oleh

FORMAT dan YLBH – AKA Desak PT. MIFA BERSAUDARA

Aceh Barat, Baranewsaceh.co | FORMAT dan YLBH – AKA desak pihak PT. Mifa Bersaudara untuk membayar ganti rugi tanah masyarakat desa Peunaga Cut Ujong kecamatan Meureboe yang belum di tuntaskan oleh pihak perusahaan pada saat audiensi yang dilakukan antara pihak masyarakat, keuchik, camat, Format Ylbh – Aka dan pihak PT. Mifa Bersaudara bertepatan di kantor keuchik desa Peunaga Cut Ujong. Jumat, 22 Januari 2021.

T Edi Saputra selaku Humas FORMAT mengatakan bahwa kehadiran kami kesini atas undangan dari keuchik desa Peunaga Cut Ujong atas laporan keluhan masyarakat sekitar yang terdampak polusi debu batu bara yang di sebabkan oleh aktivitas kegiatan PT. Mifa Bersaudara, yang mana jauh – jauh hari masyarakat desa Peunaga Cut Ujong telah menyurati kami dan menyampaikan keluh kisah penderitaan masyarakat setempat yang di sebabkan oleh debu batu bara.

” maka dari itu kami turun ke lapangan untuk mengecek laporan masyarakat tersebut dan selesai kami turun ke lapangan langsung kami surati pihak PT. Mifa Bersaudara untuk membahas persoalan yang ada di masyarakat Peunaga Cut Ujong, karena masyarakat meminta lahannya harus di ganti rugi atau dilakukan pembayaran oleh pihak PT. Mifa Bersaudara, sehingga langkah pertama yang kami lakukan dengan menempuh jalur audiensi dengan pihak PT. Mifa Bersaudara pada akhir tahun 2020 yang mana hasilnya hanya ada perdebatan tanpa ada jawaban yang pasti dari pihak perusahaan tersebut, sikap tersebut sangat kami sayangkan kepada PT. Mifa Bersaudara seperti tidak mengindahkan keluhan dan problem yang ada dimasyarakat “,

Rasyidin Hr selaku ketua FORMAT mengatakan bahwa pihak perusahaan PT. Mifa Bersaudara harus melakukan pembayaran secepatnya terhadap pembebasan lahan masyarakat desa Peunaga Cut Ujong yang mana persoalan ini sudah sangat lama tidak lakukan pembayaran merata sepenuhnya kepada masyarakat, sebenarnya perusahaan tersebut harus peduli kepada masyarakat desa Peunaga Cut Ujong mengingat polusi debu batu bara itu sangat berbahaya bagi kesehatan masyarat. Ungkapnya,

Hamdani mustika selaku ketua YLBH – AKA mengatakan bahwa hasil tinjauan kami di lapangan bahwa pulusi debu batu bara ini sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat sehingga pada hari ini hati nurani kami terpanggil untuk membantu masyarakat menyelesaikan persoalan pembayaran lahan dengan PT. Mifa Bersaudara, yang harus di pahami oleh pihak PT. Mifa Bersaudara jika persoalan kecil ini tidak bisa di tanggani dengan serius itu suatu kezaliman yang dilakukan oleh perusahaan pada masyarakat, jika tidak sanggup melakukan pembayaran tidak masalah, tapi cobalah di renungkan pada hati nurani kita yang paling dalam jika pihak perusahaan berada di posisi masyarakat yang selalu terkena dampak polusi debu batu bara apakah kalian sanggup.!

” yang sangat saya sayangkan kenapa ada perbedaan dalam proses pembayaran lahan masyarakat kan hal seperti ini sangat di sayangkan serta juga bisa menimbulkan kecemburuan sosial antar masyarakat, padahal mereka semua adalah masyarakat Peunaga Cut Ujong yang tanahnya dekat perusahaan, dan yang paling sangat saya sesalkan pada pihak perusahan ialah ketika terjadi pencemaran laut pihak perusahaan sangat takut karena mati biota laut, tapi ketika polusi debu batu bara ini mengancam kesehatan manusia pihak perusahaan terkesan tidak peduli sama sekali pada hal tersebut apakah lebih mulia biota laut dengan manusia “,

Yang perlu di ketahui PT. Mifa bersaudara sudah 10 tahun lebih berdiri di desa Peunaga Cut Ujong sebenarnya harus tau dan mendengarkan keluhan masyarakat, mereka sudah sangat sabar menjalani kehidupan sehari – hari dalam pendederitaan yang disebebkan oleh polusi debu batu bara, oleh karena itu sudah sepatutnya perusahaan peduli kepada masyarakat dengan membayarkan lahan mereka secepatnya dan lagian pula masyarakat tidak pernah menayakan serta melarang perusahaan untuk melakukan aktivitasnya, kurang baik apa lagi masyarakat pada perusahaan. Ujarnya, Hamdani Mustika

Keuchik Peunaga Cut Ujong, Agustiar mengatakan bahwa lahan yang harus di bayarkan oleh PT. Mifa Saudara ada sekitar 50 pemilik lahan, tapi pada audiensi hari ini sebagian orang tidak hadir mungkin mereka sudah sangat kecewa pada pihak PT. Mifa Bersaudara yang sampai hari ini belum ada kejelasan yang kongkrit kapan tuntasnya masalah pembayaran lahan masyarakat secara merata.

Selain dari itu kita juga harus bersyukur bahwa sebagian masyarakat kami masih mau di ajak kompromi dalam membahas persoalan ganti rugi tanah warga, yang mana padahal batin masyarakat kami sangat tertekan mengingat ketidak jelasan pembayaran yang dilakukan oleh pihak PT. Mifa Bersaudara, terkesan seperti tidak serius kenapa dilakukan pembayaran cuma kepada beberapa orang saja sedangkan pemilik lahan yang harus dibayarkan kurang lebih sekitar 50 orang dan yang harus kita ketahui PT. Mifa Bersaudara itu tidak bersaudara dengan pihak masyarakat setempat tapi bersaudara dengan pihak luar, padahal tidak bisa kita pungkiri Peunaga Cut Ujong adalah milik PT. Mifa Bersaudara dan PT. Mifa Bersaudara milik Peunaga Cut Ujong jadi sudah sangat tepat jika perusahaan menjaga masyarakat maka masyarakat juga menjaga perusahaan supaya tidak lagi terjadi hal – hal yang tidak kita inginkan. Ucap Agustiar,

Hermanto Perwakilan pihak PT. Mifa Bersaudara sendiri mengatakan bahwa sistem pembayaran lahan masyarakat yang kita lakukan itu butuh proses pertahapan – tahapan tidak bisa langsung kita bayarkan sekaligus semuanya, jadi kami pun dari pihak perusahaan sudah membentuk lawyers untuk melakukan pembayaran lahan kepada masyarakat secara bertahap yang mana pada tahun 2021 ini sudah kita rencanakan untuk membayar lahan warga sejumlah 3 orang, selebih dari itu kami juga belum mendapatkan informasi dari tim manajemen karena proses pembayaran ini dilakukam bertahap di mulai dari tahun 2018 sampai dengan sekarang karena pembebasan sendiri ini merupakan rekomendasi beberapa pihak terkait mengingat keluhan masyarakat maka kita lakukan pembayaran dan kami terus berupaya malaporkan kepada manajemen atas keluhan yang di rasakan oleh masyarakat.

Camat Meureboe Sabirin mengatakan bahwa persoalan ini juga akan terus saya kawal dan membantu menyelesaikan keluhan masyarakat dengan pihak perusahaan yang mana mereka kita berikan waktu dulu sekitar 1 minggu untuk membahas aspirasi dari keluhan masyarakat terhadap perusahaan tentang kejelasan pembayaran lahan masyarakat yang mana dilakukan cuma kepada beberapa orang kenapa tidak dilakukan pembayaran kepada semua masyarakat pemilik lahan, selain dari itu saya berharap kepada masyarakat untuk bersabar dulu dalam persoalan ini kita berikan dulu waktu untuk pihak perusahaan untuk membahas hal ini secepatnya dan saya selaku pihak kecamatan siap mendampingi masyarakat untuk menyelesaikan persoalan ini karena saya juga bagian dari masyarakat. (JF)

News Feed