oleh

Harga Jual Kopi Di Dataran Tinggi Tanoh Gayo Sangat Rendah

BARANEWSACEH.CO – Bahwa nya sudah kita ketahui kopi adalah satu banyak peminatnya di manca negara baik di gayo maupun di luar negari,tetapi sagat di sayangkan kepada petani kopi yang berada di dataran tinggi tanoh gayo tersebut tidak merasakan hasil pertanian tersebut dengan harga yang tidak maksimal,saya pernah terjun di daerah bener meriah tepatnya di salah satu kampung uning mas,saya bertemu dengan petani di desa tersebut saya melihat salah satu petani yang kopi nya sangat terawat,bersih dan sangat-sangat berbeda dengan kebun lain nya dari daerah tersebut.nama petani tersebut adalah bapak zulfikar amin yang berumur kurang lebih 64 tahun.saya menanyakan kepada beliau bagaimana bapak bisa merawat kopi dengan sebagus ini,lalu ia menjawab kunci nya yaitu rutin dalam berkerja tidak usah terlalu lama tetapi pelan-pelan tetapi giat dan cabang-cabang yang tumbuh di atas batang di cabut supaya kopi tersebut tidak tinggi,jikalau tidak di cabut bisa tetapi jika sudah panen terlalu susah untuk mengotip kopi tersebut dan kopi itu juga rasa nya tidak terlalu nikmat karna sewaktu kita memberi pupuk,pupuk itu menyebar ke batang ,daun dan buah otomatis jika kita tidak memotong kopi yang tumbuh di batang kepala tersebut rasanya kopi tersebut kurang maksimal.

Dan lalu saya berbincang lagi dengan beliau tentang harga kopi dari harga gelondong,gabah,dan kopi ijo kalau harga gelondong berkisar dengan harga 120 ribu perkaleng nya,harga gabah perbambu berkisar 35 ribu itu pun tergantung bisa saja harga nya bisa turun maupun naik,dan untuk harga grean bean ataupun kopi hijau berkisar harga maksmimal 60 ribu perkilo nya.

sangat di sayangkan peran pemerintah daerah itu kurang perduli terhadap para petani kopi, kalo dipikir-pikir kopi yang berkualitas bagus dan bermutu seharusnya  nilai jualnya  juga harus tinggi akan tetapi faktanya tidak seperti itu, biasanya mereka membeli dari petani dengan harga rendah lalu di jual kembali dengan dua kali lipat dari harga yang ia beli.Para petani kopi lagi-lagi menjadi korban kenapa saya katakan seperti itu, sebab ada beberapa faktor yang membuat mereka tidak ada pilihan misalkan selain menjual kepada toke terkadang mereka diberikan pinjaman lalu dengan seperti itu mereka terikat syarat setiap hasil panen kopi harus menjual kepada toke tersebut. Maka sangat  disayangkan kebijakan pemerintah aceh  seakan-akan tidak perduli terhadap para petani kopi maka saya mengambil contoh bapak yang saya sebutkan di atas ia tidak sengaja saya mendengar percakapan antara petani kopi dan toke yaitu melakukan transaksi setelah bapak itu selesai saya liat wajah yang murung terpapar dari wajah nya.sedangkan di daerah uning mas pada tahun 2018 pegotip kopi biaya nya sudah di naikan dari harga 15 ribu perkaleng dan sudah di naikan dengan harga 25 sampai 30 ribu perkalengnya.

Nah….. berarti yang mengotip kopi sudah sejahtera sedangkan yang memiki lahan kopi tersebut tidak sejahtera.

Penulis : Rahmaddin, Mahasiswa Banda Aceh Jurusan ilmu politik

News Feed