oleh

Kementerian Kominfo dan Pemkab Gayo Lues Kolaborasi Gelar Webinar Bahas Kebebasan Berekspresi di Dunia Digital

Sabtu, 14 Agustus 2021, Jam 09.00 WIB

GAYO LUES , BARANEWS ACEH.CO | Bapak Presiden Republik Indonesia memberikan arahan tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital. Ditindak lanjuti oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aptika memiliki target hingga tahun 2024 untuk menjangkau 50 juta masyarakat agar mendapatkan literasi di bidang digital dengan secara spesifik untuk tahun 2021. Target yang telah dicanangkan adalah 12,5 juta masyarakat dari berbagai kalangan untuk mendapatkan literasi dibidang digital. Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kab/Kota dari Aceh hingga Lampung.

Sebagai Keynote Speaker adalah Gubernur Provinsi Aceh yaitu, Ir. H. Nova Iriansyah, M.T., dan Bp. Presiden RI Bapak Jokowi memberikan sambutan pula dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

MIA MARCELINNA, S.PD (Tenaga Didik dan Roland International Artist), pada sesi KECAKAPAN DIGITAL. Mia memaparkan tema “PENTINGNYA PERLINDUNGAN HAK PATEN DI RANAH DIGITAL”. Dalam pemaparannya, Mia menjelaskan kekayaan intelektual merupakan suatu karya yang lahir dari kemampuan olah pikir atau intelektual manusia, berupa karya-karya di bidang teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Sehingga menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk kepentingan manusia dan memiliki manfaat ekonomi. Jenis-jenis kekayaan intelektual, meliputi hak cipta dan hak kekayaan industri. Hak kekayaan industri itu terdiri dari berbagai jenis salah satunya mencakup hak paten. Pentingnya meilindungi hak paten, dikarenakan mendapat hak moral dan diakui sebagai pencipta karya serta bisa menggunakan hak tersebut untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomis. Untuk mengajukan hak paten, dapat dilakukan melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkumham.

Dilanjutkan dengan sesi KEAMANAN DIGITAL, oleh CHIKA AUDHIKA (Co- Founder dan CMO of Bicara Project). Chika mengangkat tema “DUNIA MAYA DAN REKAM JEJAK DIGITA”. Chika menjabarkan dunia maya tidak tebatas oleh ruang dan waktu, jangkauan luas, massal, serta mudah dibagikan dan diterima. Macam-macam produk digital antara lain, media sosial, website, blog, internet banking, serta aplikasi gawai. Rekam jejak digital meliputi, kegiatan mengirim pesan, mengunjungi situs website, unggahan konten atau komentar, memasukan data pribadi, serta internet banking.

Bijaksana dalam jejak digital untuk menghindari pencurian data, cyber bullying atau perundungan, banned atau ditolak melakukan kegiatan digital, kehilangan kepercayaan, serta pidana Undang-Undang ITE. Tips dan trick dalam berinternet diantaranya, berpikir sebelum mengunggah sesuatu, batasi informasi, etika dalam bermedia, tidak mudah percaya, sistem keamanan ganda, dan mencari nama sendiri di search engine.

Sesi BUDAYA DIGITAL, oleh ZULKIFLI, S.PT., M.M (Founder dan CEO Zuliya Consulting). Zulkifli memberikan materi dengan tema “MENGENAL LEBIH JAUH CARA MENYUARAKAN PENDAPAT DI DUNIA DIGITAL”. Zulkifli menjelaskan langkah-langkah dalam menulis argumen berupa, menentukan topik, menentukan tujuan, mengumpulkan data dari berbagai sumber, menyusun kerangka tulisan sesuai topik, serta mengembangkan kerangka menjadi tulisan argumentasi. Zulkifli menjelaskan cara berpendapat efektif di era digital antara lain, mengetahui informasi secara detail, membandingkan informasi yang baru diketahui dengan fakta yang ada, pengetahui peraturan pemerintah UU ITE tentang berpendapat di media digital, serta memberikan pendapat yang bersifat membangun. Hindari SARA, pornografi, dan kekerasan.

Narasumber terakhir pada sesi ETIKA DIGITAL, oleh SARTIKA MAYA SARI AWALUDDIN, S.STP., M.A (Kepala Dinas DPMK Gayo Lues). Sartika mengangkat tema “DIGITAL LITERACY FOR PARENTS: SUITABLE AND SAFE INTERNET FOR MINORS AND TEENS”. Sartika menjelaskan karakteristik generasi digital meliputi digtal immigrant dan digital native. Digital immigrant, merupakan generasi yang mengenal internet seletah meraka dewasa. Sedangkan, digital native, merupakan generasi yang lahir pada zaman digital dan berinteraksi dengan peralatan digital pada usia dini. Kekuatan digital pada anak laksana pisau bermata dua, karena terdapat dampak positif dan negatif pada media sosial. Dampak positif media sosial meliputi kemudahan memperoleh data dan informasi terbaru serta sebagai sarana meningkatkan kreatifitas dengan membuat sesuatu yang bermanfaat. Dampak negatif pada media sosial yaitu, dapat menyebabkan kecanduan atau adiksi serta dapat melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Tantangan orang tua di era digital ialah orang tua yang gagap tekonologi dan orang tua tidak tahu harus bagaimana. Pola pengasuhan digital orang tua yang baik dengan cara, perkuat komunikasi dengan anak, bekali diri, terus belajar, gunakan aplikasi parental control, buat aturan bersama, jadi teman dan pengikut anak di media sosial, bermain bersama anak di media sosial, serta menjadi teladan digital bagi anak.

Webinar diakhiri, oleh JANE YARISAL HUSNA (Konten Kreator dan Influencer dengan Followers 11,7 Ribu). Jane menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber, berupa pentingnya meilindungi hak paten, dikarenakan mendapat hak moral dan diakui sebagai pencipta karya serta bisa menggunakan hak tersebut untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomis. Untuk mengajukan hak paten, dapat dilakukan melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkumham. (RED)

News Feed