oleh

Difasilitasi KOMPAK, PRISMA Presentasikan Prospek Sapi di Bener Meriah

Bener Meriah Baranewsaceh.co –  Menindaklanjuti pertemuan Bupati Bener Meriah dengan wakil duta besar pemerintah Australia pada 04 Mai 2019. KOMPAK memfasilitasi Promoting Rular incomes throgh support for market on agriculture (Prisma) hadir di Kabupaten Bener Meriah dalam rangka membantu pemkab Bener Meriah untuk menyusun strategi pengembangan, untuk meningkatkan produktivitas sapi serta perbaikan sistem pasar sektor peternakan khususnya sapi potong di Kabupaten Bener Meriah. Kegiatan berlangsung off room Bupati Bener Meriah. Senin (10/09).

Pada pemaparan hasil kajian turut di hadiri oleh Bupati Bener Meriah Tgk Sarkawi, Plt sekda Khairun Aksa, perwakilan dubes Australia, perwakilan distribusi pakan, dinas terkait dan para kelompok ternak. Persentasi di sampaikan langsung oleh Ferdinandus rondong.

Prisma merekomendasikan beberapa hal dalam upaya peningkatan produktivitas dan pengembangan sistem pasar, sektor peternakan terutama sapi potong di Bener Meriah Provinsi Aceh. Sementara metode kerja yang telah di lakukan berupa pengumpulan data melalui wawancara mendalam, diskusi dengan kelompok peternak, observasi, dan studi dokumen dalam bentuk laporan.

Dalam persentasinya secara global Prisma memaparkan terkait keberadaan ternak sapi di Indonesia serta menyangkut defisit daging sapi, kebijakan impor, potensi pasar, dan peluang peningkatan ekonomi pedesaan. Selain itu Prisma juga menerangkan terkait neraca kebutuhan dagaing serta proyeksi daging sapi Indonesian untuk tahun 2020 – 2024.

Prisma juga melakukan persentasi sektor sapi di Aceh dan di Bener Meriah. Dalam uraiannya Provinsi Aceh berada pada posisi ke 8 peringkat nasional. Sementara untuk pertumbuhan hanya berada pada 0,02 % Sementara untuk pertumbuhan populasi di Kabupaten dalam 5 tahun terakhir, angka pertumbuhan di Kabupaten Bener Meriah berada pada 21.84.

Prisma juga memproyeksikan kebutuhan daging untuk provinsi Aceh untuk tahun 2018-2027. Begitu juga dengan populasi sapi di provinsi Aceh. Kabupaten Bener Meriah berada pada posisi 15, untuk populasi sapi di Aceh dan dalam 10 tahun terakhir cendrung meningkat. Hal yang paling mengejutkan laju pertumbuhan sapi di Bener Meriah mengalami lonjakan tinggi melebihi pertumbuhan populasi sapi nasional.

Berdasarkan penuturannya berdasarkan grafik, perkembangan pemotongan hewan ternak di Bener Meriah memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan. Namun sangat di sayangkan sebagian besar sapi yang di potong di Bener Meriah masih di pasok dari luar daerah, berdasarkan data pemasukan hewan yang tercatat, pada tahun 2018.

Kabupaten Bener Meriah masih mendatangkan sapi potong sejumlah 1,460 ekor dari luar daerah setiap tahunnya atau setara dengan 20,5 milyar. Dengan demikian dalam satubtahun uang Bener Meriah harus keluar sebanding dengan 20,5 miliar.

Lalu apa sebenarnya tantangan yang di alami para peternak di kabupaten Bener Meriah. Prisma juga menjelaskan terkait sistem hulu (produksi) pola Budi daya, serta produktivitas masih rendah. Berikutnya tata niaga sapi hidup yang belum efesien, begitu juga dengan tata niaga daging.

Selain itu sistem berternak dan produksi sapi masih menganut pola lama, yaitu free grazing ( sistem lepas) dan pola siang lepas malam kandang. Masih jarang cut and carry dan feeddlot (intensif).Tata niaga yang belum efesien, serta belum optimal menyangkut pembayaran, faktor lain akibat tidak adanya lembaga, tipe pedagang, dan sistem transaksi pembayaran.

Untuk meningkatkan dan memaksimalkan semua itu di butuhkan jasa pendukung seperti adanya inseminasi buatan, pakan dan obat, penyuluhan dan kesehatanhewan, tranfortasi, serta adanya rumah potong.

Pemkab Bener Meriah perlu menguatkan melalui regulasi menyangkut program sapi yang jelas, pengembangan kawasan peternakan, aturan dan larangan, pemotongan ternak, dan selanjutnya perdagangan antar Kabupaten. Prisma juga menyebutkan Kabupaten Bener Meriah boleh bangga dengan luasnya areal peternakan yang di miliki. Seperti di kawasan belang rakal seluas 340 hektar. Sementara di Uber Uber dan Blang paku mencapai 4116 hektar.

Selanjutnya Kedepan harus ada integrasi antara sapi dan kopi minsalnya limbah kopi untuk pakan ternak, sedangkan kotoran sapi untuk pupuk organik kopi. Selanjutnya adanya lamtoro sebagai pakan ternak. Dengan demikian peternak dan pemerintah daerah tinggal memikirkan opportunities atau peluang dan tersedianya pasar pakan sapi di daerah peternakan.pungkasnya.(DN).

News Feed