oleh

“Gerabah “Asri” , Kerajinan Tangan Yang Tak Lekang Oleh Zaman

 “hasil buatan tangan ini begitu diminati hingga kini. Akankah terganti dengan yang berbahan besi?”

Oleh:

Ahza Mahzola, Mahasiswi Jurusan Manajemen Keuangan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Langsa

Gerabah merupakan kerajinan tangan yang hingga kini masih ada dipasaran walaupun dengan jumlah yang sedikit. Gerabah terbuat dari tanah liat yang oleh empunya disulap menjadi berbagai bentuk alat dapur seperti kuali dan kendi untuk menyimpan air. Pembuatan gerabah ini juga membutuhkan ketelatenan dari  pembuatnya untuk menghasilkan suatu benda dengan baik dan bertahan lama. Gerabah bukan semata-mata dibuat dengan tanah liat langsung menjadi barang siap pakai, namun ada proses lainnya untuk membuatnya awet dan tak mudah pecah yaitu proses pembakaran. Melalui proses pembakaran inilah, kandungan air yang ada dalam tanah liat tersebut benar-benar habis dan sekaligus menguatkan struktur tanah yang telah terbentuk tersebut.

Gerabah bukanlah hal yang tabu dimasyarakat mengingat gerabah merupakan kebutuhan masyarakat dizaman dahulu untuk memasak makanan sebelum adanya kuali berbahan alumunium saat ini. Memasak dengan gerabah tentu memberikan sensasi tersendiri bagi para orang tetua zaman dahulu. Sebabnya, memasak dengan gerabah akan memberikan aroma wangi pada masakan yang tentunya sudah dipadukan dengan rempah lainnya.

Salah satu pengrajin gerabah dengan nama “Asri” berada di kota langsa itu sendiri. Ditempat ini, gerabah yang dihasilkan memiliki berbagai macam bentuk dan kegunaan. Ditempat tersebut, gerabah bukan hanya dibuat untuk dijual kembali, ada juga gerabah yang dibuat khusus sesuai pesanan orang untuk memperindah rumah dan pekarangannya. Biasanya gerabah yang dipesan ini terbuat dari keramik atau bahan bakunya sebagian dari keramik yang menampilkan kesan mewah dan indah.

Dahulunya gerabah merupakan peninggalan budaya yang sudah sangat tua. Seperti yang dikutip dari kompas.com, kerajinan gerabah yang ada di Indonesia sudah dikenal sejak zaman Neolitikum sekitar 3000 – 1100 SM. Gerabah yang dihasilkan kala itu hanya digunakan sebagai alat dapur saja, berbeda jauh dengan kondisi saat ini yang gerabah itu sendiri telah menjadi produk hiasan didalam rumah.

Saat ini, produsen yang fokus memproduksi gerabah mampu bertahan dari gerusan zaman berkat ketekunan dan kerja kerasnya selama ini. Teknik membuat gerabah ini telah diajarkan turun temurun, yang tentunya diperbaharui sesuai dengan masa pembuatannya dan kondisi yang ada. Untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas, tak jarang para pengrajin memesannya dari suatu tempat baik yang ada di Provinsi Aceh maupun provinsi lainnya. Tentunya bukan tanpa alasan memilih kualitas tanah yang baik, ini disebabkan untuk menjaga kualitas dan kuantitas dari gerabah itu sendiri. Dalam pembuatannya, gerabah juga menampilkan filosofi tersendiri sesuai dengan keadaan hati pembuatnya. Hasil akhir sangat menentukan apakah gerabah ini layak dipasarkan ataukan hanya untuk koleksi pribadi saja mengingat hasilnya yang kurang baik.

Beberapa hasil seni gerabah yang diproduksi di kota langsa ini seperti  kursi meja set, kendi, periuk, belanga, tempayan, dan guci hingga celengan. Tentunya ini semua telah mendapat apresiasi dari pemerintah kota langsa yang dalam hal ini diwakilkna oleh dinas terkait untuk terus meningkatkan kualitas barang hasil produksinya agar dapat bersaing dengan produk dalam maupun luar provinsi.

Pembuatan gerabah ini pula sering mendapati beberapa kendala seperti ketersediaan bahan baku yang sulit didapatkan dengan kualitas yang baik, mahalnya harga bahan baku jika harus membelinya diluar provinsi hingga banyaknya komplain yang disampaikan oleh pembeli terkait dengan gerabah yang mudah dilubangi oleh hewan pengerat. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengrajin dan pembelinya.

Disisi lain, harga gerabah yang tergolong sedikit lebih mahal ketimbang harga produk berbahan dasar alumunium menjadikan penjualan gerabah ini tergolong pas-pasan. Para penjual akan mendapatkan keuntungan yang lumayan besar dengan berjualan hingga ke pelosok kampung yang notabenenya warga enggan keluar kampung dengan jarak tempuh yang jauh. Tapi, untuk dapat menjadi kampung ini tentu mendapati tantangan lainnya, seperti jalanan yang kurang baik dikhawatirkan akan merusak hasil karya gerabah sebelum sampai pada pembelinya. Belum lagi harus melewati areal perkebunan dimalam hari yang rawan akan binatang buas maupun gangguan lainnya.

Sisi lainnya, dorongan untuk terus membudayakan kerajinan tangan ini berdatangan dari berbagai pihak, namun minim bantuan permodalan. Pernah beberapa kali pengrajin mengajukan permohonan bantuan dana, namun dana yang diharapkan tak kunjung didapatkan. Alhasil, pengrajin hanya mengandalkan keuangan yang ada untuk menghasilkan gerabah yang dipasarkan.

Dipasaran, harga gerabah yang sedikit lebih tinggi dari harga produk sejenis menjadi permasalahan lain lagi. Sebab, masyarakat beranggapan bahwa kualitas barangnya lebih baik produk dari alumunium. Namun, tanpa disadari bahwa dengan memasak makanan menggunakan gerabah ini, maka akan mengurangi resiko penyakit yang disebabkan oleh kandungan partikel besi, yang tanpa sengaja terkonsumsi oleh manusia.

Minimnya perhatian pemerintah kepada pengrajin gerabah bukanlah hal yang berarti. Sebab, kerajinan gerabah ini telah lama ditekuni dan secara turun temurun ilmunya diwariskan kepada setiap generasi. Usaha kerajinan gerabah ini mampu bertahan hingga kini tak lain disebabkan oleh semangat pantang menyerah serta ketekunan yang kuat hingga menjadikan kerajinan gerabah “Asri” ini tetap ada walaupun keberadaannya jarang diketahui oleh masyarakat kota langsa umumnya.

Permasalahan diatas tentunya menjadi suatu tantangan tersendiri dalam memasarkan produk gerabah ini. Kurangnya pemahaman masyarakat akan nilai dari gerabah membuat kondisi pengrajin gerabah banyak yang gulung tikar karna tidak sanggup memenuhi pengeluaran biaya setiap harinya dan lebih memilih jenis usaha lain untuk ditekuni serta menjanjikan hasil yang maksimal.

Tekad untuk mempertahankan usaha ini agar tetap lestari memanglah hal yang berat untuk dilakukan. Namun, apabila tidak dilestarikan maka anak cucu tidak akan mengenal barang-barang rumah tangga masa lalu yang di klaim dapat menjadi salah satu produk kesehatan karena terhindar dari partikel besi yang terlepas dari barang-barang berbahan alumunium. Kerajinan gerabah ini patut dilestarikan dengan koordinasi antara pemerintah dan pemilik usaha agar terus menghasilkan karya gerabah bernilai dan berdayaguna. Keberdayagunaan produk gerabah ini nantinya akan banyak membantu perekonomian masyarakat dengan melatih para milenial agar menekuni jenis pekerjaan ini.