oleh

Keyakinan & Kebenaran

-HEADLINE, OPINI-20472 views

 

Oleh Fakhrurrazi (Penulis catatan singkat kertas koyak, Dan Penikmat Geosastra, Sains Filsafat, & Sufisme)

Dalam sains kebumian yaitu Ilmu Geofisika & Geologi yang kita pelajari saat ini merupakan dari pandangan Sekuler & Liberal. Karena tak dibahas materi tentang Tuhan.

Keilmuan itu kita dapatkan sekarang, sebagian besarnya berasal dari Barat. Barat memiliki sejarah pertentangan antara akal (pengetahuan) dan agama (Gereja Katolik Roma).

Para ilmuwan, seperti Galileo, mendapat tekanan dari Gereja karena pernyataannya dianggap melawan ajaran agama. Akibatnya, akal di Barat berusaha melepaskan diri dari agama, yang akhirnya dimenangkan oleh akal (ilmu pengetahuan). Mulai dari situ, ilmu pengetahuan di Barat kehilangan agamanya, dan keduanya berjalan pada jalan yang terpisah.

Kemudian Barat melakukan ekspansi kolonialisme ke berbagai penjuru dunia. Hingga tersebarlah pandangan Barat tersebut ke wilayah-wilayah jajahannya tersebut, termasuk Indonesia. Agama kemudian perlahan-lahan dilihat sebagai sesuatu yang terbelakang, yang tidak masuk akal, yang semestinya ditinggalkan. Agama adalah peninggalan masa lalu.

Dalam keilmuan itu kita tak membahas materi tentang peran Tuhan sebagai Pengendali Semesta Alam. Yang telah menjadikan hamparan alam raya penuh persamaan matematis dan hukum fisis.

Dengan faktor-faktor tersebut, contohnya manusia mampu merekayasa angin dengan menciptakan kapal Terbang. Karena pada hakekatnya Tuhan memang menundukkan alam raya ini kepada manusia.

Jika kita melihat ke dalam Islam, Sains dan agama berjalan beriringan, sebagaimana Ibnu Rusyd, filsuf muslim dari Spanyol, “Agama dan sains adalah saudara sepersusuan.” Ibnu Rusyd merupakan komentator karya-karya Aristoteles, yang tulisannya tersebar ke Eropa dan turut serta memicu kebangkitan intelektual di sana, sampai memunculkan aliran tersendiri yang disebut Averroism (Ibnu Rusyd-isme).

Kembali lagi tentang sains kebumian, kita ummat islam dapat memahami peran Tuhan ketika membuka lembaran Quran, lalu dikaitkan dengan bukti-bukti ilmiah sebagai landasan penafsiran.

Munculnya Teori probabilitas beserta praktek dalam eksplorasi migas telah memberikan gambaran yakin atau tidak yakin keberhasilan menemukan cadangan minyak bumi & gas di alam. Bukan soal itu telah dianggap sebuah kebenaran, tapi pembuktian sebuah keyakinan melalui gambaran penampak seismik baik 2D & 3D. Kemudian para Insinyur melakukan proses pemboran lapisan bumi sampai kedalam sejauh ia yakin dan paham.

Namun terkadang, lapisan bumi pembuktian dari pemboran bisa melenceng & merubah model interpretasi penampang setiap lapisan.

Pada hakekatnya itulah bentuk ikhtiar sebagai insan ciptaan Tuhan, yang diberi kebebasan untuk mengeksplor alam semesta. Kita sadar bahwa kita terus membuktikan kebesaran Tuhan, bukan kebenaran. Itulah tujuan sains kebumian.

Karena kebenaran itu relatif terhadap waktu. Hari ini konsep migas itu benar berada di lapisan-lapisan tertentu, namun 20-30 tahun kedepan berubah, bisa saja pada lapisan-lapisan lain ditemukan.

Dimata eksplorer dikenal semboyan filosofi bahwa Migas itu berada di kepala manusia. Semboyan ini yang kita saksikan pada hari ini bahwa barat terus menerus update teknologi & pengetahuan demi eksplorasi kekayaan alam.

Bila tafsir alam ini sudah dianggap kebenaran mutlak, maka tak ada inovasi setiap zaman. Tak diperlukan lagi peran sains dan pengetahuan untuk manusia meraih kesejahteraan.

Bila praktik barat itu kita adopsi ke islam, ketika ilmuwan terus melakukan pembuktian, sehingga kita mengambil kesimpulan bahwa kebenaran hakiki dan kepastian hanya milik Tuhan.

Bahwa Kebenaran adalah jalan yang lurus yakni Jalan yang selalu kita ucap & mohon kepada Sang Pencipta Alam. Jalan itu pula yang termaktub dalam surat Pembukaan (Al Fatihah) yang setiap sholat diucapkan berulang-ulang, sebagai Jalan yang dijanjikan Tuhan. Jalan itu pula sebagai re-negosiasi kesepakatan kita dengan Tuhan sewaktu masih dalam kandungan, ikrar setia & suci pada ayat 162 surat Al An’am.

Akhirnya kita sadar bahwa kebenaran yang kita fikirkan itu belum tentu sesuatu yang benar. Kebenaran itu adalah jalan yang terus kita cari dan temukan, lalu terciptanya keyakinan. Namun sebagai ummat islam hidup tentu berawal dari keyakinan, yang terus dipupuk dengan pengetahuan & keimanan, kita yakin kepada Tuhan, maka itulah jalan kebenaran.

Editor: Riri Isthafa Najmi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed