oleh

Dampak Negatif Pembelajaran Daring Di Daerah Terpecil: Desa Alue Sentang Kec. Birem Bayeun Kab. Aceh Timur

Foto: Agung Pambudhy

Penulis : Reni Eranita, Mahasiswi IAIN Langsa

ACEH TIMUR, BARANEWS ACEH | Seluruh dunia saat ini sedang mengalami fenomena yang sangat berbahaya. yaitu munculnya sebuah virus mematikan yang bernama covid-19 . Sehingga banyak negara-negara yang menerapkan sistem Lockdown. Lockdown sendiri adalah larangan mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak orang, penutupan sekolah dan universitas, hingga tempat-tempat umum. Usaha ini dilakukan untuk menekan risiko penularan virus corona pada masyarakat di luar wilayah lockdown.virus ini pertama kali ditemukan di pasar Wuhan, Tiongkok. yang akhirnya tersebar secara cepat keseluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Di indonesia sekarang sudah ada ribuan kasus positif corona dan kasus orang meninggal dunia. Pemerintah Indonesia sendiri sepakat untuk melakukan PSBB (Pembatasan Skala Besar-Besaran) untuk mengurangi penyebaran virus.Dengan adanya PSBB, diharapkan dapat memutus penyebaran virus corona di Indonesia. Akibat dari dampak Virus Corona ini,dunia pendidikan pun ikut terpengaruh. Sehingga pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia telah menganjurkan penyelenggaraan pendidikan jarak jauh (secara online),dengan tujuan mencegah meluasnya covid-19 ini.

Namun pembelajaran secara daring (online) ini tidak bisa dilaksanakan secara baik karena banyaknya kendala yang dialami oleh masing-masing daerah, terutama daerah terpencil. kendalanya seperti sebagai berikut:

  1. Signal/jaringan internet yang tidak bagus

Seperti yang kita tahu bahwa, pemerataan internet di Indonesia belum lah merata, dimana di daerah perkotaan lebih dominan daripada di daerah pedesaan. oleh karena itu, banyak wilayah terpencil atau pedesaan yang kesulitan dalam pembelajaran online. Karena jaringan internet yang susah untuk dijangkau, akibatnya untuk melakukan pembelajaran online seperti video call tidak dapat dilakukan secara maksimal. Desa Alue Sentang merupakan salah satu daerah terpencil yang ada di provinsi Aceh, tepatnya di Kabupaten Aceh timur Kecamatan Birem Bayeun. Berkat adanya tiang tower telkomsel signal sudah tidak ada lagi masalah tetapi apabila listrik padam secara otomatis tower pun mati dan tentu saja signal juga akan hilang.

  1. Para siswa yang belum mengerti menggunakan teknologi

Gaptek (Gagap Teknologi) merupakan masalah yang dialami oleh masyarakat yang ada di pedesaan,alasan utamanya karena ketertinggalan informasi dan pengetahuan tentang teknologi digital saat ini.oleh karena itu, program pembelajaran daring ini, agak memberatkan siswa yang belum mengerti menggunakan teknologi digital, bukan hanya siswa saja yang mengalami kendala, bahkan seorang gurupun ada yang tidak mengerti teknologi dan tidak tahu bagaimana cara menggunakan aplikasi zoom, google classroom, video call whats app,dsb.karena sudah terbiasa mengajar para siswanya menggunakan buku paket mata pelajaran. oleh karena itu, cara terbaiknya guru yang paham dengan teknologi mengajarkan terlebih dahulu muridnya bagaimana cara menggunakan aplikasi-aplikasi pembelajaran online agar para siswa mengerti dan dapat melakukan pembelajaran online secara baik.

 

  1. Siswa yang tidak mempunyai handphone karena keterbatasan ekonomi

Di zaman ini,rasanya handphone merupakan barang yang wajib  dibutuhkan oleh semua orang untuk mengakses segala informasi yang ada di dunia dan dapat menghubungkan antar satu orang ke orang lain. Akan tetapi, bagaimana dengan orang-orang yang tidak mampu membelinya?, Dengan munculnya covid-19 ini, mau tidak mau mereka pun harus mengikuti pembelajaran online tersebut,mereka pasti sangat kesusahan untuk menyesuaikan.

  1. Kurangnya fasilitas yang memadai dalam proses pembelajaran online

Kurangnya fasilitas juga menjadi hambatan dalam suksesnya suatu pembelajaran online. sehingga banyak yang lebih memilih grup WA sebagai media pembelajaran. cara pembelajarannya pun cukup mudah yaitu memberikan materi pelajaran, tugas-tugas tambahan serta latihan soal di grup Whatsapp setiap masing-masing kelas, yang dapat diakses oleh siswa di hp/laptop mereka masing-masing.Walaupun beberapa kendala yang telah disebutkan di atas namun tidak mematahkan semangat para pendidik untuk tetap menerapkan metode pembelajaran daring yang terjadi demi mensukseskan pendidikan akibat virus covid-19.

 

Beberapa langkah yang dapat diambil oleh Indonesia untuk mengurangi dampak COVID-19 terhadap pembelajaran daring di daerah terrpencil adalah:

  1. Mengembangkan lebih banyak solusi untuk menjangkau siswa yang tidak memiliki internet

Menyediakan dan memberikan berbagai bentuk pendekatan pendukung pembelajaran, baik itu tanpa teknologi, berteknologi rendah, maupun yang berteknologi tinggi. Meskipun program TV pendidikan Kemendikbud telah dijadikan sumber utama, akan tetapi masih diperlukan juga dukungan secara lebih langsung. Di banyak daerah yang tidak memiliki koneksi internet, guru sudah melakukan kunjungan ke rumah siswa. Di manapun kunjungan semacam ini dapat dilakukan, maka pemerintah sebaiknya  memberikan panduan tentang bagaimana melaksanakannya dengan aman dan menjelaskan bahwa dana BOS dapat digunakan untuk membayar transportasi guru.

 

  1. Meningkatkan konektivitas internet dan melatih para guru untuk memberikan pembelajaran daring secara lebih efektif dan interaktif

Sebagian besar guru dan siswa tidak siap untuk berpindah ke pembelajaran secara daring yang terjadi secara tiba-tiba. Menurut Survei Cepat Kemendikbud tentang belajar dari rumah (27 April), guru mengidentifikasi tantangan utama mereka pada konektivitas jaringan internet dan dalam memantau kemajuan siswa. Saat ini Indonesia dapat mendukung pembelajaran dan meningkatkan ketahanan sistem melalui investasi pada kapasitas belajar-mengajar secara daring, penyimpanan data, dan infrastruktur tahan bencana. Sebagai contoh, setiap kecamatan memiliki sekolah yang dilengkapi dengan laptop / telepon pintar, internet, listrik, fasilitas air dan sanitasi, serta perpustakaan dengan bahan ajar cetak untuk kegiatan belajar secara mandiri.

 

  1. Mengidentifikasi dan mendukung mereka yang tertinggal dengan metode pengajaran yang berbeda

Ketika sekolah dibuka kembali, berbagai upaya sebaiknya dilakukan untuk mengidentifikasi kesenjangan belajar para siswa, memberikan dukungan tambahan kepada siswa yang pembelajarannya paling terdampak secara negatif, dan membedakan metode pengajaran berdasarkan tingkat pembelajaran mereka. Baru-baru ini Kemendikbud mengumumkan akan menyelenggarakan penilaian untuk melakukan pembedaan metode pengajaran (detil mengenai pelaksanaannya akan menyusul). Pengembangan kapasitas profesional para guru yang berfokus pada metode pembelajaran yang berbeda-beda disarankan untuk menjadi bagian dari upaya ini. Penilaian formatif dan pengelompokan berbasis kemampuan ini dapat menjadi bagian permanen dari upaya peningkatan praktik pengajaran pasca Covid-19.

 

  1. Mendukung siswa yang kurang beruntung untuk kembali ke sekolah

Pemerintah, baik di tingkat nasional maupun daerah, mengambil langkah-langkah tambahan untuk memastikan bahwa mereka yang paling rentan putus sekolah, seperti siswa dari keluarga yang kurang mampu dan anak-anak yang lebih tua yang membantu pendapatan rumah tangga, dapat tetap terdaftar di sekolah. Langkah pertama bisa berupa komunikasi dan sosialisasi yang jelas seputar pembukaan kembali sekolah, dengan penjangkauan khusus termasuk kunjungan rumah kepada mereka yang paling berisiko.

 

News Feed