oleh

Dua Dewan Tampung Keluhan Petani

-HEADLINE, RIAU-20228 views

 

Rokan Hilir. Baranewsaceh.co – Dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Rokan Hilir, Sabtu (9/11/2019) pagi sekitar pukul 10.00 wib secara langsung menampung keluh kesah masyarakat petani padi di Kecamatan Kubu dan Kubu Babussalam.

Pertemuan wakil rakyat ini dipusatkan di salah satu warung kopi sudao kafe di Jalan Jendral Sudirman Kepenghuluan Rantau Panjang Kiri, Kubu Babussalam.

Kedua anggota DPDR Rohil ini dari politisi Fraksi Partai Demokrat, Fadli dan politisi Fraksi Partai PKB, Syahrin Usman  S Sos, dan hadir juga pada kesempatan itu PPL Kepenghuluan Sungai Panji-panji, Jon Efrizal.

Masyarakat Petani padi  yang diwakili ketua Kelompok Tani Makmur Jaya, Ramli menyampaikan, bahwa saat ini bibit padi petani yang sudah siap tanam tenggelam dan akhirnya mati  karena  diremdam air banjir akibat air hujan dan air asin pasang naik dari laut Pulau Halang.

Banjir yang melanda sebagian lokasi persawahan petani di Kepenghuluan Sungai Panji-panji, Kecamatan Kubu Babussalam ini,  kuat dugaan akibat pembangunan peningkatan jaringan rawa yang digucurkan pemerintah pusat tak sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Anggota DPRD Rohil, Fadli mengatakan, bahwa ia mendapat laporan dari masyarakat sebagian besar bibit padi  petani baik dalam pembibitan maupun yang sudah siap tanam mati karena direndam air banjir.

“Begitu dapat informasi kita langsung jemput bola menemui masyarakat, keterangan yang kita dapat bahwa hampir ratusan hektar bibit padi petani mati karena direndam banjir air asin saat pasang naik dan kerugian petani hampir miliaran,” kata Fadli kepada baranewsaceh.co, disela-sela pertemuan dengan ketua kelompok Tani  Makmur Jaya.

Lanjut Fadli, informasinya air pasang tersebut naik ke persawahan petani karena pembangunan peningkatan jaringan rawan yang sedang berlanjut dilapangan tidak sesuai kebutuhan lapangan yang mengakibatkan air asin naik ke permukaan saat air  pasang naik.

Namun Fadli mengaku bersukur, atas adanya pembangunan yang di gucurkan Pemerintah pusat di Kabupaten Rokan Hilir tepatnya di Kepenghuluan Sungai Panji-panji, Kecamatan Kubu Babussalam melalui anggaran dana APBN mencapai puluhan miliar.

“Tentunya kita berterimakasih kepada pemerintah Pusat telah membangun sarana pertanian ini, melalui pembangunan ini besar harapan dapat meningkatkat sumber penghasilan masyarakat dari sektor pertanian, hanya saja saat pembanguan kurang pas dengan kebutuhan lapangan,” ujarnya.

Sekitar 400 hektar lahan pertani padi di Kepenghuluan Sungai Panji-panji di nyatakan gagal tanam dan diperediksi akan mengalami gagal panen pada tahun 2020 mendatang.

“Kalau untuk membibit ulang waktunya sudah tak memungkinkan, ditambah lokasi persawahan sudah bercampur dengan air asin, jadi sangat besar kemungkinan lahan yang direndam air banjir itu pasti gagal panen,” akuinya.

Masih kata Fadli, dalam waktu dekat ini dirinya akan mencarikan solusi terkait keluhan masyarakat, dengan cara memanggil rekanan kontraktor yang melakukan pengerjaan peningkatan jaringan rawa dilokasi pertanian.

“Kita akan panggil rekanan untuk  duduk bersama dengan masyarakat petani padi, tujuannya  mencarikan solusi agar air asin saat pasang naik  tak masuk lagi  ke sawah petani, apa solusinya nanti akan kita tanggulangi bersama demi membantu petani padi di sini,” tegasnya.

Sementara itu Syahrin Usman mengatakan, dalam waktu dekat bersama saudar Fadli akan menemui Dinas Pertanian Rokan Hilir untuk berkoordinasi berupaya mencarikan solusi dalam pengadaan bantuan bibit padi.

“Hari (Senin 11/11 red) besok kami akan menemui Dinas pertanian, semoga ada solusi dalam membantu masyarakat petani kita,” ujarnya.

Terpisah Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kepenghuluan Sungai Panji-panji, Jon Efrizal mengatakan, pihaknya telah melaporkan ke Dinas Pertanian Rohil banyak sawah petani yang sudah ditanami padi direndam banjir dengan jumlah puso (mati) sekitar 100 hektar dan terdampak mencapai 300 hektaran.

Masih kata Jon, bahwa ada 19 kelompok tani yang menanam padi di Kepenghuluan Sungai Panji-panji, sementara dari 19 kelompok tersebut ada enam kelompok bibit padi petani yang terdampak banjir (sebagian mati sebagian tidak), sedangkan lima puso (mati) ada lima kelompok tani.

“Nah yang tidak terkena banjir akibat ada delapan kelompok tani lagi, hanya kelompok ini yang bisa kita pastikan panen total apa bila tak terjadi banjir susulan akibat air hujan maupun air asin naik karena pasang,” pungkasnya.(Rozi)

 

News Feed