oleh

Keluarga BARA NEWS Turut Berduka Cita Atas Berpulangnya Kerahmatullah Bapak Ir. Amarullah Leman, M.Si

GAYO LUES, BARANEWS | Innalillahi wainna Ilaihi rajiun, telah berpulang ke rahmatullah Bapak Ir. Amarullah Leman, M.Si, Mantan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gayo Lues Telah Berpulang ke Rahmatullah (meninggal dunia) pada Jum’at, 04 November 2022 di Pelembang Sumatera Selatan .

Ir. Amarullah Leman, M.Si, dikabarkan tutup usia pada Jum’at, 04 November 2022 pada usia 64 tahun, di kediamannya di Pelembang Sumatera Selatan.

Wafatnya almarhum tentu saja meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya dari keluarga, tapi juga dari keluarga besar Baranews News.

Pimpinan Umum Bara News Abdiansyah,SST berharap kepada keluarga yang ditinggalkan untuk mengikhlaskan kepergian almarhum.

“Saya atas nama Keluarga Besar Bara News dan Keluarga, menyampaikan rasa duka cita mendalam atas meninggalnya Bapak Ir. Amarullah Leman, M.Si.  Semoga Allah ampuni segala salah dan dosanya serta ditempatkan pada tempat yang baik disisi Allah SWT.” Ucap Abdi.

Lebih lanjut dia mengajak seluruh keluarga besar Keluarga Besar Bara News, untuk sama-sama mendoakan, agar almarhum diampuni segala salah, khilaf dan dosanya.

“Mari kita doakan juga semoga keluarga besar Almarhum diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini.” Pungkas Abdi.

 

 

Bapak Ir. Amarullah Leman, M.Si,  Pria kelahiran Blangkejeren  Gayo Lues 18 Januari 1958 ini merupakan anak ke 9 dari 11 bersaudara dari ayah Sulaiman (Leman) dan ibu Hj. Fatimah. Pada  tahun 1991 menikah dengan Onie Septarina R seorang gadis Jawa yang lembut dan ramah dari kota dingin Magetan Jawa Timur, yang kini telah dikaruniai 2 orang putra  yaitu Arawe Kenrisky Bhaskara 25 th dan Nabil Warih Laksana 22 th yang kedua putranya telah menyelesaikan kesarjanaannya, Arawe Kenrisky Bhaskara Sarjana Teknik Sipil dan Nabil Warih Laksana Sarjana Akuntansi.

Pada tahun 1965 Amarullah Leman masuk SD, dan dilanjutkan SMP nya di Blangkejeren, sedangkan  SMA ditempuh di SMA Negeri 1 Bambel Kutacane Aceh Tenggara sampai naik ke kelas II dan dilanjutkan di SMA Negeri 24 Jakarta tahun 1978. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA melanjutkan pendidikan tingginya di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) di Jakarta walaupun juga diterima di IPB Bogor. Beliau rupanya tidak merasa puas kalau hanya sampai di jenjang D3 dan sejalan dengan keinginan orang tuanya  agar Amarullah Leman mendapat gelar Insinyur, sehingga beliau tidak menyelesaikan D3 nya di STAN dan pada tahun ke 2 ikut tes dan lulus masuk di Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto Jawa Tengah.

Karir birokrasi yang digelutinya berawal di tahun 1987 di Departemen Transmigrasi dan PPH di Jakarta, selanjutya tahun 1991 ditugaskan sebagai Tenaga Proyek Tranmigrasi di Kanwil Transmigrasi dan PPH Provinsi Sulawesi Tengah dan diangkat sebagai Pemimpin Proyek sejak tahun 1992 sampai dengan tahun 2000, dan pada tahun 1997 sampai dengan tahun 2000 merangkap sebagai Pemimpin Proyek Integrated Rural Settlement Devlopment Programme ­­– OECF IV (IRSDP – OECF IV) Proyek Peningkatan Infrastruktur Jalan dan Jembatan, serta  Pengembangan Ternak Sapi berintegrasi dengan pengembangan Budidaya Kakao  di daerah Transmigrasi. Di Palu Sulawesi Tengah naluri berorganisasinya kembali bangkit dan bergabung dengan Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sulawesi Tengah sebagai salah satu pengurus.

Tahun 2000 saat diberlakukannya Otonomi Daerah, Amarullah Leman mendapat tawaran dan promosi Pemerintah Daerah Kota Palu Sulawesi Tengah dan diangkat sebagai pejabat eselon III  Kasubdin Persampahan dan Limbah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Palu dan selanjutnya mendapatkan kesempatan tugas belajar untuk Pendidikan Program Pasca Sarjana di Universitas Hasanuddin Makassar dengan Program Studi Manajemen Perkotaan sehingga tidak mengherankan bahwa dalam kesehariannya terus mencetuskan hal – hal pengembangan wilayah strategis dan tata ruang daerah.

Atas inisiatif dan keinginan keluarga besarnya di Kab. Gayo Lues dan Kab. Aceh Tamiang maka awal tahun 2005 pasca bencana alam Tsunami di Aceh, Amarullah Leman pindah tugas ke Kab. Aceh Tamiang dengan awal karir sebagai Staf Senior di Bappeda Kab. Aceh Tamiang selama 3 bulan selanjutnya ditunjuk oleh Bupati Aceh Tamiang sebagai pejabat eselon III  Kasubdin Pajak dan Retribusi Dispenda Kab. Aceh Tamiang selama 6 bulan. Berikutnya ditunjuk kembali oleh Bupati sebagai Kabag Tata Usaha Dinas PU Kab. Aceh Tamiang, selanjutnya awal tahun 2007  dipercayakan oleh Bupati Aceh Tamiang sebagai Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kab. Aceh Tamiang. Di Kabupaten tersebut telah menelorkan sejuta ide yang manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat Aceh Tamiang diantaranya mencetuskan Program Revitalisasi Modal pada pelaku Industri Kecil dan Mikro dengan Pilot Project Revitalisasi berupa bantuan  Kredit Usaha Ekonomi (KUE) terutama bagi pelaku industri kecil dan mikro yang terkena musibah bencana alam Banjir Bandang yang melanda Aceh Tamiang tahun 2006 dimana beliau beranggapan bahwa akibat bencana alam banjir bandang maka seluruh peralatan (faktor) produksi mengalami kerusakan sehingga perlu dibantu oleh pemerintah. KUE dalam pelaksanaan penyalurannya sesuai MoU yang dilaksanakan oleh BRI dan Bank Aceh (BPD pada waktu itu).

Awal tahun 2008  atas permintaan Bupati Gayo Lues kepada Amarullah Leman agar dapat kembali ke tempat kelahiran beliau di Kabupaten Gayo Lues untuk membangun daerah dan diangkat oleh Bupati Gayo Lues sebagai Kepala Dinas Pertanian yaitu sebuah Dinas Besar yang merupakan hasil merger dari 3 Dinas sebelumnya (Dinas Pertanian dan Tanaman Hortikultura, Dinas Peternakan dan Perikanan, dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan). Di era kepemimpinan beliau telah berhasil mencetuskan ide Crash Programme Gerakan Masyarakat Petani Sejahtera yang lebih dikenal Program GEMASIH. Program tersebut berawal dari idenya bahwa sangat banyak lahan-lahan tidur yang tidak termanfaatkan secara potensial padahal bila dikelola dan dikawal dengan sentuhan teknologi (mekanisasi pertanian) akan memberikan produktivitas yang tinggi. Program ini dikawal oleh masing-masing Kepala Dinas, Kepala Instansi Vertikal, Pimpinan dan anggota DPRK (DPRD II) selaku pembina Kelompok Tani peserta program GEMASIH. Dampak signifikan dari program yang digelontorkan bahwa jagung lokal yang semula dibudidayakan secara parsial dengan produktivitas hanya 4 ton/ha saja meningkat drastis menjadi sentra pengembangan dengan komoditi jagung unggul hibrida yang produktivitasnya mencapai dalam kisaran 9 – 11 ton/Ha. Sungguh ini merupakan sebuah prestasi yang amazing dan spektakuler. Konsep kunci yang dijalankan oleh beliau dalam Program Gemasih dengan motto bahwa “Petani Sejahtera Hutan Tetap Lestari”. Basis pengembangan dari Program GEMASIH adalah memanfaatkan lahan-lahan tidur yang tidak dimanfaatkan yang luasannya hampir mencapai 20000 hektar yang diantaranya ada areal yang sangat dekat bersentuhan dengan kawasan hutan. Lahan lahan tidur yang dimaksud dalam bentuk kebun dan tegalan yang bila diolah secara profesional akan mendatangkan sumber rezeki bagi petani Gayo Lues. Kemajuan lain yang telah dicapai di bidang perkebunan antara lain mengangkat harkat komoditas Kopi Arabika Gayo.

Trend Kopi Arabika Gayo yang sedang booming saat ini, juga beliau ikut berperan memperjuangkan Sertifikat Paten Kopi Arabika Gayo bersama Prof. Dr.Ir. Abubakar Karim,MS dan Drs.H. Mustafa Ali selaku Ketua MPKG (Masyarakat Perlindugan Kopi Gayo ) di Takengon, Pemerintah Aceh, Aceh Patnership for Economic (APED), Tiga Kepala Daerah dataran tinggi Gayo beserta masing – masing Kepala Dinas yang menangani bidang perkebunan, dan pada tahun 2010 berhasil terbitnya Sertifikat Paten Kopi Arabika Gayo dari Direktur Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Kehakiman dan HAM RI terhadap Kopi Gayo Kab. Aceh Tengah, Kab. Bener Meriah, dan Kab. Gayo Lues. Dengan demikian gugurlah Hak Paten Kopi Gayo yang sebelumnya pernah dipegang oleh seorang pengusaha negeri Belanda.

Setelah debut karir beliau memimpin Dinas Pertanian selama 5 Tahun, selanjutnya dipercayakan memimpin Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Gayo Lues dari tahun 2013 sampai tahun 2016. Di era kepemimpinannya lah para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Gayo Lues dibawa ke suatu alam yang sarat dengan paradigma baru. Di masa beliau lah para PPL dibawa untuk mahir dan canggih serta terbiasa untuk menggunakan IT (Information Technology) dalam penyampaian inovasi teknologi kepada petani. Beliau berprinsip bahwa para PPL harus pintar dan petani harus maju, PPL harus bersosialisasi dan bersinergi dengan petani agar petaninya mandiri.

Di penghujung Tugas ASN beliau masih dipercayakan oleh Bupati Gayo Lues untuk memimpin Dinas Lingkungan Hidup. Sebuah Dinas yang baru dibentuk memiliki tugas  yang sangat berat mulai dari penataan taman kota, reboisasi, pengelolaan sampah dan limbah sampai dengan aktivitas analisis dampak mengenai lingkungan, dan juga memposisikan Dinas Lingkungan Hidup  Kabupaten Gayo Lues sebagai Katup Pengaman layak tidaknya Rekomendasi Pemerintah Kab. Gayo Lues untuk Usaha yang menyangkut Pertambangan Sumberdaya Energi, dan Kehutanan di wilayah Kab. Gayo Lues seiring dengan pelimpahan wewenang bidang- bidang tersebut di atas yang ditangani oleh Provinsi Aceh.

Setelah purna tugas karirnya sebagai ASN, beliau melirik bergabung  ke kiprah politik melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dikonotasikan bahwa partai ini adalah partainya para Ulama, partainya orang tua, dan partai kelompok Millenial yang berkomitmen untuk kemashlahatan umat. Rupanya darah berpolitik turun dari orang tuanya, yang dulunya sebagai Ketua PNI Gayo Lues. Saat ini Amarullah Leman dipercaya oleh DPW PPP Provinsi Aceh  sebagai Ketua DPC PPP  Kabupaten Gayo Lues.  (RED)

Jangan Lewatkan