oleh

Didongku Budayaku

 

Penulis : Tawarati

Mahasiswa Prodi PAI IAIN Langsa

BARANEWS ACEH | Suku Gayo adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah Wilayah tradisional suku Gayo meliputi kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues. Selain itu suku Gayo juga mendiami sebagian wilayah di Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur.

Didong ialah sebuah kesenian rakyat gayo yang memadukan unsur tari, vokal, satra dan agama. Didong dimulai sejak zaman Raja Linge XII. Salah seorang seniman yang peduli pada kesenian ini adalah Abdul Kadir To`et. Abdul Kadir To’et, atau yang lebih akrab dipanggil dengan nama To’et (lahir di Kemili, 1921 – meninggal di Win Nareh, 25 Mei 2015 pada umur 84 tahun) adalah seorang seniman didong, kesenian rakyat Gayo, Aceh yang memadukan unsur tari, vokal dan sastra. To’et adalah penerima anugerah Bintang Jasa Nararya dari Presiden RI pada tahun 2010.

To’et dilahirkan di dengan nama asli Abdul Kadir To’et Bin Angong. Nama To’et melekat padanya karena sebuah syair yang didendangkannya berjudul Ret Ret Tum. Tidak hanya dikenal sebagai penyair Aceh yang bersuara merdu, ia pun konsisten melestarikan seni didong, yang merupakan varian dari bentuk nyanyian rakyat. Dalam didong, unsur nyanyian dan lirik (puisi) sama-sama pentingnya di samping adanya unsur tarian.

 

Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon, Bener Meriah dan daerah-daerah lain yang didiami oleh masyarakat gayo seperti Aceh Timur, Aceh Taminag dan Aceh Tenggara.

Menurut Samin Alamanoga selaku Geuchik Arul Pinang didong ialah sebuah kesenian yang mana di dalamnya ada unsur nyayian, biasanya syair  didong bisa berupa sejarah perjuangan dan sunah-sunah Rasul yang ada di muka bumi ini.

Satu kelompok kesenian didong biasanya terdiri dari para “ceh” dan anggota lainnya yang disebut dengan “penunung” (sporter). Jumlahnya dapat mencapai 30 orang atau lebih, yang terdiri atas 4-5 orang  dan sisanya adalah penunung. Ceh adalah orang yang dituntut memiliki bakat yang komplet dan mempunyai kreativitas yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan puisi-puisi dan mampu menyanyi. Penguasaan terhadap lagu-lagu juga diperlukan karena satu lagu belum tentu cocok dengan karya sastra yang berbeda. Anggota kelompok didong ini umumnya adalah laki-laki dewasa. Namun, sekarang ini ada juga yang anggotanya perempuan-perempuan dewasa. Selain itu, ada juga kelompok remaja dan anak-anak. Peralatan yang dipergunakan pada mulanya bantal (tepukan bantal) dan tangan (tepukan tangan dari para pemainnya). Namun, dalam perkembangan selanjutnya ada juga yang menggunakan seruling, harmonika, dan alat musik lainnya yang disisipi dengan gerak pengiring yang relatif sederhana, yaitu menggerakkan badan ke depan atau ke samping.

 

Pada mulanya didong digunakan sebagai sarana bagi penyebaran agama islam melalui media syair. Para ceh didong (seniman didong) tidak semata-mata menyampaikan tutur kepada penonton yang dibalut dengan nilai-nilai estetika, melainkan di dalamnya bertujuan agar masyarakat pendengarnya dapat memaknai hidup sesuai dengan realitas akan kehidupan para Nabi dan tokoh yang sesuai dengan Islam. Dalam didong ada nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan dan lain sebagainya.

Jadi, dalam ber-didong para ceh tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga bersyair, memiliki suara yang merdu serta berperilaku baik. Pendek kata, seorang ceh adalah seorang seniman sejati yang memiliki kelebihan di segala aspek yang berkaitan dengan fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam. Didong ketikaitu selalu dipentaskan pada hari-hari besar Agama Islam.

Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam, melainkan juga dalam upacara-upacara adat seperti sinte mungerje (pernikahan), njelisen (khitanan),mari berume (ketika panen besar), penyambutan tamu dan nirin geuchik (pemandian geucik ) dan sebagainya. Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara pernikahan misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan adat pernikahan. Dengan demikian, seorang pe-didong harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat pernikahan. Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan kesenian didong dan agama.

Penampilan didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke Indonesia. Sikap pemerintah Jepang yang keras telah “memporak-porandakan” bentuk kesenian ini. Pada masa itu, didong digunakan sebagai sarana hiburan bagi tentara Jepang yang menduduki tanah Gayo. Hal ini memberikan inspirasi bagi masyarakat Gayo untuk mengembangkan didong yang syairnya tidak hanya terpaku kepada hal-hal religius dan adat-istiadat, tetapi juga permasalahan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang. Pada masa setelah proklamasi, seni pertunjukan didong dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah dalam menjembatani informasi hingga ke desa-desa khususnya dalam menjelaskan tentang Pancasila, UUD 1945 dan semangat bela negara. Selain itu, didong juga digunakan untuk mengembangkan semangat untuk bergotong-royongan, khususnya untuk mencari dana guna membangun gedung sekolah, madrasah, masjid, bahkan juga pembangunan jembatan. Namun, pada periode 1950-an ketika terjadi pergolakan DI/TII kesenian didong terhenti karena dilarang oleh DI/TII. Akibat dilarangnya didong, maka muncul suatu kesenian baru yang disebut saer (bersyair), yang bentuknya hampir mirip dengan didong. Perbedaan didong dengan saer hanya dalam bentuk unsur gerak dan tari. Tepukan tangan yang merupakan unsur penting dalam didong tidak ada dalam saer.

Sekarang ini didong muncul kembali dengan lirik-lirik yang hampir sama ketika zaman Jepang, yaitu berupa protes (anti kekerasan). Bedanya, sekarang ini protesnya ditujukan kepada pemerintah. Protes anti kekerasan sebenarnya bukan hanya terjadi pada kesenian didong, melainkan juga pada bentuk-bentuk kesenian lain yang ada di Aceh seperti pada kesenian tari saman, bines dan lainnya.

Para ceh yang turut berjasa mengembangkan dan melestarikan didong di daerah Gayo ‘diantaranya adalah: Ceh Tjuh Ucak, Basir Lakkiki Abd. Rauf, Ecek Bahim, Sali Gobal, Daman, Idris Sidang Temas, Sebi, Utih SrasahCeh Ucak, , Abu Kasim, Syeh Midin, M. Din, Abu Bakar Gayo, Ishak Ali / Ceh Sahaq, Aris Teruna Jaya, Biak cacak, Tirmino Jaya, Mahlil Lewa, Dan Ceh kucak Kabri Wali,Arita mude, Gumara dan Aman Jul Yang Begitu Dikenal Dikalangan Masyarakat Gayo.

Pementasan didong ditandai dengan penampilan dua kelompok (Didong Jalu) pada suatu arena pertandingan. Biasanya dipentaskan di tempat terbuka yang kadang-kadang dilengkapi dengan tenda. Semalam suntuk kelompok yang bertanding akan saling mendendangkan teka-teki dan menjawabnya secara bergiliran. Dalam hal ini para senimannya akan saling membalas “serangan” berupa lirik yang dilontarkan olah lawannya. Lirik-lirik yang disampaikan biasanya bertema tentang pendidikan, kekeluargaan, pesan pemerintah (pada zaman Orba), keindahan alam maupun kritik-kritik mengenai kelemahan, kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Benar atau tidaknya jawaban akan dinilai oleh tim juri yang ada, yang biasanya terdiri dari anggota masyarakat yang memahami ddidong ini secara mendalam.

Contoh Syair didong jalu

“Ini aman jul si male menghibur

Si kunul teratur

Enti renye lale eee…eee

So awan-awan si nge mu ngale i gunur

Karena tuan takur ralan e mu sare eee…eee

Cara ni berseni,,, gere nguk takabur

I sedien kunyur si tejem mata e

So mana awan-awan gere ilen pen bertempur

Ngek i wan ni kasur namur ni waih batere

So ceh tue ngek naru delah eee…eee

Suling ni awan olok pedi merdu

Ngek lagu mentalu lentayon i penge

Ngek sampek berdegung anak SMA 1

Rupen selop ni bu guru awan o muyangkanne

So suling ni awan nge pelin ni kuyu

Oya kati bau i ujung ni uluh e

Ngek kolak to luang so suling paya pelu

Turah bibir ni lemu bun ken peniup e

Suling oya aaa ngek dele korban eee…eee

Gere ben lahir aku ku dunie

42 umur ku was ni KTP eee

Turun mani nawan urum arite mude gelih munyul tue

Oya ken kikah e

Ngek salah cerak so mana biang tue

Male emah e gerne ken tubuh diri e

Carong ilen becerak umur ngek 73

Ngek mu mamok ijo i ujung ke miring e”

Nah, didong adalah sebuah kebudayaan masyarakat gayo, yang mana di dalam syair didong terdapat banyak hal yang penting, berupa sunah- sunah Rasul, tata kerama, keritikan dan lainnya. Lestarikan budaya kita agar tidak punah di telan masa karena kebudayaan itu sangat penting.

News Feed