasi masa depan untuk sebuah wadah pasokan atau tempat mengumpulkan energi (kekuatan) baru demi kemajuan dan perkembangan sebuah Bangsa atau Negera dimasa mendatang.

Dalam sejarah dunia, Pemuda menjadi sebuah ujung tombak dalam segala bidang, baik dibidang Revolusi maupun dibidang Reformasi, bahkan kekuatan Pemuda mampu merubah tatanan dunia yang dulunya Dictator berubah menjadi dunia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Demokrasi. Sehingga kinilah saatnya pemuda dinobatkan sebagai pemilik kekuatan yang sejati, dan pemuda menjadi kunci untuk perkembangan dunia dari masa kemasa.

Berbicara Pemuda, tidak terlepas dari tokoh-tokoh Pemuda yang dimiliki oleh Aceh dari masa ke masa. Pasca Perdamaian Aceh 15 (lima belas) tahun yang silam, Aceh juga masih mempunyai segudang Stock pemuda-pemudinya yang cerdas, kritis dan kreatif, serta intelktual. Namun dengan serba keterbatasan yang dimiliki oleh setiap pemuda seiring dengan perubahan zaman yang semakin canggih, kebanyakan pemuda Aceh mengambil inisiatif dan bersikap untuk acuh tak acuh (Apatis) tentang perkembangan, situasi dan kondisi Aceh hari ini.

Lantaran, pemuda tidak pernah disentuh atau diajak berperan dalam sebuah wadah tertentu yang meyakinkan. Kesannya pemuda tidak dipertimbangkan untuk sebuah kemajuan, bahkan lebih diwanti-wanti dan dianggap sebagai sebuah ancaman kedudukan (Kekuasan). Hal tersebut bukanlah suatu perkara yang adil yang harus diterima oleh kaum muda Aceh pada saat ini.

Dengan semakin gencarnya perang dingin yang diciptakan oleh pihak, kelompok bahkan parpol tertentu untuk membunuh karakter (Popularitas) kaum muda khususnya di Aceh, pemuda lebih banyak mengasingkan diri dan diam ditempat tanpa ada rasa bahkan niat untuk mencampuri atau terlibat ke dalam persoalan apapun yang sedang dihadapi oleh Aceh pasca damai. Baik menyangkut perkara Politik, ekonomi, sosial, agama, pendidikan, ketahanan, keamanan dan lain sebagainya. Pemuda Aceh lebih banyak berdiam diri, bukan berarti tidak tahu-menahu dengan persoalan yang sedang terjadi, hanya mereka enggan merampas atau menobrak para tetuanya. Di sini kita dapat melihat bahwa ke-Apatisan kaum muda hanya tertahan di segi adap; menghormati orang tua, bukan tidak peka pada kaadaan yang sedang mendera.

Di samping itu, peren Pemerintah ke tengah-tengah kaum muda dapat dikatakan nihil nilainya. Pemerintah Aceh tidak pernah terjun atau bersentuhan langsung dengan pemuda selama Aceh Damai 15 tahun yang lalu. Baik pada masa Gubernur Irwandi-Nazar, Dr. Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, dan Irwandi Nova. Artinya, Pemerintah Aceh sejak dari dulu sampai dengan hari ini belum becut atau tidak mampu menjawab “persoalan pemuda”. Mereka hanya larut dalam romansa ke-Acehan yang Absurt dan eforia musiman dengan acara-acara seremonial semata tanpa melihat lebih detail dab lebih jauh apa yang berhak dilakukan atau diperjuangkan untuk Aceh hari ini sesuai dengan butir kesepahaman damai di Helsinki, Firlandia yang lazimnya disebut MOU Helsinki.

Pasca damai, di akui atau tidaknya, yang dirawat oleh para petinggi kita di Aceh, baik DPRA, Geburnur dan tokoh-tokoh kita adalah cara merawat romansa atau nostalgia masalalu, hingga terkesannya “ka jie peu-keuramat MOU Helsinki” yang mandul dan tak bisa melahirkan anak-anaknya sebagai pewaris estafet Aceh di kemudian hari. Kenapa MOU Helsinki menjadi sakral dan Keuramat? Nah, ini cocok menjadi kajian kita bersama menyangkut MOU yang kesannya begitu suci dan Keuramat bagi sebahagian Kolompok atau bani kita yang ada di Aceh.

Pertama, kapasitas intelektual sebahagian tokoh-tokoh dan masyarakat kita tipis (minus) atau rendah. Artinya kita belum memiliki kemampuan yang matang dalam memaknai atau menafsirkan MOU itu sendiri, hingga ia menjadi Sakral. Kedua, Freme yang dibangun oleh satu pihak dalam membranding MOU seakan-akan menjadi pesan yang begitu suci seperti wahyu yang turun dari langit. Padahal, MOU bukanlah hal yang begitu meyakinkan dan mengikat. Buktinya sampai dengan hari ini pasca 15 Tahun perdamaian butir MOU mana yang sudah terealisasi dengan signifakan dan menjadi jaminan hidup sejahtera bagi seluruh rakyat Aceh.

Maka dengan demikian, kita sebagai kaum muda (generasi) yang akan memikul beban sejarah besar ini wajib ambil andil dalam urusan dan persoalan yang sedang mendera Aceh. Kita wajib mencari titik temu dan jawaban atas kamujudan ini, supaya persoalan kesepahaman damai di Helsinki tidak menjadi tabu dan semacam hal yang asing dikemudian hari sehingga damai terus terawat dengan baik selamanya. Jadi, kita berharap kepada Pemerintah Aceh, dan semua elemen untuk lebih peka dalam melihat persoalan yang sedang mendera generasi muda Aceh hari ini, dan memberi peran aktif kepada pemuda, juga mengajak untuk sama-sama membawa Aceh ke-arah yang lebih baik tanpa harus mengkerdilkan, atau meng-anggap remeh temeh kaum muda.

Perlu dicatat, Pemuda lebih aktif disegala lini dan hampir setiap harinya pemuda aktif meng-update persoalan yang sedang terjadi di Nanggroe ini. Itu menjadi satu bukti bahwa pemuda lebih peduli dengan apa yang sedang melanda dan berlaku di Aceh pada masalalu, hari ini, dan dimasa yang akan datang. Sayangnya, keterbatasan ruang lingkup pemuda selalu dipersempit dengan sedikitnya kesempatan yang ada, dan ruang yang khudus dibuka untuk wadah dimana mereka mengekspresikan diri dengan krativitas yang dimiliki. Dari sempitnya ruang lingku itulah, sehingga persoalan membuat pemuda menjadi tidak peduli dengan apa yang sedang dialami oleh Aceh pada hari ini.

Kita perlu mengingat kembali bahwa, sangat besar peran pemuda dalam menggerakkan sebuah kekuatan besar dimasa lalu. Sejarah pernah mencantat, banyak Pahlawan-Pahlawan Aceh dahulu memulai perjuangannya untuk melawan Penjajah pada saat usia mereka masih muda.
Ini menjadi satu kunci, dan bukti sejarah yang kuat bahwa pemuda bisa melakukan apa saja demi kemajuan Bangsanya, juga bisa merusak apa saja demi menjatuhkan kehormatan dan martabat Bangsa sendiri.

Jadi, dengan demikian, langkah-langkah dan kebijakan yang serius perlu diambil oleh pemangku-pemangku kebijakan yang ada di Nanggroe ini untuk merangkul dan memposisikan pemuda disuatu wadah yang benar untuk merajut kembali kesadaran sebagai sebuah jalan kemajuan dan pekerbangan Bangsa dimasa depan.

|Penulis : Adam Zainal (Kinet BE). Lahir di Bireuen Maret 1991 yang menyisakan waktu luang disela-sela kesibukannya sebagai buruh harian lepas untuk menulis.

News Feed