oleh

Kecap, Bumbu Dapur Pelengkap Masakan dan Makanan

 

 

 

“Tentulah kita tak asing lagi dengan yang namanya kecap baik itu kecap asin maupun manis. Seberapa sulitkah pengolahannya?

 

Oleh:

Dhea Riswana, Mahasiswi Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Kecap bagi masyarakat bukanlah barang baru terlebih lagi ianya sebagai bahan tambahan makanan yang laris manis di pasaran dan melengkapi setiap masakan, terasa kurang apabila tidak ditambahkan baik itu kecap yang asin maupun kental kehitaman. Kecap merupakan produk olahan dari kacang kedelai yang dihasilkan dari fermentasi dengan atau tanpa menggunakan gula kelapa maupun bumbu lainnya. Kecap pula dapat dikonsumsi secara langsung atau dicampurkan ke dalam bahan makanan sebagai bumbu tambahan.

Pabrik ini bukan hanya memproduksi kecap dalam kemasan botol kaca ukuran besar dan kecil, kecap ini juga di pasarkan dalam botol kemasan kecil dan juga diedarkan berbentuk kiloan atau dalam 1 jerigen berisikan lima kilogram kecap jadi.

Di Kota Langsa, tepatnya di Gampong Daulat Kecamatan Langsa Kota, terdapat satu-satunya pabrik pengolah kecap dan salah satu dari industri skala menengah yang biasa memproduksi kecap asin sebagai hasil akhir dan dikenal pula dengan julukan kecap khas Langsa. Pabrik ini tentunya menggambarkan keseimbangan antara sektor pertanian dengan sektor industri dengan menampung sebagian besar hasil produksi petani berjenis kacang kedelai sebagai bahan utamanya.

Kedelai sendiri merupakan salah satu komoditi yang bernilai ekonomi tinggi yang biasanya di dapat dari pengepul di daerah Bireun maupun daerah Sumatera Utara jika kebutuhan belum tercukupi. Seiring bertambahnya jumlah kebutuhan masyarakat, maka pabrik pun melakukan produksi massal dengan tetap mempertahankan kualitas produknya. Namun, persoalan lain tentunya adalah pada modal yang harus dikeluarkan lebih besar sehingga pabrik wajib melakukan pengelolaan keuangannya dengan baik agar dapat terus berproduksi.

Tak ayal, jika produksi massal sedang berlangsung maka akan menghasilkan suara mesin dengan kebisingan yang dapat menggangu warga sekitar. Hal ini dikarenakan bahwa pabrik berada di tengah pemukiman warga yang padat penduduk. Persoalan lain yang muncul tentunya adalah limbah hasil produksi yang menghasilkan bau menyengat jika berada di sekitaran pabrik.

Bau ini dihasilkan dari ampas kacang dan bahan lainnya yang sedikit terlambat dibersihkan. Belum lagi persoalan parit yang biasa digunakan untuk membuang air kotor sisa produksi kecap ini, menjadikan parit di sekitar pabrik mengeluarkan aroma tak sedap serta mengganggu aktivitas warganya.

Pihak pengelola pabrik sudah diberikan peringatan oleh pemerintah Gampong Daulat untuk membuang sisa bahan baku ke tempat yang telah di sediakan. Namun dengan alasan keterbatasan waktu pembuangan sampah yang diterapkan oleh pemerintah, maka jalan pintas untuk menumpuk sementara sisa produksi menjadi solusinya.

Memang, pabrik produksi kecap ini adalah salah satu aset kebanggaan Pemerintah Kota Langsa karena hasilnya telah di kirim kebeberapa wilayah yang ada di Provinsi Aceh dan juga ke Provinsi Sumatera Utara dan soal kualitas tentunya bersaing dengan brand kenamaan lainnya. Selain memiliki ciri khas aroma tersendiri, kecap produksi Langsa ini juga menjadi salah satu kebanggan warga Gampong Daulat karena mudah dikenali oleh pengunjung baik yang berasal dari kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur, juga ada pengunjung yang seraya lewat menyempatkan mampir untuk membeli langsung kecap ini di pabriknya.

Di era tahun 2010 silam, kecap produksi langsa yang dikelola oleh keturunan Tionghoa secara turun temurun ini sempat diisukan menggunakan bahan baku yang tidak halal (tercampur dengan lemak hewan Babi). Rumor ini beredar kencang di masyarakat dan sempat menjadi pemberitaan dibeberapa media baik media lokal maupun media nasional. Tentu saja ini membuat pemiliknya harus bekerja ekstra keras untuk mengembalikan nama baik perusahaannya mengingat sebagian besar konsumen kecap produksi mereka beragama muslim.

Akibat dari rumor ini, pabrik sempat hampir gulung tikar yang diperparah dengan masuknya produk kecap lain dari daerah Sumatera Utara tepatnya Deli Serdang. Kecap ini di pasarkan dengan harga yang bersaing dan memiliki varian rasa manis serta kental pekat, yang menjadikan produk kecap ini sempat menjadi idola di tengah keterpurukan kecap produksi Langsa sendiri. Namun seiring berjalannya waktu, kecap produksi CV. Anega Guna ini kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat ditambah lagi dengan tersematnya logo halal dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) yang membidangi konsumsi dan pengolahan bahan makanan.

Berdasarkan pengakuan pemilik pabrik Kecap ini, isu tersebut sempat mengganggu kesehatannya dan keluarga serta mereka merasa malu untuk keluar rumah. “Iya. Saya dan keluarga sangat terpukul. Padahal, kami selalu menggunakan bahan baku yang diambil langsung dari petani di daerah Aceh sendiri dan daerah Sumatera Utara jika kekurangan stok bahan baku. Saya tak habis pikir mengapa ada yang tega memfitnah kami seperti ini. Jika memang kurang berkenan, kita dapat membicarakannya dengan cara baik-baik, bukan dengan menyebarkan fitnah tak berdasar seperti ini”, imbuhnya.

 

Setelah kejadian ini, pemilik pabrik pun langsung mengurus label halal kepada MPU Kota Langsa untuk menjamin bahwa produksi mereka aman bagi kesehatan dan terhindar dari bahan yang tidak layak dikonsumsi oleh umat muslim. Kebesaran hati pemilik pabrik ini kemudian di aminkan oleh perangkat Gampong Daulat.

“Mereka sempat minder bertemu dengan kami saat diluar rumah karena isu itu begitu mengganggu. Saya sebagai perangkat Gampong juga ikut prihatin namun tak dapat berbuat banyak sebab tidak mengetahui pelaku penyebar berita merugikan orang seperti ini”, pungkas salah satu KAUR di pemerintahan Gampong Daulat.

Hal ini dilakukan tentunya bukan tanpa alasan. Tersematnya logo halal dari MPU ini menjadikan produk kecap CV. Aneka Guna ini kembali menjadi primadona masyarakat yang sebagian besar beragama muslim. Tentu saja, produksi kecap ini kembali menjadi normal bahkan kini kebanjiran pesanan dari Kabupaten seputar Kota Langsa maupun dari provinsi Sumatera Utara.

Persoalan sampah pun kini mendapatkan solusi jitu yaitu dengan disediakan moda pengangkut sampah yang khusus mengangkut sampah hasil produksi kecap ini ke tempat pembuangan akhir sampah. Dari hal ini, aroma tak sedap perlahan mulai tak tercium lagi dan parit disekitar pabrik pun kembali seperti sedia kala dengan fungsinya mengalirkan air ke sungai agar terhindar dari dampak banjir yang ketika curah hujan tinggi amat diwaspadai oleh masyarakat Gampong Daulat dan sekitarnya. Disaat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini pun, produksi kecap tetap berjalan seperti biasanya tanpa kendala yang berarti. Produksi mereka tetap mendapatkan tempat tersendiri di masyarakat dan patut berbangga hati bahwa produksi Kota Langsa dikenal di mana-mana.

News Feed