oleh

Kreatifitas Ibu-Ibu di Gampong Bandrong Kecamatan Peureulak Aceh Timur Menyulap Barang Bekas Menjadi Sumber Rezeki

 

ACEH TIMUR, BARANEWSACEH.CO | Pada kesempakatan kali ini penulis yang juga sebagai salah satu mahasiswa di IAIN Langsa yang mengikuti Kuliah pengabdian masyarakat di salah satu desa di Peureulak yaitu di Gampong Bandrong berinisiatif untuk mengajak ibu-ibu rumah tangga untuk mengolah beberapa bahan bekas untuk dijadikan suatu yang menarik dan terdapat nilai kreatifitasnya.

Kegiatan mengolah bahan bekas menjadi produkivitas yang mempunyai nilai jual ini dilakukan di salah satu rumah warga yang ada di Gampong Bandrong tepatnya pada pukul

20.30 WIB.

 

Kegiatan pengolahan bahan bekas menjadi karya yang mempunyai nilai jual tersebut dilakukan di salah satu Gampong yang ada di Aceh Timur, lebih tepatnya di Gampong Bandrong Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur. Dan jumlah peserta (ibu-ibu) yang mengikuti kegiatan tersebut yaitu sejumlah 7-8 orang.

Pawa awalnya bahan yang dijadikan alat praktek tersebut disediakan oleh penulis sendiri, hal tersebut bertujuan memberikan ilmu dan sumbang si penulis bagi ibu-ibu tersebut agar ibu-ibu tersebut tidak repot dan kesusahan mempersiapkan bahan kegiatan. Namun ibu- ibu tersebut hanya lah memperhatikan dan bisa juga langung praktek membuatnya dengan

 

bahan yang sudah disediakan. Kegiatan mengolah barang bekas muncul sejak penulis datang untuk pengabdi di Gampong Bandrong.

Hal tersebut juga sebagaimana hasil wawancara dengan salah satu ibu-ibu yang ikut serta dalam pengolahan barang bekas tersebut, beliau menyebutkan bahwa: “Saya sendiri merasa sangat senang dengan kedatangan adik-adik mahasiswa IAIN Langsa ini ke Kampung ini. Banyak hal yang bisa kami dapatkan ya terutama sangat membantu orang-orang kampung sini, baik itu membantu proses panen maupun usaha dagang orang sini. Dan yang sangat saya senangi yaitu adik mahasiswa ini mau mengajari kami mengolah barang-barang bekas. Dari itu kami mengerti bahwa barang bekas sudah menjadi sumber rezeki bagi kami.” Ujar Bu Ema, salah satu ibu-ibu yang ikut dalam kegiatan tersebut.

Menurut Bu Ema tersebut, ilmu yang diberikan mahasiswa KPM ini sangat membantu ibu-ibu untuk dapat mengembangkan usaha baru yang mana saat ini sedang mengahadapi pandemi covid 19. Sedangkan yang semua tau bahwa di tengah-tengah pandemi sulit untuk mengontrol pendapatan ekonomi orang-orang. Dengan hasil pengolahan barang bekas sangat diharapkan menjadi sumber rezeki bagi masyarakat setempat.

Kebanyakan orang pasti beranggapan bahwa barang bekas hanyalah sampah yang tidak memiliki nilai jual sama sekali. Alhasil, barang tak terpakai tersebut langsung dibuang di tempat sampah atau berserakan di gudang rumah. Padahal, jika mau berusaha dan sedikit menggunakan daya kreativitas, barang bekas tersebut dapat menjadi barang berharga dan laku di masyarakat. Bahkan, tidak sedikit bukti yang menunjukkan bahwa membuat kerajinan dari barang tak terpakai dapat menjadi sumber rezeki yang menjanjikan.

Selain banyak ditemui, modal yang diperlukan untuk menekuni usaha kerajinan tangan dari barang bekas ini juga sangat kecil. Namun, tergantung dari daya kreativitas dan kualitasnya, produk kerajinan tangan dari ‘sampah’ tersebut dapat laku dengan harga yang mahal. Tidak hanya itu, dengan menggeluti dunia bisnis tersebut, pengrajin dari barang bekas juga turut membantu Bumi untuk memiliki masa depan yang lebih cerah.

Dengan banyaknya manfaat dan potensi keuntungan yang bisa didapatkan dari mengolah barang bekas menjadi kerajinan tangan, tidak ada salahnya untuk mencoba terjun ke bidang bisnis tersebut.

Kerajinan tangan yang diajarkan oleh penulis sendiri kepada ibu-ibu rumah tangga di Gampong Bandrong yaitu membuat bunga dari botol plastik yang sudah kosong dari air.

 

Adapun praktek membuatnya yaitu membuat/merangkai bunga dari botol plastik ini dapat di awali dengan menyiapkan ranting pohon “Kosambi” dibersihkan sampai terlihat rapih kemudian menyiapkan wadah berupa ember cat atau sejenisnya untuk menempatkan ranting pohon tersebut agar bisa berdiri dengan kokoh. Selanjutnya menyiapkan botol bekas, baik ukuran sedang maupun besar, kemudian dibentuk menjadi model-model daun dan mahkota bunga menggunakan gunting atau cutter. Untuk mempercantik pola-pola yang dibuat, botol- botol yang telah dibentuk selanjutnya diwarnai menggunakan pilox dan selanjutnya di rangkai disetiap bagian ranting pohon yang telah disediakan sebelumnya. Urutan kegiatan di atas tidak mesti seperti yang di tuliskan di atas, bisa saja ibu-ibu memulai dari menyiapkan pola-pola daun dan bunga yang di bentuk, jadi tidak mengikat.

(Gambar diambil saat mempersiapkan bahan bahan dan hasil dari kegiatan tersebut)

 

Ternyata jika kita mampu berkreasi dan berinovasi sampah atau barang bekas pun berubah menjadi suatu yang unik dan berpotensi menghasilkan rupiah yang bisa menambah perekonomian keluarga. Hal ini sangat menarik dan bisa menjadi inspirasi. Kerajinan seperti ini bisa ditularkan ilmu serta tekniknya kepada ibu-ibu lainnya, atau murid-murid di sekolah atau lingkungan tempat tinggal.

Dengan dilakaukannya kegiatan yang diketuai oleh mahasiswa KPM ini maka diharapkan para ibu-ibu rumah tangga dapat mengembangkan kreativitas dan mendorong semangat jiwa pebisnis untuk meningkatkan penghasilan tambahan bagi perekonomian keluarga. Dan hal tersebut juga akan mengeratkan sosialisasi bagi ibu-ibu setempat. Tentu yang paling utama yaitu dalam Islam menganjurkan manusia untuk tidak merusak bumi dengan membuang sampah sembarangan sebagaimana kegiatan ini mengolah barang bekas jadi mengurangi pembuangan sampah plastik.

 

Penulis: Hikmatul Fitri, mahasiswa IAIN Langsa Program Studi Manajemen Keuangan Syariah

News Feed