oleh

Kejayaan Tembakau Bener Meriah Yang Kehilangan Marwah

 

 

Bener Meriah Baranewsaceh.co |  Pada era tahun 80 an, pesona tembakau Bener Meriah sempat mewarnai pasar tembakau di provinsi Aceh, Sumatera Utara dan pulau Jawa. Popularitas tembakau asal Pondok Baru Bener Meriah cukup terkenal dan sangat digemari oleh para saudagar dan para elit lainnya. Selain itu keberadaan tembakau Bener Meriah atau lebih akrab di sebut “Bako Lose” unggul dalam warna dan cita rasa dan ini merupakan gengsi tersendiri bagi sebagian kalangan jika mampu membeli Tembakau asal Pondok Baru dan daerah lainnya di dataran tinggi Gayo.

Kendati hanya di kemas dalam bentuk tembakau Linting yang di balut daun Nipah, kesan yang di munculkan adalah para pecandu tembakau Lose Bener Meriah adalah kelompok yang berasal dari kalangan elit dan berduit. Hal ini sangat beralasan mengingat harga satu kilogram tembakau kelas terbaik (lose) pada masa itu mencapai harga Rp 100.000 (seratus ribu rupiah) sedangkan bila di bandingkan dengan jrokok Dji Sam Soe yang pada saat itu merupakan rokok terbaik dan termahal hanya di hargai sekira Rp 1500 (seribu lima ratus rupiah) per bungkusnya. Jadi bagi pengisap Bako Lose asal Bener Meriah merupakan kelompok orang orang yang berkelas.

Megahnya kualitas dan harga yang sangat menjanjikannyakan pada masa itu, sempat menjadi daya tarik tersendiri, hal itulah yang kemudian melatarbelakangi para keluarga besar asal Kabupaten Asal Gayo Lues kemudian bermigrasi menuju kabupaten Aceh Tengah, terutama di daerah Bantul Kemumu, sekarang kecamatan Permata Kabupaten Bener Meriah.

Saat itu tembakau merupakan tanaman yang menjadi primadona bagi masyarakat dataran tinggi Gayo. Hal ini di tandai di setiap desa yang berada di wilayah kecamatan bukit, dan kecamatan bandar serta timang gajah (sebelum pemekaran) tembakau adalah solusi sebagai penyangga ekonomi sembari menunggu masa panen kopi tiba. Begitu juga dalam proses pembukaan lahan perkebunan kopi, tembakau adalah pilihan utama yang di tanam secara bersamaan dengan tanaman kopi. Selain daun tembakau yang rindang, kopi yang di tanam bersamaan dengan tembakau akan lebih cepat dalam hal pertumbuhannya.

Kini seiring waktu, keberadaan tembakau lokal Bener Meriah mulai sirna, tenggelam dan kehilangan Marwah. hal ini di sebabkan karena sebagian lahan petani mulai beralih fungsi dengan tanaman holtikultura seperti cabe, tomat, kentang dan lain lain.

Faktor lain adalah penyempitan lahan akibat tanaman utama seperti kopi sudah besar dan sudah menghasilkan. Selain itu biasanya para petani jika menanam tembakau harus di atas lahan yang luas, karena minimal bagi seorang petani jika menanam tembakau paling minim 5000 (Lima ribu) pokok, atau dengan luas areal lahan sekira 1/2 hektar.

Selain itu untuk jenis tembakau lokal seperti merat, Bogor, karet dan kertas, dulu jarang di tanami di lahan yang sudah pernah di garap, karena terlalu subur, akibatnya daun akan terlalu panjang dan lebar, kebanyakan getah, dan bertulang pada bagian daun

Untuk ukuran tembakau lokal hal ini sangat mempengaruhi kualitas rasa dan aroma tembakau pasca dirajang. Akibatnya warna tembakau hasil rajangan tidak terlalu bagus, begitu juga dengan aroma tidak seperti yang di harapkan. Begitu juga dengan nilai jual sangat berpengaruh.

“Karena pada saat itu besar nilai jual tembakau sangat ditentukan oleh warna”

Ada beberapa kategorikan penyebutan istilah tembakau pasca di rajang, berdasarkan istilah kearifan lokal masyarakat Gayo.

Bako Sempur.
Tembakau jenis ini begitu berasal dari daun pilihan dan begini tu selesai di rajang, proses pengeringannya di lakukan secara menabur di atas wadah yang terbuat dari tumbuhan rawa sejenis bambu air (Silih atau ancak) yang di buat seperti tikar membentang. Bako Sempur unggul dalam warna dan rasa, akan tetapi biasanya hanya di buat untuk kalangan sendiri dan tidak untuk di jual.

Bako Lose : Tembakau jenis ini adalah tembakau dengan kualitas terbaik dengan nilai jual harga jual yang cukup tinggi. Atau tembakau kelas satu.

Bako sedang : Tembakau jenis ini adalah tembakau dengan warna standar, dan katogri jenis ini yang paling banyak di minati dan digemari karena harganya cukup terjangkau untuk semua kalangan.

Bako Ilang : Warna tembakau jenis ini agak kuning kemerah – merahan. Tembakau katagori ini merupakan tembakau kelas tiga.

Bako Sugi : Warna tembakau jenis ini agak kehitam hitaman dan biasanya sering di sebut dengan istilah “Bako Medan” atau tembakau yang memang di pasarkan di daerah Medan Sumatera Utara.

Bako Lapuk. Tembakau yang di hinggapi jamur putih, akibat proses pengeringan yang tidak sempurna, selain itu proses penyimpanannya di tempat dengan suhu udara yang lembab.

Bako Gersong : Tembakau jenis ini adalah kumpulan dari sisa sisa tembakau di atas yang kemudian di olah dan di satukan kembali.

Pada prinsipnya warna dan rasa pada tembakau, sangat di tentukan dari proses pengolahan, cuaca dan juga lahan, begitu juga dalam masa pengolahan mulai dari proses pemilihan daun, proses pemeraman atau fermentasi, dan juga peroses pembersihan daun yang rusak (munyebek) dan pengambilan tulang daun sebelum di rajang.

Selain itu faktor lain yang sangat mempengaruhi rasa dan warna adalah tingkatan daun pada pokok tembakau yang akan di petik. Biasanya daun paling bawah (ulung Tapak) rasanya agak enteng dan tidak begitu keras saat dihisap. Selain itu pisau perajang juga harus tajam. Jika pisau perajangan kurang tajam, akan berpengaruh pada hasil rajangan dan rasa. Begitu juga dengan penjemuran harus melalui pemanggangan dan panas matahari.

Ada beberapa jenis tembakau yang terkenal dan biasa di tanam di dataran tinggi tanah Gayo antara lain

(1) Tembakau Bogor (Bako Bogor) jenis bibit tembakau Bogor juga terbagi dua yakni Bogor putih dan Bogor hitam, dan jenis tembakau ini yang paling banyak di tanam, dengan ciri daun agak lonjong dan bulat. Selain menghasilkan warna yang bagus, tembakau jenis ini juga lebih tahan penyakit dan berat dalam timbangan.

(2) Tembakau Karet (Tembakau Karet) jenis tembakau ini daun lebar dan memanjang seperti daun terong Belanda. Penamaan jenis tembakau ini mungkin faktor hasil rajangan agak sedikit lentur menyerupai karet.

(3) Tembakau Merat ( Bako Merat) Kualitas Tembakau jenis ini terlihat pasca perajangan dan pengeringan hingga muncul warna kuning kemerah – merahan.

(4) Tembakau Kertas (Bako Kertas)
Tembakau jenis ini memiliki daun tipis dan tidak lebar. Tembakau jenis ini, unggul dalam warna, dan rasa, akan tetapi ringan dalam hal timbangan saat sudah kering. Akibatnya petani dataran tinggi Gayo jarang menanam tembakau jenis ini.

Umumnya jenis tembakau lokal yang ada di dataran tinggi Gayo termasuk dalam katagori tembakau jenis Virginia. Tembakau jenis ini paling bagus jika digunakan sebagai pembalut cerutu, karena tembakau jenis Virginia ini daunnya lembut dan tak mudah robek apabila sudah di keringkan.

Kadis Pertanian Bener Meriah Ir. Nurisman saat di hubungi media media ini. Kamis (04/11/2021) menjelaskan. Saat ini kita sedang melakukan sosialisasi budi daya tanaman tembakau jenis White Burley. Hal ini bertujuan untuk kembali fokus pada tanaman yang sudah pernah di budidayakan oleh para leluhur masyarakat Gayo, dan sampai saat ini masih berkelanjutan, walaupun dalam luasan yang terbatas.

Ia juga menambahkan bahwa tanaman Tembakau memiliki prospek pengambangan yang cukup baik di dataran tinggi Gayo dan sampai saat ini masih tetap ditanam oleh sejumlah petani yang ada di kabupaten Bener Meriah. Artinya keberadaan tanaman tembakau masih menjadi salah satu primadona di samping tanaman kopi dan holticultura yang lainnya.

Untuk dapat mengembalikan kejayaan tembakau Bener Meriah seperti di masa lalu, Dinas yang di pimpinnya kini terus berupaya melakukan langkah pengembangan dengan terobosan baru untuk membantu para petani yang masih konsisten menanam tembakau.

Adapun langkah Langkah yang telah di lakukan kita telah menjalin kerjasama dengan KPP Bea dan Cukai Lhok seumawe, agar petani tembakau yang ada di kabupaten Bener Meriah dapat terbantu. Tentu dalam hal ini melalui dana Transfer APBN Bagi Hasil Cukai Tembakau ( DBH – CHT ). Tutupnya.

Saat ini kabupaten Bener Meriah sudah kejipratan dana tranfer APBN bagi hasil Cukai Tembakau (CBH – CHT) akan tetapi masih dalam nominal yang masih kecil, karena besar kecilnya di tentukan volume tembakau yang ada di daerah. Lalu bagaimana jika kejayaan tembakau Bener Meriah itu kembali seperti era tahun 80 an. Tentu dana yang akan di tranfer ke kabupaten kopi ini, akan semakin besar.

Persoalannya adalah adakah keinginan masyarakat Bener Meriah untuk kembali menanam tembakau…? Lalu sejauh mana keseriusan Pemkab Meriah dalam pengembangannya, atau terkadang hanya cukup bernostalgia dengan kemegahan tembakau Bener Meriah di masa lalu.

Semoga pemkab Bener Meriah beserta para anggota dewan yang terhormat tidak hanya terfokus pada pengadaan bibit cabe, mulsa, kentang dan pembibitan kopi. Hendaknya ada warna lain agar kabupaten Muyang Kute ini lebih bervariasi dalam keragaman tanaman. Agar kedepannya petani tidak hanya terfokus pada tanaman kopi. Dengan demikian kesejahteraan petani dapat di tingkatkan terutama dalam hal peningkatan ekonomi masyarakat. (Redaksi)

News Feed