oleh

Hoax Yang Dilegalkan

-HEADLINE, OPINI-3.276 views

BARANEWSACEH.CO – Hoax itu bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk mereka yang teriak-teriak anti hoax. Sama saja dengan maling yang justru berteriak maling. Dan hoac itu sendiri banyak model dan warnanya. Persis seperti para pelakunya yang beragam mulai dari cara maupun kualitas atau semacam kadar kebohongannya.

Tentang harga cabe dan telur di pasar misalnya bisa dikatakan tidak naik. Atau bahkan dapat dikendalikan menjelang bulan Ramadhan. Padal realitasnya di pasar surah dua ribu rupiah harganya per butir. Itu artinya harga telur sudah mencapai 30 ribu rupiah per kilogram. Sebab sekilogram telur hanya berjumlah 16 atau 17 butir saja.

Begitu juga harga gula pasir dan beras, bisa saja dikatakan stock masih aman. Toh setiap menjelang bulan puasa, seperti sudah menjadi pekerjaan rutin yang tidak bisa ditemukan cara untuk mengatasi. Pendek cerita, kisah tentang harga bahan pokok pada tiap mau memasuki bulan puasa dan lebaran pasti membuat pemerintah blingsatan.

Akibatnya, kalau harga sejumlah bahan pokok itu selalu tidak bisa dikendalikan, maka rakyat jadi harus menahan gerundelannya. Celakanya pula banyak kaum buruh yang terus di PHK sepihak. Hingga tidak sedikit rakyat yang kehilangan pekerjaan.

Sebagian buruh yang mengalami PHK bisa jadi Ojek Online. Jenis pekerjaan yang tidak ada jaminan masa depan ini entah bagaimana bisa dianggap jadi pekerjaan yang menyelamatkan tanpa pernah disadari kelak pada saatnya tidak lagi mampu akan sangat merana lantaran tak ada jaminan hari tua.

Kata seorang kawan aktivis serikat buruh di Philipina, gejala ini bagian dari revolusi industri yang tengah bergeser arah ke jenis kerja jasa pelayan. Itu pula sebabnya dia pun sepakat juga untuk Indonesia sangat ideal bisa memperkuat basis pertanian dan pengelolaan sumber kelautan yang sungguh potensial bagi Indonesia.

Pada bagian ini model hoax yang selalu mencari pembenaran untuk melakukan impor sejumlah bahan pokok semakin nyata. Karena bantuan untuk petani dan nelayan yang sesungguhnya bisa dan wajib diberikan benar tidak mempunyai nilai transaksi yang bisa dimanipulasi seperti membeli sejumlah bahan pokok dari negeri orang. Padahal petani maupun nelayan kita bisa menghasil,an sendiri sejumlah bahan pangan itu bila sungguh pemerintah mau memberi perhatian dan bantuan apa yang dibutuhkan petani dan nelayan kita.

Jadi nyatalah hoax itu pun ada model dan jenisnya persis seperti kadar dari kabdungan kebohongan yang dikemas dengan beragam cara serta alasan untuk melakukan pembenaran dari suka cita selera sendiri dan juga kepentingan dan keuntunan diri sendiri pula, tidak untuk dan demi rakyat.

Hoax dalam bentuk dan cara yang lain pun bisa ditelisik dari janji-janji semasa kampanye yang tidak pernah mau dieujudkan. Sebab ketidak-mauan harus dibedakan dengan ketidak-mampuan. Meski keduanya sama saja membuat rakyat kecewa. Sebab aparat pemerintah itu bukan saja wajib dan harus melindingi rakyat, tetapi sepatutnya mengabdikan diri dengan segenap perhatian, serta kemampuannya yang ada. Bila tidak, apa artinya dari pemahan kita terhadap sosok mereka yang disebut sebagai abdi rakyat itu sehingg layak puls disebut sebagai abdi negara.

Hoax yang lebih parah itu adalah kebohongan yang diimplementasikan dalam bentuk kebijakan hingga rakyat menderita karensnya.

Itulah sebabnya perilsku korupsi menjadi sangat terkutuk. Sebab apa yang mereka korup berakibat langsung maupun tidak langsung pada masyarakat. Celakanya hoax serupa ini sangat mungkin terjadi dan dilakukan oleh mereka yang menjadi pejabat publik yang terkait dengan hahat hidup orang banyak. Seperti konstruksi dari bangunan yang dibuat dari uang rakyat dan disunat habis dananya hibgga kuslitas dari bangunan yang dibuat itu ambrol, maka yang kerasakan kerugian adalah masyarakat yang menggunakannya.
Apalagi dalam merancang dan mensahkan tata Undang-undang atau peraturan seperti untuk mengatur hak-hak dari kepentingan umum hingga bisa dikuasai orang perorang maupun pihak swasta. Padahal dalam UUD 1945 yang patut dijadikan rujukan hukum dan perundangan yang secara herarkis berada dibawahnya, pasti lebih larah akibatnya seperti yang terjadi sekarang. Maka itu suara keras dari para aktivis lantang berteriak agar segera kembali pada UUD 1945 yang asli.

Hoax besar yang terselubung di balik UUD 1945 ini dinilai banyak pihak seperti akan menggadaikan tanah dan air serta wilayah Negara Kesatuan Relublik Indonesia kepada pemilik uang. Karena itu pembiaran pada upaya berbagai pihak tergadap penggerogotan asset bangsa dan negara kita ini akan menjadi dosa bersama yang tidak dapat dimaafkan oleh anak dan cucu kita kelak yang layak mewarisinya harus dalam keadaan yang lebih baik serta membahagiakan.

Banten, 27 April 2019
[9/6 5.31 PM] En Jacob Ereste: 🤘🏿
Jacob Ereste :

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed