oleh

Jajanan Lawas, Nostalgia Makanan Ringan Tanpa Was-Was

 

 “makanan zaman yang disuguhkan masih eksis hingga kini. Mampir yok”

Oleh:

Annisa Velia Ramadhani, Mahasiswi Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Langsa

Jajanan Lawas yang beberapa tahun belakang ini muncul kembali di Kota Langsa membuat masyarakat teringat kembali masa-masa kecilnya dahulu yang sering mencicipi makanan sebut saja misalnya boh rom-rom (onde-onde khas aceh), cenil, lupis dan beberapa kudapan lainnya. Tentu saja kudapan ini di era 80-an hingga awal 2000-an menjadi makanan yang laris manis dipasaran. Boh rom-rom dan cenil misalnya, berbahan dasar tepung dengan beberapa tambahan lainnya menjadi kudapan mengenyangkan dipagi hari tatkala hendak beraktivitas.

Sedangkan lupis sendiri, tak ubahnya sepeti nasi karena berbahan dasar pulut yang dibentuk membentuk segitiga dibalut dengan daun pisang yang mengundang selera. Bagi anak-anak milenial kelahiran tahun 90-an, tentu saja tak asing dengan kudapan ini sebab dulunya diajakan disekolah dan dengan mudah disantap saat jam istirahat sekolah.

Digerobak mini ini, bertepatan disamping kantor pengadilan negeri Langsa yang berada dijalan panglima polem Gampong Jawa Tengah atau dikenal juga dengan Asrama Gajah, kudapan ini kembali dijajakan pkl 10.00 pagi dan tutup pada pkl 15.00 atau jam 3 sore. Setiap hari, ramai pelanggan yang datang membeli dan kebanyakan adalah ibu/bapak seraya mengantarkan maupun menjemput anaknya sekolah dan juga untuk bekal cemilan sebelum jam makan siang tiba.

Selain menu jajanan lawas tadi, tersedia juga menu lainnya seperti gorengan, mie hun dan mie kuning yang sudah digoreng dan juga nasi urap sebagai salah satu menu andalannya selain jajanan lawas. Bagi yang tak ingin repot membawa tempat makanan, digerobak ini juga tersedia beberapa buah meja dan kursi untuk pengunjung yang ingin makan ditempat.

Biasanya kudapan ini telah dipesan terlebih dahulu oleh para pelanggan setianya yang tak mau mengantri lama. Dengan adanya jajanan lawas ini, selain menyehatkan juga mengenyangkan. Jadi, para ibu tak lagi harus repot memasak dirumah berhubung tuntutan kerja sebagai ASN yang mengharuskan tepat waktu untuk sampai ditempat kerjanya.

Jajanan lawas ini tidak membuka cabang lain karena tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk dipekerjakan. Menurut sang pemilik yang tak ingin disebutkan namanya ini, jajanan lawas adalah makanan yang dulunya sering ia nikmati saat masih usia kanak-kanak.

“iya, saya sangat menyukai jajanan ini. Dulunya ibu saya sering membuatkan untuk saya. Selain waktu itu harga bahan-bahan masih sangat murah, jadi hampir setiap hari ada dirumah. Saya ingin mengenalkan jajanan ini kepada anak-anak saya sesuai dengan resep yang dahulunya ibu saya buatkan”. Ucap Ibu dengan 4 orang anak ini.

Cita rasa dari jajanan lawas ini sangat disukai oleh masyarakat dan menjadikannya salah satu menu favorit untuk disantap saat pagi hari. Selain ramah kepada pelanggan dan pengunjugnya, sang pemilik juga cekatan dalam melakukan pekerjaannya. Dengan sigap ia memasukkan setiap potongan kudapan kedalam wadah pastik tanpa salah sedikitpun.

Saat ini ia dibantu oleh dua orang anaknya yang telah menamatkan bangku sekolah menengah atas dan seorang anak laki-lakinya membantu mengantarkan bahan makanan yang masih tersedia dirumah. Anak laki-lakinya ini pun tak sungkan menjadi delivery man tatkala beberapa pelanggan setianya memesan via telpon untuk diantarkan kerumahnya. Tentu saja anak laki-laki itu mendapatkan uang tips dari pelanggan tersebut.

Jajanan lawas ini selain menyehatkan juga kebersihannya terjaga dengan baik. Terbukti, setiap kali mengambil pesanan pelanngan, ia menggunakan sarung tangan dari plastik. Ini ia lakukan semata untuk menjaga kelayakan makanan sebab ia bukan hanya memegan makanan, namun benda lainnya juga tak luput dari jangkauannya.

Jajanan lawas ini dijual dengan harga yang sangat murah yaitu Rp.1.000,- untuk setiap potongnya, untuk cenil serta lupis dijual mulai dari Rp.3.000,- dan untuk nasi urap dijual dengan harga Rp. 5.000,- untuk setiap porsinya. Harga ini tentu saja tidak memberatkan semua kalangan masyarakat. Bukan berarti harga yang murah ini pula tidak dibarengi dengan rasa yang lezat. Menurutnya, harga yang murah bukan untuk mengurangi kelezatan rasa, namun lebih kepada meringankan dan membantu sesama. Dengan harga yang murah ini pula, sang pemilik mengakui bahwa masih mendapati keuntungan walaupun hanya sedikit. Keutungan itu pun dipergunakan untuk memulai kembali usahanya pada esok hari serta untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sementara sang suami bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tak dapat diprediksikan.

Dengan kondisi yan demikian, harapannya adalah anak-anaknya dapat menempuh pendidikan dan ekonomi keluarga juga dapat terbantu agar tak memberatkan sang suami. Kelak usaha ini akan diteruskan kepada anak-anaknya seraya berharap dapat dikembangkan lagi dengan kreativitas yang dimiliki.

News Feed