oleh

Lokot-Bado dan Keperas Simbol Dalam Perkawinan Adat Gayo

Oleh : Turham AG, Dosen STAIN Gajah Putih Takengon.

Ikan Lokot/bado (ikan gabus) dan keperas mempunyai arti penting dalam acara perkawinan masyarakat Gayo. Ikan-ikan tersebut bukan untuk dihidangkan pada tamu undangan, melaikan sebagai suatu bawaan ketika mengantar pengantin pria (aman mayak) yang hendak menikah ke tempat pengantin wanita (inen mayak) dan ketika mengantar kedua mempelai ke tempat pengantin pria (mujule beru/man penan)

Ketika rombongan pengantar pengantin pria berangkat menuju tempat pengantin wanita (mah bai) akan membawa beberapa bawaan sebagai seserahan kepada pihak pengantin wanita, diantaranya adalah ikan lokot/bado (ikan gabus) juga disertakan yang dibawa dalam keadaan hidup. Demikian juga dengan ikan keperas dibawa dalam keadaan hidup ketika mujule beru/man penan disamping bawaan lainya.

Dibawanya ikan lokot/bado merupakan simbol bagi pengantin pria dan keperas sebagai simbol bagi pengantin wanita, karena dalam adat Gayo ada istilah cemak enti erah-erah kotek enti peperi, maksudnya yang memalukan/tabu jangan dilihat-lihat dan dikatakan, maka dalam adat Gayo untuk melihat dan mengatakan hal yang memalukan/tabu tersebut dinisbatkan kepada benda sebagai simbol.

Dinisbatkanya ikan lokot/bado bagi pengantin pria karena sifat dan sikap ikan lokot/bado mirip dengan keperkasaan laki-laki, terutama bisa bertahan hidup dalam tanah lembab, bisa tidak makan dalam waktu lama, bisa tenang walaupun dalam air keruh, walaupun predator tetapi tetap fokus pada satu mangsa, disegani oleh ikan-ikan sekelilingnya dan lain-lain.

Keperas juga disimbulkan bagi pengantin wanita karena sifat dan sikap ikan tersebut adalah lincah/gesit bergerak walaupun dalam air deras, selalu mencari dan berada diair jernih, tidak rakus, selalu waspada terhadap ikan predator, suka berkelompok, dapat bergabung dengan ikan lainya dan lain-lain.

Sifat dan sikap demikian sangat cocok dengan prilaku laki-laki dan perempuan dalam berkeluarga, kendati tidak seluruh sifat dan sikap ikan tersebut sesuai dengan manusia setidaknya memiliki kemiripan. Itulah mungkin alasan nenek moyang orang Gayo jaman dahulu menjadikan ikan lokot/bado dan keperas sebagai lambang bagi pengantin pria dan wanita.

Dewasa ini, hampir tidak ada lagi ikan lokot/bado dibawa ketika mah bai dan membawa ikan keperas ketika mujule beru/man penan, tetapi sudah diganti dengan ikan bawal, ikan mas, ikan mujahir/nila bahkan ada yang membawa ikan bandeng.

Entah siapa yang memulai dan dari mana rujukan adatnya sehingga sampai saat ini terus membawa ikan selain ikan lokot/bado dan keperas dalam perkawinan saat mah bai dan mujule beru/man penan. Namun disisi lain Majelis Adat Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah serta tokoh adat dikampung-kampung seperti tidak merespon hal tersebut, karena sampai saat ini belum ada membuat kajian terhadap masalah ini. (Red).

News Feed