oleh

Mahasiswa Akademis Atau Aktivis Mahasiswa

 

BANDA ACEH, BARANEWS | Ketika menjadi mahasiswa maka mindset kita harus sudah berubah karena menjadi mahasiswa adalah yang di harapkan masyarakat sebagai agen kritis perubahan bangsa ini. Perguruan tinggi sebagai tempat menimba ilmu bagi mahasiswa tak hanya menyajikan ilmu teori-teori keilmuan saja. Ada juga banyak dinamika, perkembangan, dan pengalaman lain yang dapat dirasakan oleh para mahasiswa dalam rangka mempersiapkan masa depannya kelak.

Dalam dunia perkuliahan, tipe mahasiswa bisa dikategorikan setidaknya menjadi dua bagian. Pertama, mahasiswa akademis. Mereka seperti mahasiswa pada umumnya yang menghabiskan waktunya untuk urusan perkuliahan. Biasanya, kegiatannya di isi dengan program kuliah, belajar, mengerjakan tugas, membuat laporan, praktikum, hingga presentasi. Mahasiswa akademis disibukkan dengan kegiatan akademik kampus, untuk proses persiapan mengejar karir di bidang study yang dipilih.

Sementara golongan kedua adalah mahasiswa aktivis. Sebenarnya mahasiswa aktivis juga merupakan mahasiswa biasa yang mengikuti kelas-kelas perkuliahan, mengerjakan tugas, membuat laporan, praktikum, dan lain sebagainya. Perbedaanya adalah di luar kegiatan akademik keseharian mereka, para mahasiswa aktivis ini terjun ke luar lingkup perkuliahannya. Terjun dalam masyarakat untuk mengambil peran dan ikut memperjuangkan keadilan melalui pengawalan-pengawalan khusus di segala aspek, baik ekonomi, sosial, budaya, maupun politik.

Para aktivis mahasiswa memperjuangkan pendapat yang menurut mereka tepat untuk benar-benar dikawal, dan menjadi oposisi bagi hal yang tidak sesuai dengan Idealisme dan Pragmatisme mereka. Tak jarang bahkan mereka dengan berani mengambil risiko untuk aksi pengawalan dan membersamai pihak yang dikawal.

Mereka turut mengorbankan tenaga, pikiran, waktu bahkan kuliah demi sesuatu yang menurut mereka harus ditegakkan, yaitu ke-Adilan. Hal ini memberikan warna berbeda dan menjadikan para mahasiswa aktivis memiliki nilai lebih dalam hal kepedulian sosial.

Status sebagai mahasiswa juga memungkinkan mereka untuk mengambil peran aktif dalam permasalahan sosial yang mungkin terjadi. Mahasiswa aktivis memungkinkan mereka bukan hanya menjalani peran sebagai pelajar, tetapi juga bagian dari masyarakat yang membantu tegaknya keadilan.

Selain itu menjadi mahasiswa aktivis juga membawa keuntungan lain di antaranya memperluas relasi, pengalaman, dan pengetahuan yang kadang tidak didapat dalam ruang kelas kuliah semata.

Bentuk pengawalan dari mahasiswa aktivis tidak hanya terbatas pada aksi-aksi dan demo saja. Namun juga dapat dilakukan dengan perantara lain, di antaranya melalui kegiatan diskusi dan konsolidasi serta adovokasi, tulisan-tulisan opini untuk pengawalan kasus, dan aksi kemanusiaan dengan mengadakan acara donasi.

Syahrul bisa dibilang sebagai mahasiswa akademis dan aktivis. Ia merupakan mahasiswa asal Aceh Timur yang barusana selesai menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Ummul Ayman Pidie Jaya. Dirinya menempuh pendidikan di Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES). Ia juga menjadi santri di Dayah Salafiah Ummul Ayman yang mengharuskannya untuk bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Lewat PMII ia telah berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan. Ia pernah menjadi Ketua Umum PMII Cabang Pidie Jaya-Pidie, menjadi peserta dalam Pelatihan Kader Nasional XIV sebuah agenda perkaderan PMII yang membahas perihal strategis Nasional. Ia juga pernah menjadi peserta Magang di Kejaksaan Negri Pidie Jaya (Kejari) pada tahun 2021.

Sebenarnya, ia telah aktif di organisasi sejak masa sekolah. Merasa berada di titik balik kehidupan, ia menyadari bahwa keaktifannya di organisasi berdampak baik bagi dirinya sediri dan lingkungan sekitarnya. Pada akhirnya, keaktifan itu berlanjut di dunia perkuliahan yang kemudian membuatnya menjadi seorang akademis sekaligus aktivis mahasiswa.

Selain aktif di PMII, ia dulunya juga aktif di Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) sebagai Mentri Penelitian Dan Pendidikan. Namun setelah Demisioner Presiden Mahasiswa saat itu, ia sudah tidak aktif lagi di DEMA maupun organisasi internal kampus.

Mahasiswa Pascasarjana IAIN Kota Langsa tersebut juga tak jarang dirinya melakukan pengawalan terhadap suatu kasus melalui opini-opini dan tulisan serta kreatifitas dan seni yang dimilikinya.

Menurutnya, sudah semestinya mahasiswa menjadi seorang pejuang atau aktivis. Namun tanpa meninggalkan nilai-nilai akademis, IPK, Tridarma perguruan tinggi dan prestasinya di dalam kampus, ia juga beranggapan bahwa jika semua mahasiswa menjadi aktivis maka dunia perkuliahan tidak akan seimbang. Karena mahasiswa pasif yang tetap bertumbuh juga menjadi hal positif.

“Menjadi aktivis itu baik, menjadi pasif itukan subjektif seseorang dan kita tidak bisa nge-judge. Cuma yang kita tahu untuk kebermanfaatan menjadi aktif atau pasif kan lebih baik aktif,” ungkapnya, (13/9/2022).

Dengan menjadi seorang aktivis, katanya, ia mampu mengembangkan lifeskill, softskill, serta kemampuan komunikasinya. Selain itu, menjadi mahasiswa aktivis juga menambah jaringan dan hubungan relasinya dengan senior atau orang lain.

Walaupun sejujurnya ia mengakui bahwa menjadi mahasiswa aktivis juga mampu mengganggu perkuliahannya, tetapi karena gangguan tersebut adalah hal yang positif maka tidak menjadi masalah baginya.

Hal yang perlu diperhatikan yaitu manajemen waktu yang baik, untuk membagi porsi antara kegiatan aktivis dan perkuliahannya.

Berbicara perihal prinsip hidup, Syahrul mengungkapkan bahwa ada sebuah kalimat yang mampu membuatnya tertampar. Kalimat itu berupa “Hidup adalah bergerak, Bergerak adalah memberi perubahan. Jika kamu hidup tapi tidak memberi perubahan berarti kamu mati dalam sebuah kehidupan”

Ia percaya bahwa dalam kehidupan, ketika kita ingin memberikan perubahan maka hal kecil yang harus di lakukan adalah bergerak. Karena menurutnya, perjuangan sejati merupakan pelaksanaan proses dan proses. Sehingga, jangan menginginkan perubahan jika tidak ada keinginan untuk bergerak. Akan tetapi, dalam pergerakan juga diperlukan keseriusan dan kefokusan pada diri.

“Mau gimanapun yang penting fokus gerak saja, dihargai atau nggak dihargai itu urusan belakang. Karna Tan Malaka pernah berkata : Idealisme menjadi kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh seorang pemuda (mahasiswa)”, ungkapnya (13/9/2022). (RED)

Jangan Lewatkan