oleh

Kurban Bintang 5 Anies Tuai Pujian, AIM : Walikota Banda Aceh Harus Belajar Kreatif dari Gubernur DKI

Banda Aceh, Baranewsaceh.co – Ketika Gubernur DKI Jakarta Anie Baswedan mengumumkan idenya untuk menyalurkan qurban kepada warga dengan sentuhan tangan chef hotel bintang lima dan menuai banyak pujian dari warganet. Lain halnya yang terjadi di Pemkot Banda Aceh, penyaluran qurban masih belum mengalami perubahan seperti yang terjadi di DKI Jakarta saat ini.

Direktur Eksekutif Aceh Intellectual Movement (AIM) Irhas F. Jailani menilai Walikota Banda Aceh tidak termasuk dalam golongan 1% warga Aceh yang kreatif menurut Ketua KADIN Aceh, Makmur Budiman. Walikota Banda Aceh jangan pernah terbersit dalam pikirannya bahwa sudah terlalu lambat untuk belajar dari Gubernur Anies Baswedan dan mantan Walikota Bandung yang sekarang menjadi Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Dua figur tersebut layak jadi panutan Walikota dalam melaksanakan pelayanan publik, ” kata Irhas kepada Media Baranewsaceh.co, Minggu (11/8/2019).

“Dalam hal ini Walikota Banda Aceh tidak perlu menjiplak program qurban bintang lima ala Anies. Walikota hanya perlu belajar bagaimana kreativitas memberikan nilai tambah dalam pelayanan publik, ” teranga Irhas.

H. Aminullah Usman, SE. Ak, MM ketika berkampanye memperkenalkan diri sebagai Energi Baru untuk Banda Aceh Gemilang, patut dicurigai energi itu tidak ramah lingkungan dan berdampak buruk bagi masyarakat. Janji kampanye tersebut dinegasikan dengan performa loyo pemkot Banda Aceh dalam pelayanan publik yang dibingkai syariat Islam, ” pungkas Irhas.

Belajar dari pengalaman masalalu, performa pemerintah kota lebih cepat dan sigap dalam pelayanan dan punya bukti nyata.

Irhas juga mencontohkan capaian kepemimpinan sebelumnya mampu mempertahankan gelar Adipura. Jadi syariat bukan hanya tentang zikir gemilang dan berbagai ritual lainnya. Banyak sektor pelayanan publik lainnya yang masih belum dibingkai syariat Islam. Jangan kemudian syariat Islam dipahami secara dangkal dan konservatif. Pemahaman akan syariat Islam yang salah akan mengalihkan tujuan sejati syariat Islam, yaitu mendorong adanya keadilan, kewajaran, kejujuran, pemerintahan yang baik dan kepedulian terhadap lingkungan.

Baru-baru ini publik juga dihebohkan dengan demonstrasi warga Cot Lamkuweuh yang mencabut meteran air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)  Tirta Daroy. Kesalahan fatal Walikota tidak jelasnya blueprint (cetak biru) penyelesaian masalah air minum yang tidak pernah selesai dan tidak dipublikasikan kepada warga kota. Ini berarti sejak awal Pemkot memang tidak siap. Bahkan proyek reservoir di kompleks taman Sari tidak mampu disosialisasikan dengan kreatif kepada seluruh warga. Wajar bila kemudian terjadi demonstrasi di Cot Lamkuweuh, Meuraxa, ” urainya.

Selain itu, sambung Irhas. “Yang tidak kita inginkan adalah Presiden Joko Widodo harus turun tangan untuk menyelesaikan persoalan klasik yang tak kunjung usai ini. Tentu ini akan menjadi preseden buruk bagi Banda Aceh yang merupakan wajah Aceh bagi dunia luar.

Irhas juga meminta Walikota pro-aktif dalam melaksanakan tugas pelayanan publik. Walikota seharusnya tidak menunggu bola di ruangan kebesarannya di Balai kota. Program menyerap aspirasi warga melalui radio memang sudah bagus tapi lebih tepatnya Walikota menggukan platform yang menjangkau semua kalangan warga kota Banda Aceh, ” paparnya.

“Kami pikir, radio sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat dan beralih ke media sosial. Jadi penyerapan aspirasi warga via radio sangat tidak efektif dan kuno sekali. Kalaupun ada aspirasi warga yang terserap via radio maka hanya menyerap aspirasi beberapa warga saja. Padahal Walikota Banda Aceh adalah walikota semua warga bukan kelompok tertentu, ” timpalnya.

Selain itu, jika selama ini H. Aminullah Usman, memberikan perhatian khususnya pada olahraga terutama sepakbola yang mana klub tersebut dipimpin oleh menantunya maka sudah saatnya Walikota Banda Aceh mengurangi intensitas tersebut. Karena tugas Walikota melampaui urusan olahraga sepakbola semata. Tentu saja Walikota Banda Aceh adalah wali (orang yang dekat dengan) kota Banda Aceh bukan Wali Sepakbola semata, ” sergahnya.

Walikota Banda Aceh harus belajar dan berlatih pada mantan Walikota Bandung, Ridwan Kamil yang sangat dekat dengan warga kota. Komunikasi birokrat via sosial media dengan rakyat sangat dekat serta nyaris tanpa lapis yang berlipat-lipat seperti saat ini.

Selain itu kreativitas Ridwan Kami layak jadi panutan dalam menciptakan dan menjalakan tugas sebagai Walikota. Kreativitas tentu muncul karena literasi bukan hanya karena ibadah ritualistik saja. Ibadah literasi juga sangat penting untuk mewujudkan Banda Aceh Gemilang dalam Bingkai Syariat, ” tutupnya. (ADAM)

News Feed