oleh

Ignorace Orang Tua Dalam Bimbingan Belajar Dirumah Membuat Anak Jadi Malas Sekolah

Oleh Turham AG, S. Ag, M. Pd

Melihat kondisi pendidikan selama berlakunya social distancing dan physcal distancing dalam hiruk pikuk nya Corona Virus Disease (Covid-19), sebahagian orang tua seakan tanpa beban terhadap pendidikan anak-anak mereka. Padahal telah dimaklumi bersama bahwa libur kali ini merupakan libut yang tak diinginkan, dalam arti proses pembelajaran disekolah dialih fungsikan dengan belajar dirumah atas materi yang dikirim guru dan bimbingan dilakukan orang tua secara langsung.

Mengingat belajar tidak dilaksanakan dalam kelas atau peserta didik belajar dirumah, maka proses pembelajaran tersebut harus dilakun dengan menggunakan sistem dalam jejaringan (Daring). Pembelajaran daring ini tentu sedikit merepotkan bagi guru karena harus mempersiapkan materi dan merubah metode pembelajaran biasa kepada sistem daring. Materi tersebut akan disampaikan kepada peserta didik melalui jasa jaringan internet secara online atau yang disebut e-learning dengan whatshap, video atau recorder dan lain-lain.

Pembelajaran dengan sistem daring tentu sangat membutuhkan peran serta dan kepedulian orang tua, karena anak masih sangat butuh bimbingan dan arahan baik dari segi materi pelajaran yang diberikan guru maupun dalam interaksi dengan keluarga dan saat inilah waktu yang tepat bagi orang tua berkumpul dengan anak sambil membimbing, mengarahkan dan mengawasi belajar mereka.

Tetapi dalam suasana demikian, masih banyak ditemukan orang tua yang bersikap ignorace (tidak perduli) terhadap belajar anaknya dirumah, tidak melakukan bimbingan, pengawasan dan bahkan cendrung membiarkan anak-anak mengerjakan kegiatan yang mengarah kepada prilaku yang tidak menyenangkan

Pahal masa social distancing dan physcal distancing mengharuskan semua orang berada dirumah, tidak dibenarkan keluar jika tidak ada keperluan dengan maksud menghindari atau membatasi kerumunan maupun kumpulan orang, sehingga dapat menghindari dan memutus mata raintai penyebaran pandemi covid-19, namun dijalan-jalan masih terdapat anak-anak keluyuran, berkumpul dengan teman-temannya tanpa tujuan yang jelas.

Begitu pentingnya social distancing dan physcal distancing ini pemerintah sampai mengeluarkan regulasi yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat darurat covid-19 atau yang dinamakan physcal distancing maupun social distancing, guna membatasi atau memutus mata raintai penyebaran virus yang menakutkan.

Sebenarnya inilah moment yang tepat bagi setiap keluarga untuk menerapkan parenting, sehingga dapat berinteraksi, membimbing education, mengajari, melatih, membimbing dan mengawasi anak-anak agar menjadi orang berguna bagi bangsa, negara maupun agama dan memiliki karakter sebagai generasi penerus pengisi pembangunan dimasa mendatang.

Namun demikian masih ada ditemukan masyarakat sebagai orang tua yang belum menyadari arti pentingnya pendidikan bagi anak-anak dan masih memiliki prilaku ignorace terhadap parenting education. Kondisi demikian jika berlarut-larut tentu dapat menjadi pemicu rendahnya minat belajar anak disekolah maupun dirumah.

Dapat dibayangkan lebih kurang selama 81 hari anak-anak tidak berada dalam bimbingan guru disekolah, karena bimbingan tersebut ditangani langsung oleh orang tua, maka bila bimbing belajar dirumah tidak terlaksana dengan baik dan benar dikhawatirkan pada diri anak juga akan muncul sikap ignorace terhadap pelajaran dan apabila dalam waktu lama tidak dipulihkan akan menjadi kebiasaan yang akan bermuara pada suatu sikap dan prilaku malas belajar ketika masuk sekolah setelah social distancing dan physcal distancing selesai. Oleh sebab itu sebagai orang tua perlu kiranya menyadari arti pentingnya parenting education dalam keluarga.

Sikap ignorace anak terhadap pelajaran harus diwaspadai dan dicegah oleh orang tua melalui parenting dalam keluarga. Parenting keluarga dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sisi dalam kearifan lokal, selain sebagai pembelajaran juga untuk mejaga dan melestarikan nilai-nilai falsafah maupun budaya kearifan lokal itu sendiri.

Kepada guru juga diharapkan, pembelajaran dalam situasi social distancing dan physcal distancing ini,
tidak hanya sekedar memberikan tugas-tugas rutin kepada peserta didik layaknya sekolah normal, terapi buatlah materi pembelajaran yang dapat meningkatkan kreatifitas anak, tentang pengembangan bakat minat sehingga pembelajaran tersebut tidak menjadi beban psikologis bagi anak.

Apalagi Instruksi tegas Mendikbud tanggal 20 Maret 2020 dan Surat Edaran Kementerian Agama tanggal 24 Maret 2020 serta Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpanrb) Nomor 19 Tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Instansi Pemerintah, maka pembelajaran juga dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini.

Alangkah lebih arifnya dan bijaksananya jika proses pembelajaran disesuaikan dengan masa social distancing dan physcal distancing dengan mengutamakan pengembangan bakat minat sesuai kefitrahan anak, tanpa meninggalkan unsur pendidikan normal didalamnya.

Bagi orang tua juga diharapkan kiranya tidak bersikap Ignorace terhadap bimbingan, arahan dan pengawasan belajar bagi anak dirumah. Kendati hal itu sedikit menambah beban dan merepotkan, namun tugas pendidikan anak merupakan kewajiban bagi orang tua, sementara guru hanya bertindak sebagai orang tua kedua.

Faktor lain yang dapat menjadi perhatian bagi orang tua berkaitan dengan membimbing belajar anak dirumah akan menjadi empaty terhadap tugas guru saat mengajar disekolah dengan berbagai latar belakang, tipe, model dan karakter peserta didik, dengan demikian dapat menimbulkan simpati dan meningkatkan peranserta dalam membimbing anak, baik dalam situasi social distancing dan physcal distancing ini maupun ketika sekolah dilaksanakan secara normal nanti.

News Feed