oleh

Covid-19 Kembali Meninggi, Situasi Semakin Tak Terkendali

 

Oleh : Annisa Putri (Mahasiswi)

Sudah satu tahun lebih pandemi Covid-19 melanda berbagai negeri. Di tanah air sendiri, pertambahan kasus baru Covid-19 terus menanjak dan terus memecahkan rekor. Pada Senin (21/6/2021) tercatat tambahan kasus sebanyak 14.536 kasus. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kasus baru ini membawa total konfirmasi positif di Indonesia hampir menembus 2 juta orang dari awal masuknya tahun lalu. (Kompas.com)

Selain melonjaknya kasus Covid-19, berbagai fasilitas kesehatan pun kian menipis. Dari rumah sakit yang hampir penuh, tabung oksigen, serta tempat tidur yang terbatas. “Ini sungguh tidak menyenangkan bagi petugas kesehatan dan juga dokter, apalagi keluarga yang melihat keluarganya sudah sangat sesak, tapi tak diberikan oksigen. Kondisi itu sudah terjadi di beberapa rumah sakit,” ujar Ketua Pokja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Erlina Burhan, Jumat 18 Juni 2021 lalu.

Selanjutnya, tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occopancy Ratio (BOR) di banyak rumah sakit sudah melebihi ambang batas yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni sebesar 60 persen. Berdasarkan data Yankes Kemenkes per 19 Juni 2021, Provinsi DKI Jakarta dan Jabar sudah menunjukkan angka BOR yang merah, yaitu lebih dari 80 persen. Disebutkan DKI mencatat angka BOR 84 persen sedangkan Jabar 81 persen. (Liputan6.com)

Situasi Semakin Tak Terkendali

Melihat berbagai fakta memilukan diatas, hendaknya membuat kita bertanya mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa pandemic yang hampir dua tahun membersamai belum mampu teratasi?dan juga mengevaluasi kebijakan serta solusi yang sudah diberikan penguasa apakah efektif menghentikan laju pandemi. Ternyata belum. Situasi wabah yang makin tak terkendali ini pun menunjukkan sistem kesehatan yang diterapkan oleh kepemimpinan kapitalistik hari ini gagal total.

Adapun, ketidakpatuhan masyarakat terhadap Protokol Kesehatan (prokes) yang sering dijadikan dalih sebagai sebab melonjaknya kasus Covid-19, sejatinya dalam waktu yang sama menunjukkan kerapuhan negara dalam mengurusi urusan rakyat, sekaligus menunjukkan pula hilangnya wibawa kepemimpinan mereka di mata rakyat. Sebab sudah mulai bosan dengan situasi dan juga terkondisikan dengan longgarnya aturan-aturan yang ada.

Jika kita lihat, ternyata memang ada kekeliruan sedari awal. Sejak munculnya kasus pertama di Indonesia tidak segera mengambil langkah yang tegas, pun tidak bergerak secara sigap menghentikan laju penyebarannya. Alhasil hingga hari ini virus Covid-19 tersebar luas hampir ke seluruh wilayah negeri tak terkendali.

Belum lagi, melihat kebijakan mencla-mencle yang diberikan selama pandemi. Mulai dari bantuan dana yang dikorupsi dan dikontribusikannya tak merata, dilarang berkerumun namun tempat wisata dibuka, berbagai acara para tokoh yang menyebabkan kerumunan tetap dilaksanakan, dan hal lainnya yang terlihat memang tak serius dalam menuntaskan pademi ini, bahkan justru dominan menjadikan pertimbangan ekonomi dalam mensikapi wabah.

Bagaimana tidak, di tengah kesulitan yang melanda rakyat hari ini, ada saja oknum yang tetap meraup keuntungan. Seperti alat kesehatan yang menjadi lahan bisnis korporasi, hingga vaksin pun menjadi komoditas pengusaha, bahkan ada pula yang kesusahan berobat disebabkan tak punya biaya ke rumah sakit. Dan lagi-lagi rakyat yang menjadi korbannya. Inilah potret buruk sistem kapitalisme hari ini, hanya memikirkan materi dan materi tidak melihat situasi dan kondisi.

Maka dengan melihat kesemua ini, hendaknya menyadarkan kita bahwa Kapitalisme tidak mampu mengatasi pandemic bahkan di negara adidaya sekalipun. Terbukti hingga detik ini, manusia belum bebas beraktivitas masih terkekang dengan virus kecil Covid-19. Oleh Karena itu, hendaknya kita berhenti dan tidak lagi berharap pada sistem Kapitalisme yang berkuasa pada hari ini, dan mencari suatu hal lain yang dapat menyelasaikan permasalahan dengan tuntas.

Islam Sebagai Solusi

Dalam paradigma Islam, negara adalah khodim al ummah. Yakni pelayannya umat, mengurusi kepentingan dan kemaslahatan umat. Negara bertugas memberi jaminan dan pelayanan, menjamin penghidupan, kesejahteraan, keamanan, serta kebutuhan dasar rakyat. Dalam sistem Islam, akan mengatasi permasalahan dari akarnya, sehingga mampu menyelesaikan masalah dengan tuntas.

Islam memiliki sistem yang komperhensif untuk mengatur kehidupan manusia, tak terkecuali perihal Kesehatan. Dalam Islam, kesehatan merupakan kebutuhan pokok yang akan dipenuhi negara secara Cuma-Cuma untuk masyarakat. Adapun ketika terjadi wabah, Islam sudah memiliki cara mengatasinya. Hal ini sebagaimana seperti yang disampaikan Rasulullah Saw. kala wilayah Syam dilanda wabah. Rasulullah saw. bersabda, “Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Dalam hadist tersebut, jelas langkah pertama yakni pengkuncian wilayah bagi yang terkena wabah. memisahkan antara yang sakit dan yang sehat. Hal ini diterapkan oleh khalifah Umar bin Khattab yang terbukti mampu mengatasi wabah dengan tepat dan cepat. Tentu dalam kondisi ini, negara memberikan segala fasilitas terbaik dari petugas tim medis, alat-alat kesehatan, obat-obatan, tempat tinggal sementara dan lainnya yang menunjang kesembuhan rakyat yang sakit. Dan tak lupa kholifah (pemimpin dalam negara Islam) juga akan mengingatkan untuk bersabar atas apa yang menimpa mereka. Sehingga keadaan mereka tetap berada pada ketaatan kepada Allah.

Sedangkan orang-orang yang sehat dapat beraktivitas seperti biasanya, tanpa ada rasa takut dan khawatir akan terkena wabah, sebab orang-orang yang terpapar sudah dikarantina dengan baik dan benar. Maka, demikian sedikit gambaran luarbiasanya Islam dalam memandang kesehatan. Tentu hal ini tidak berjalan sendiri, melainkan dibarengi pula dengan sistem politik dan pemerintahan yang juga berlandaskan syariah Islam.

Musibah wabah Covid 19 yang melanda dunia hari ini, mengingatkan kaum muslimin akan bencana akibat perbuatan orang-orang dzalim, namun musibah ini menimpa bukan hanya orang-orang yang bermaksiat, malainkan secara keseluruhan akibat kaum muslimin yang berdiam diri. Sebagaimana Firman Allah Swt :
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” QS.Al-Anfal :125.

Dengan demikian kaum muslimin tidak boleh berdiam diri agar terhindar dari fitnah (Bencana dan Musibah) dengan senantiasa ber amar makruf nahi munkar, dengan menyeru penerapan syariat Islam secara keseluruhan dalam lini kehidupan dan terus mengokohkan keimanan akan kebenaran dan kesempurnaan sistem Islam, termasuk pengaturan soal kesehatan. Wallahu alam Bisshawab.

News Feed