oleh

Dr. Rahmat Fadhil, Persoalan Pangan Menjadi Hal Serius Bagi Aceh

Banda Aceh, Baranewsaceh.co – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Aceh gelar seminar laporan akhir penelitian ekonomi dan prasarana wilayah (kajian pangan) tahun 2019, seminar penelitian tersebut turut dihadiri oleh Dinas Peternakan, Dinas Pertanian dan Perkebunan, Dinas Pangan, Dinas Perikanan dan Kelautan, Penasehat Khusus Gubernur (AKBP Purn. Syafril Antoni), Ketua Komisi II DPRK Aceh Selatan (Hadi Surya) yang juga pengusaha ayam petelur, serta para peneliti dari Unsyiah, UIN Ar Raniry, Poltekkes Aceh, dan Universitas Abulyatama. Kegiatan yang dibuka secara langsung oleh Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan BAPPEDA Aceh, Dr. Ema Elimina itu dilaksanakan diruang rapat IIA Lantai 2 Bappeda Aceh, Selasa (12/11/2019).

Menurut Ketua Tim Peneliti, Dr. Sufirmansyah mengatakan bahwa penelitian ini adalah kajian rutin BAPPEDA Aceh untuk mengangkat berbagai permasalahan yang berkembang di tengah tengah masyrakat sekaligus sesuai dengan visi misi pemerintahan Irwandi Nova pada periode ini.

“Selain melibatkan para peneliti dari dinas dinas terkait, kami juga didukung oleh tenaga ahli dari Unsyiah dan Poltekkes Aceh, seperti Dr.Rahmat Fadhil, Dr.Arifin Ahmad, Sayed Mahdi MA dan Mustaqimah M.Sc” tambah beliau menjelaskan.

Dr. Rahmat Fadhil S.TP M.Sc dalam paparan penelitiannya mengatakan, “Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah, ketahanan pangan di Aceh masih naik turun, namun dalam penelitian ini kita fokus pada ikan, daging, telur, dan beras” katanya.

“Dalam konteks ketahanan pangan komoditas daging di Aceh, secara rata-rata dalam lima tahun terakhir kita memiliki populasi hewan ternak mencapai 600.000 ekor pertahun,” jelasnya.

Akan tetapi, harga sapi di Provinsi Aceh diatas harga rata-rata nasional. Sebenarnya kenaikan harga sapi di Aceh dapat diprediksi karena skemanya berulang dalam setahun. “Paling tidak ada 4 momentum, seperti meugang (Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha) dan Qurban, sehingga simulasi kebutuhan dapat diprediksi secara pasti”, tegas Dosen Teknik Pertanian yang memiliki keahlian dalam pengembangan kebijakan agroindustri itu.

Terkait distribusi, berdasarkan analisisnya memperkirakan sekitar 3-5 % daging sapi luar dibawa masuk dari Sumatera Utara ke Aceh.

Isu lain yang cukup mengemuka dalam diskusi ketahanan pangan ini juga terkait proses penyembelihan daging hewan yang beredar di Aceh masih minim pemeriksaan, baik itu dalam hal penyembelihan, terutama soal kehalalannya. Daging sembelihan bisa menjadi haram karena penanganan penyembelihannya tidak mengikuti adab penyembelihan hewan yang baik.

“Pada saat penyembelihan misalnya, hewan setelah disembelih tapi belum mati sudah dipotong kakinya, atau dipotong ekornya, dan dikuliti. Ini berarti bahwa kita memotong kaki hewan tersebut, memotong ekornya dan mengulitinya dalam keadaaan hidup-hidup atau masih hidup. Sudah tentu tindakan ini sangat menyiksa hewan tersebut, sehingga boleh jadi hewan ini mati bukan karena sembelihan, namun karena kesakitan dari tindakan kita memotong dan mengulitinya dalam keadaan masih hidup “tutup Dr Rahmat Fadhil yang menjadi pembahas soal komoditas daging.

Sementara Dr. Arifin Ahmad (Dosen Gizi Poltekkes Aceh) banyak mengungkapkan soal strategi ketahanan pangan komoditas ikan, sedangkan Sayed Mahdi MA (Dosen Manajemen FE Unsyiah) menyoroti ketahanan pangan komoditas telur. Adapun pembahas terakhir adalah Mustaqimah MSc Dosen Teknik Pertanian FP Unsyiah yang menjelaskan tentang ketahanan pangan komoditas padi/beras.(Red)*

News Feed