oleh

Dibanding Kayunya, Potensi Ekonomi Getah Pinus Lebih Besar

BP2LHK Aek Nauli (Aek Nauli, Juni 2019)_Pinus (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) merupakan pohon penghasil getah yang sangat potensial sebagai penghasil rupiah. Dibanding kayunya, hasil getahnya mempunyai potensi ekonomi yang lebih besar.

Hal ini disampaikan Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Dr. Ahmad Dany Sunandar, S.Hut, M.Si di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. Menurutnya, jika luas hutan pinus yang disadap mencapai 1 juta hektar maka potensi ekonomi dari getah bisa mencapai 24 – 66 trilyun per tahun dan terpenting mencapai 4,2 – 12,2 trilyun per tahun.

“Tentu ini angka yang sangat besar yang dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan perekonomian mulai dari penyadap, pengumpul, pedagang getah, pengolah dan pemerintah daerah hingga pusat melalui pembayaran provisi/iuran perdagangan getah,” kata Dany.

Hitung-hitungan ini diperoleh dari asumsi bahwa jika dalam satu hektar terdapat 300 – 600 pohon pinus maka potensi getah yang dihasilkan adalah antara 1.680 – 4.880 kg per hektar per tahun. Hasil pengolahan getah secara umum akan menghasilkan gondorukem, terpentin dan kotoran dengan persentase masing-masing 65%, 25% dan 10% sehingga gondorukem yang dapat dihasilkan dari satu hektar adalah antara 1.092 – 3.172 kg per tahun dan terpentin antara 420 – 1.220 kg per tahun.

“Jika harga jual getah sekitar Rp 5.000 per kg maka nilai ekonomi getah adalah Rp 8.400.000 – 24.400.000 per hektar per tahun. Jika harga jual gondorukem adalah US$ 1.500 per ton maka nilai jual gondorukem antara US$ 1.638 – 4.758 per hektar per tahun atau Rp. 24.570.000 – 66.612.000 dengan kurs Rp 14.000/US$. Sedangkan untuk terpentin jika harganya Rp 10.000 per kg maka nilai ekonominya Rp 4,2 – 12,2 juta per hektar per tahun,” jelas Dany.

Untuk mengetahui potensi ekonomi dari getah maka ada beberapa asumsi mengenai produktivitas pohon dalam menghasilkan getah, harga getah dan juga harga produk olahan getah. Saat ini untuk menghasilkan getah, metode penyadapan yang banyak digunakan adalah metode “Quarre/Koakan” dan produksi getah antara 13 – 19 gram per koakan per 3 hari. Dalam satu pohon jumlah maksimal koakan adalah empat buah maka produksi getah per pohon adalah 42 – 76 gram per pohon per 3 hari. Jika dalam satu tahun pengusahaan getah dilakukan selama 330 hari kerja maka potensi getah per pohon per tahun adalah 4,2 – 6,4 kg.

Tentu saja, untuk mengoptimalkan hasil panen, petani harus membekali diri dengan pengetahuan tentang penyadapan getah pinus. Hal ini penting agar penyadap getah tidak melupakan aspek kelestarian hasil demi mengejar kuantitas produksi.

Seperti diketahui, getah dari pohon pinus diolah menjadi terpentin (cairan) dan gondorukem (padatan). Terpentin dimanfaatkan untuk bahan baku industri kosmetik, minyak cat, campuran bahan pelarut, antiseptik, kamper dan farmasi, terutama sebagai pengencer dalam industri cat. Gondorukem dimanfaatkan di berbagai industri antara lain industri kertas, keramik, plastik, cat, batik, sabun, farmasi dan kosmetik. Perhutani,  2011 menyebutkan delapan puluh persen produksi gondorukem dan terpentin dialokasikan untuk kebutuhan eksport ke Eropa, India, Korea Selatan, Jepang dan Amerika.

Sedangkan jika diambil kayunya, menurut Dany, harganya tidak terlalu tinggi, berkisar Rp. 1.000.000 – 1.200.000 per meter kubik. Jika kisaran diameter pohon yang diambil untuk kayu sekitar 35 – 60 cm dengan panjang sortimen antara 20 – 25 meter dan jumlah pohon sekitar 400 batang per hektar maka potensi rupiahnya adalah Rp 1,1 – 3,1 milyar per hektar.

“Nilai ini cukup besar namun yang harus diingat adalah waktu untuk mencapai nilai ini yang tidak singkat antara 50 – 60 tahun sehingga nilainya per tahun adalah sekitar 22 – 62 juta per hektar per tahun,” kata Dany.

Dany juga menjelaskan, di Sumatera Utara, produksi kayu pinus sudah semakin menurun. Berdasarkan data BPS Sumatera Utara, produksi log pinus tahun 2015 – 2017 tercatat berturut-turut sebagai berikut: 225.234 m3, 40.825 m3 dan 15.078 m3. Penurunan ini secara langsung dapat mengambarkan semakin menurunnya luas hutan pinus yang dapat mengancam kelestarian produksi getah pinus.

“Agar potensi ekonomi getah ini dapat lebih berkembang, seyogyanya dapat dipikirkan sumber kayu yang lain sebagai pengganti pinus sehingga penebangan kayu pinus dapat dikonversi menjadi pemanenan getahnya,” pungkas Dany.*** (Humas KLH)

Komentar

News Feed